Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Tebet Eco Park Jadi Rumah Burung dan Reptil, Jaga Keanekaragaman Hayati Kota

Fathurrozak
21/12/2025 08:18
Tebet Eco Park Jadi Rumah Burung dan Reptil, Jaga Keanekaragaman Hayati Kota
Mengamati burung di Tebet Eco Park(MI/Fathurrozak)

RUANG Terbuka Hijau (RTH) seperti taman kota kini menjadi salah satu destinasi warga kota untuk menghabiskan waktu mereka dalam beraktivitas. Baik bersama keluarga, teman, mulai dari berolahraga, merayakan ulang tahun, hingga menghirup udara segar.

Salah satu yang juga populer menjadi destinasi warga Jakarta adalah Tebet Eco Park, yang memiliki luas sekitar 7,3 hektar di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.

Pada Sabtu pagi, (20/12), sejumlah anak-anak SMA dan mahasiswa pun berkegiatan untuk mengamati burung-burung yang ada di taman tersebut. Tak hanya taman, mereka juga mengamati berbagai amfibi dan reptil yang mereka lihat, dan didata.

Acara tersebut menjadi rangkaian dari lembaga nirlaba Belantara Foundation untuk memperkenalkan alam dan meningkatkan kesadaran lingkungan ke generasi muda, lewat program Belantara Biodiversity Class.

“Kami berkolaborasi dengan organisasi ahli untuk mengedukasi peserta. Pada kegiatan kali ini, fokus utamanya adalah pengamatan burung (birdwatching) serta pengamatan amfibi dan reptil. Sebelumnya, kami juga pernah mengedukasi tentang konservasi kupu-kupu karena peran vital mereka dalam proses penyerbukan tanaman di kota,” kata Direktur Eksekutif Belantara Foundation Dolly Priatna kepada Media Indonesia di Tebet Eco Park, Sabtu, (20/12).

Menurut Dolly, peran ruang terbuka hijau seperti Tebet Eco Park penting bukan hanya untuk manusia, namun juga satwa. Ruang terbuka hijau berfungsi sebagai habitat keanekaragaman hayati perkotaan.

“Di tempat seperti Tebet Eco Park, satwa-satwa lokal seperti burung, amfibi, dan reptil (herpetofauna) dapat tinggal dan berkembang biak,” lanjut Dolly.

Beberapa yang ditemukan oleh para siswa di antaranya adalah biawak, kodok, burung gereja,  burung cabai jawa, dan cucak kutilang.

“Kami percaya selama luas dan kualitas taman kota dapat dipertahankan atau ditingkatkan, maka keanekaragaman hayati di dalamnya memiliki peluang besar untuk tetap bertahan. Taman yang berkualitas menyediakan sumber daya yang dibutuhkan satwa untuk menghadapi perubahan lingkungan,” tutup Dolly. (M-3)

MI/Fathurrozak



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik