Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
RISIKO diabetes tipe 2 selama ini diketahui berkaitan dengan sejumlah faktor seperti obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan riwayat keluarga. Namun, sebuah penelitian yang dilansir dari laman Medical News Today mengungkap bahwa golongan darah juga dapat memengaruhi risiko seseorang terkena diabetes tipe 2.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Pusat Riset Epidemiologi dan Kesehatan Populasi di Institut Gustave Roussy, Prancis. Studi mereka dipublikasikan dalam jurnal medis Diabetologia. Peneliti menganalisis data 82.104 perempuan yang tergabung dalam studi kohort E3N di Prancis, yang telah berlangsung sejak 1990. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.553 perempuan didiagnosis menderita diabetes tipe 2 dalam periode 1990 hingga 2008.
Hasil analisis menunjukkan adanya perbedaan risiko berdasarkan golongan darah. Dibandingkan dengan perempuan bergolongan darah O, mereka yang memiliki:
Ketika dikombinasikan dengan faktor Rhesus, hasilnya menjadi lebih spesifik. Perempuan dengan golongan darah B positif (B+) tercatat memiliki risiko 35% lebih tinggi terkena diabetes tipe 2 dibandingkan golongan darah O negatif (O-), yang dikenal sebagai donor universal karena tidak memiliki antigen A, B, maupun Rhesus.
Sementara itu, golongan AB+ memiliki risiko 26% lebih tinggi, A- sebesar 22% lebih tinggi, dan A+ sebesar 17% lebih tinggi dibandingkan O-. Adapun beberapa golongan lain seperti O-, B-, dan AB- tidak menunjukkan hasil yang signifikan secara statistik.
Menariknya, ketika diteliti secara terpisah, faktor Rhesus positif atau negatif saja tidak menunjukkan perbedaan risiko yang berarti.
Menurut pimpinan penelitian, Guy Fagherazzi, temuan ini memperkuat dugaan adanya hubungan kuat antara golongan darah dan risiko diabetes. Ia menyebut bahwa individu dengan golongan darah O tampaknya memiliki risiko lebih rendah mengalami diabetes tipe 2.
“Temuan kami mendukung adanya hubungan yang kuat antara golongan darah dan risiko diabetes, dengan peserta yang memiliki golongan darah O menunjukkan risiko lebih rendah untuk mengembangkan diabetes tipe 2,” ujar Guy Fagherazzi dikutip dari laman yang sama.
Meski demikian, para dirinya menekankan bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk memahami mekanisme biologis di balik hubungan ini. Salah satu dugaan adalah bahwa golongan darah berkaitan dengan molekul tertentu yang berperan dalam proses metabolisme dan regulasi gula darah.
“Karena itu, pengaruh golongan darah perlu diteliti dalam studi klinis dan epidemiologis di masa mendatang mengenai diabetes. Penelitian patofisiologis lanjutan juga diperlukan untuk mengetahui mengapa individu dengan golongan darah O memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2,” tambahnya.
Selain itu, penelitian lain juga menemukan bahwa golongan darah dapat memengaruhi komposisi bakteri usus, yang diketahui memiliki peran dalam perkembangan diabetes tipe 2.
Penulis studi lainnya, Françoise Clavel-Chapelon, mengakui bahwa penelitian ini hanya melibatkan perempuan. Namun, tidak ditemukan mekanisme biologis yang menunjukkan bahwa hasil tersebut hanya berlaku pada jenis kelamin tertentu.
Meski hasil penelitian ini cukup menarik, para ahli menegaskan bahwa golongan darah bukanlah faktor utama penyebab diabetes tipe 2. Penyakit ini tetap paling banyak dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang olahraga, serta kelebihan berat badan.
Diabetes tipe 2 sendiri merupakan bentuk diabetes yang paling umum terjadi. Kondisi ini muncul ketika tubuh tidak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga kadar gula darah meningkat.
Dengan demikian, meskipun golongan darah mungkin berperan dalam meningkatkan atau menurunkan risiko, menjaga pola hidup sehat tetap menjadi langkah paling penting dalam mencegah diabetes tipe 2.
(Medical News Today/H-4).
Golongan darah selama ini dikenal hanya menentukan kecocokan transfusi. Namun riset terbaru mengungkap fakta ternyata berkaitan langsung dengan risiko penyakit kronis.
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Orang golongan darah O cenderung bisa mengalami kondisi yang lebih parah saat terkena kolera, sementara mereka dengan golongan darah A atau B lebih rentan mengalami gangguan pembekuan darah.
Selama ini golongan darah sering dianggap sekadar informasi dasar di rekam medis, berguna ketika seseorang hendak menjalani tes darah atau operasi.
Penelitian terbaru terhadap 100.000 orang mengungkap konsumsi pengawet makanan olahan dapat meningkatkan risiko diabetes hingga 47%. Simak penjelasannya.
Waspadai penyakit berbahaya dari tikus, mulai dari leptospirosis hingga RBF. Kenali penularan, gejala, dan langkah pertolongan pertama setelah gigitan tikus
Gigitan tikus sering kali dianggap remeh, padahal bisa menimbulkan penyakit serius yang berpotensi mengancam nyawa.
MEMASUKI musim hujan, kondisi udara yang lebih dingin dan tingkat kelembapan yang meningkat membawa risiko baru bagi kesehatan masyarakat.
Meski memberi bonus satu jam tidur, perubahan jam daylight saving time terbukti bisa meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, dan gangguan suasana hati.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved