Headline
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Penghapusan tunggakan iuran perlu direalisasikan lebih dahulu sambil menimbang kondisi ekonomi.
Kumpulan Berita DPR RI
NYAMUK, serangga kecil yang sering mengganggu kenyamanan, ternyata memiliki preferensi khusus dalam memilih target gigitannya. Penelitian ilmiah terus mengungkap berbagai faktor yang memengaruhi daya tarik seseorang bagi nyamuk, menjadikan fenomena ini semakin menarik untuk dipelajari.
Salah satu faktor utama yang sering dibahas adalah golongan darah. Studi menunjukkan bahwa individu dengan golongan darah O lebih sering menjadi sasaran gigitan nyamuk dibandingkan golongan darah lainnya.
Hal ini disebabkan oleh zat kimia tertentu yang dikeluarkan oleh orang dengan golongan darah O, yang terdeteksi oleh reseptor penciuman nyamuk.
Tak hanya golongan darah, komunitas bakteri yang hidup di kulit seseorang juga memegang peranan penting. Kombinasi unik dari bakteri ini menghasilkan senyawa kimia yang bisa menarik atau justru mengusir nyamuk.
Itulah sebabnya beberapa orang tampaknya lebih sering digigit dibanding yang lain, meskipun berada di lingkungan yang sama.
Nyamuk memiliki kepekaan tinggi terhadap karbon dioksida (CO2) yang dihembuskan manusia. Orang dengan ukuran tubuh lebih besar atau wanita hamil cenderung mengeluarkan lebih banyak CO2, sehingga lebih mudah ditemukan oleh nyamuk.
Selain itu, aktivitas fisik seperti berolahraga juga meningkatkan produksi CO2 dan panas tubuh, menjadikan seseorang lebih menarik bagi serangga penghisap darah ini.
Kandungan asam laktat, asam urat, dan amonia dalam keringat juga berperan dalam menarik nyamuk. Selain itu, pola makan seseorang bisa mempengaruhi aroma tubuhnya, yang pada gilirannya dapat menarik perhatian nyamuk lebih banyak.
Nyamuk tertarik pada sumber panas, sehingga orang yang memiliki suhu tubuh lebih tinggi—misalnya karena sedang demam atau berolahraga—lebih rentan digigit. Warna pakaian juga menjadi faktor penting; nyamuk lebih tertarik pada warna gelap seperti hitam dan biru tua dibandingkan warna cerah.
Mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan suhu tubuh dan mengubah aroma tubuh seseorang, yang membuatnya lebih menarik bagi nyamuk. Faktor genetik juga berperan dalam menentukan seberapa menarik seseorang bagi serangga ini, karena beberapa orang secara alami menghasilkan senyawa kimia yang lebih menarik bagi nyamuk.
Mengetahui faktor-faktor yang membuat seseorang lebih disukai nyamuk dapat membantu dalam mengambil langkah pencegahan. Beberapa cara yang efektif antara lain:
Menggunakan losion atau semprotan anti nyamuk.
Mengenakan pakaian berwarna cerah dan berlengan panjang.
Menghindari aktivitas luar ruangan saat nyamuk paling aktif, terutama di pagi dan sore hari.
Menghilangkan genangan air di sekitar rumah untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk.
Dengan memahami pola dan preferensi nyamuk, kita bisa lebih waspada dan mengurangi risiko gigitan yang tidak hanya mengganggu, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai penyakit. (Halodoc/Z-10)
SERANGAN nyamuk di sejumlah lokasi pengungsian pascabencana di Kabupaten Aceh Tamiang menjadi perhatian serius. Kemenkes memastikan kondisi tersebut Kejadian Luar Biasa (KLB).
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Mungkin Anda pernah melihat ada nyamuk yang hanya mengincar orang tertentu. Misalnya dalam satu ruangan, ada orang yang diserang habis-habisan oleh nyamuk, sedangkan yang lain tidak.
golongan darah juga dapat memengaruhi risiko seseorang terkena diabetes tipe 2.
Golongan darah selama ini dikenal hanya menentukan kecocokan transfusi. Namun riset terbaru mengungkap fakta ternyata berkaitan langsung dengan risiko penyakit kronis.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Orang golongan darah O cenderung bisa mengalami kondisi yang lebih parah saat terkena kolera, sementara mereka dengan golongan darah A atau B lebih rentan mengalami gangguan pembekuan darah.
Selama ini golongan darah sering dianggap sekadar informasi dasar di rekam medis, berguna ketika seseorang hendak menjalani tes darah atau operasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved