Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Orang dengan Golongan Darah A Berisiko Tinggi Kena Penyakit Liver

Atalya Puspa    
25/11/2025 12:22
Orang dengan Golongan Darah A Berisiko Tinggi Kena Penyakit Liver
Ilustrasi(Antara)

Selama ini golongan darah sering dianggap sekadar informasi dasar di rekam medis, berguna ketika seseorang hendak menjalani tes darah atau operasi. Namun sebuah studi baru yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers menunjukkan bahwa golongan darah bisa memberi petunjuk lebih jauh, terutama mengenai kesehatan hati seseorang.

Penelitian tersebut menemukan bahwa individu dengan golongan darah A memiliki peluang lebih tinggi mengalami penyakit hati autoimun, kondisi ketika sistem kekebalan tubuh salah mengenali jaringan hati sebagai ancaman dan menyerangnya. Serangan ini menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jangka panjang. Sebaliknya, orang dengan golongan darah B menunjukkan risiko yang lebih rendah, terutama terhadap primary biliary cholangitis (PBC), salah satu penyakit autoimun hati yang dapat berujung pada gagal hati.

Penyakit hati autoimun berbeda dari gangguan hati akibat alkohol atau gaya hidup. Dalam kondisi ini, sistem imun berjalan liar dan justru merusak organ sendiri. Pada autoimun hepatitis, sel hati menjadi sasaran utama. Sedangkan pada PBC, yang diserang adalah saluran empedu sehingga empedu menumpuk, memicu jaringan parut, dan berpotensi menyebabkan sirosis atau kegagalan hati.

Golongan darah ditentukan oleh penanda A, B, atau H pada sel darah merah, membentuk kelompok utama A, B, AB, dan O dengan variasi positif atau negatif. Studi tersebut menganalisis lebih dari 1.200 peserta, termasuk 114 pasien dengan penyakit hati autoimun. Para peneliti menemukan bahwa golongan darah A adalah yang paling sering ditemukan pada pasien, disusul O, kemudian B, dan AB.

Para ahli menekankan bahwa memiliki golongan darah A bukan berarti seseorang pasti akan mengembangkan penyakit hati autoimun. Namun kewaspadaan menjadi penting, terutama bila muncul gejala seperti kelelahan berlebihan atau nyeri sendi. Pemeriksaan rutin, diagnosis dini, dan pemantauan berkala sangat disarankan bagi mereka dengan risiko lebih tinggi.

Bagi pasien PBC, konsumsi alkohol perlu dihindari karena mempercepat kerusakan hati. Mayo Clinic merekomendasikan pola makan rendah sodium untuk mengurangi penumpukan cairan di perut atau asites. Laporan TOI juga menekankan pentingnya diet seimbang yang terdiri dari biji-bijian utuh, buah, sayuran, kacang-kacangan, serta lemak tak jenuh seperti minyak zaitun, dan membatasi lemak jenuh.

Asupan kalsium dan vitamin D sangat dianjurkan karena pasien PBC memiliki risiko lebih tinggi mengalami pengeroposan tulang. Suplemen atau makanan kaya kalsium biasanya direkomendasikan dokter. Aktivitas fisik rutin membantu menjaga kesehatan tulang dan kebugaran secara keseluruhan, terutama bagi mereka dengan gangguan hati kronis. 

Kebiasaan merokok memperburuk kondisi hati, sehingga berhenti merokok menjadi langkah penting dalam pengelolaan penyakit. Pemantauan medis berkala melalui tes darah sangat diperlukan untuk menilai fungsi hati dan perkembangan penyakit. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya