Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA memiliki potensi makroalga (rumput laut) yang sangat besar lantaran keanekaragaman spesiesnya yaitu lebih dari 900 jenis, kelimpahan sumber daya di perairan tropis yang kaya nutrisi, serta peran ekologisnya sebagai habitat biota laut.
Keberadaan makroalga pun sangat potensial untuk dikembangkan pada sektor pangan (nori, bahan tambahan), pakan ternak (penghambat metan), farmasi (antikanker, antibakteri), dan kosmetik (pencerah kulit, bahan bioaktif).
“Makroalga memiliki peran strategis, baik secara ekologis maupun ekonomis. Potensinya besar untuk pengembangan obat, kosmetik, bioenergi, dan pangan fungsional,” kata Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Kerja Sama Universitas Nasional (Unas) sekaligus Koordinator Center for Botanicals and Chronic Diseases (CBCD) Indonesia Prof Ernawati Sinaga saat membuka workshop bertajuk Eksplorasi Potensi Pemanfaatan Makroalga untuk Masa Depan Berkelanjutan, di Pulau Kemojan, Karimunjawa, Jawa Tengah.
Untuk itu, ia berharap workshop tersebut tidak hanya menjadi ruang belajar mengenai kekayaan makroalga Indonesia, tetapi juga sarana memperkuat kolaborasi antardosen dan peneliti, untuk mengoptimalkan riset terhadap potensi makroalga yang begitu besar.
Guru besar Rutgers University Prof Ilya Raskin memaparkan peran penting tumbuhan dan alga sebagai biochemical factories yang mampu memproduksi ribuan senyawa bioaktif.
“Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis,” tegasnya.
Ia menambahkan Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat riset bioprospeksi dunia berkat kekayaan biodiversitasnya. Pada paparan riset, peneliti Unas Atika Amalia Firdaus dan Yuninda Tri Herawati menyampaikan hasil karakterisasi bioaktivitas dari dua spesies makroalga, yaitu Padina australis dan Sargassum crassifolium yang dikoleksi dari perairan Karimunjawa.
Analisis menunjukkan kedua spesies tersebut memiliki kapasitas antioksidan yang signifikan, aktivitas fotoprotektif terhadap radiasi UV-B, serta potensi mempercepat proses penyembuhan luka. "Bioaktivitas tersebut diduga berkaitan dengan keberadaan senyawa fenolik, terpenoid, dan polisakarida bioaktif yang lazim ditemukan pada makroalga tropis," kata Amalia.
Kepala SPTN Wilayah II Karimunjawa Isai Yusidarta turut memberikan pemaparan mengenai zonasi konservasi mulai dari zona perlindungan hingga zona pemanfaatan wisata.
Ia menegaskan budidaya Kappaphycus alvarezii (cottonii) bukan penyebab kerusakan karang. “Penurunan tutupan karang pada 2016 lebih disebabkan pemanasan global. Kondisinya perlahan pulih sejak 2019,” jelasnya.
Ikut hadir memberikan paparan yakni akademisi lainnya dari Universitas Pancasila, Universitas Sriwijaya, dan The State University of New Jersey, AS. Selain itu, dihadiri tim CBCD dari Unas seperti Nonon Saribanon dan Astri Rozanah Siregar.
Workshop yang digelar Unas bersama CBCD Indonesia ini diikuti 39 peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Dalam kegiatan itu, mereka menggelar rangkaian diskusi akademik, paparan riset mutakhir, hingga eksplorasi langsung di kawasan konservasi Taman Nasional Karimunjawa.(H-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved