Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MOMEN Global Climate Change Week 2025 (GCCW2025) yang berlangsung setiap akhir Oktober menjadi pengingat pentingnya kontribusi semua pihak untuk menekan laju perubahan iklim. Di momen tersebut, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dan tim Direktorat Kesejahteraan Kampus Universitas Indonesia (DKK UI) melakukan edukasi tentang perubahan iklim, salah satunya dengan memperkenalkan flora dan fauna yang terdapat di danau Kenanga, UI, Depok.
Berdasarkan data monitoring flora dan fauna oleh DKK UI, jenis flora yang merupakan ciri khas di Danau Kenanga adalah Pohon Kenanga. Sedangkan, jenis fauna yang dapat dilihat dan diamati di sekitar Danau Kenanga antara lain burung dan ikan. Jenis burung yang dapat diamati antara lain Psilopogon haemacephalus, Hirundo tahitica, Collocalia linchi, Spilopelia chinensis, Passer montanus, Orthotomus sutorius, Anthreptes malacensis, Acridotheres javanicus, Dicaeum trochileum, Pycnonotus aurigaster, Aegithina tiphia, Pycnonotus goiavier.
Jenis ikan asli di Danau Kenanga antara lain Channa striata dan Oxyeleotris marmorata serta jenis ikan invasif antara lain Amphilophus labiatus dan Hypostomus plecostomus. Kesadaran semua pihak untuk menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan dari dampak perubahan iklim global harus terus ditingkatkan. Melalui Papan Edukasi Flora dan Fauna UI Kami memperkenalkan keanekaragaman hayati yang ada di Danau Kenanga UI dan mengajak semua pihak untuk menjaga kelestariannya.
Tim Pengabdian Masyarakat FKM UI dan tim DKK UI, mengungkapkan, perubahan iklim adalah sebuah keniscayaan. Pengetahuan mengenai perubahan iklim global serta dampaknya terhadap manusia dan lingkungan harus disosialisasikan kepada generasi muda, karena mereka yang akan menghadapi konsekuensi jangka panjang di masa mendatang.
Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FKM UI, Mila Tejamaya, mengatakan, krisis iklim, pangan, kelangkaan air bersih, gangguan ekosistem alam, merupakan beberapa contoh dampak perubahan iklim global yang ada di depan mata.
"Untuk itu dalam rangka GCCW2025, DKK UI berkontribusi dalam Program Suara Anak Bangsa Peduli Perubahan Iklim Berkelanjutan (Sahabat) yang digagas oleh Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Sosial Universitas Indonesia (DPIS UI)," katanya, dalam keterangan tertulis, Kamis, (6/11).
Mila mengatakan, salah satu yang mereka lakukan adalah membuat papan edukasi yang berisi tentang informasi jenis-jenis flora dan fauna yang ada di sekitar danau kenanga UI, disertai dengan gambar dan deskripsinya. Sekitar 105 siswa sekolah dasar (SD) dari berbagai sekolah di Jabodetabek mengikuti acara ini dan berkesempatan untuk memantau tanaman dan binatang tersebut secara langsung. Dengan kegiatan ini, UI ingin memperkenalkan keanekaragaman hayati yang ada di lingkungan kampus UI serta mengajak para siswa untuk bersama-sama secara kolektif melindungi alam sekitar secara nyata. (H-3)
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
DEPUTI Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas menekankan agar pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati harus dikelola secara bertanggung jawab.
Pemerintah pada tanggal 5 November 1993 menetapkan 5 November sebagai Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang menjadi tema Google Doodle hari ini.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana pola hujan ekstrem mempercepat pelepasan karbon tanah ke atmosfer dan bagaimana biochar menjadi kunci ketahanan tanah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved