Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MANUSIA dikenal memiliki kemampuan luar biasa untuk berlari jarak jauh tanpa cepat kelelahan. Keistimewaan ini diyakini berakar dari nenek moyang manusia purba yang mengandalkan ketahanan tubuh untuk berburu hewan sebagai sumber makanan.
Sebuah studi terbaru meninjau kembali teori klasik mengenai cara manusia berburu. Penelitian tersebut menyoroti dua pertanyaan utama, apakah mengejar hewan hingga kelelahan benar-benar menguntungkan secara waktu dan energi.
Serta apakah strategi tersebut cukup sering digunakan sehingga seleksi alam membentuk tubuh manusia yang tahan berlari.
Teori bahwa manusia berevolusi karena kebiasaan berlari jarak jauh sempat menuai perdebatan. Berlari menghabiskan energi lebih banyak dibanding berjalan, sehingga muncul pertanyaan mengapa pemburu purba memilih cara itu.
Peneliti menguji hipotesis tersebut melalui perhitungan yang menilai perbandingan antara kalori yang diperoleh dari hasil buruan dan energi yang dikeluarkan selama perburuan berlangsung.
Hasilnya menunjukkan bahwa perburuan yang diselesaikan lebih cepat memberikan keuntungan energi yang lebih besar per jam, meskipun biaya energi per menit meningkat.
Model tersebut juga menilai berbagai pola gerakan seperti berlari, jogging, dan kombinasi keduanya. Irama yang memadukan lari dan jalan cepat terbukti paling efisien karena menjaga tekanan pada mangsa sekaligus membantu pemburu mengatur suhu tubuh.
Keunggulan manusia dalam berburu jarak jauh didukung oleh kemampuan tubuh mengatur panas. Hewan berkuku besar yang menjadi mangsa biasanya sulit mengeluarkan panas saat harus berlari lama. Karena bergantung pada pernapasan cepat untuk mendinginkan tubuh.
Sebaliknya, manusia memiliki kulit tanpa bulu dan kelenjar keringat yang tersebar di seluruh tubuh, memungkinkan pelepasan panas secara terus-menerus selama bergerak. Struktur tubuh seperti kaki panjang, tendon yang lentur.
Serta serat otot lambat yang tahan lelah menjadikan manusia mampu mempertahankan kecepatan stabil dalam waktu lama. Kombinasi tersebut menciptakan keseimbangan antara daya tahan dan efisiensi energi yang tidak dimiliki hewan lain.
Selain model perhitungan, penelitian ini juga menelusuri berbagai catatan sejarah dan etnografi yang menggambarkan pola perburuan di berbagai wilayah. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia sering melakukan pengejaran berirama konstan. Hingga hewan tidak lagi mampu melarikan diri.
Beberapa perburuan dilakukan secara individu, sementara yang lain memakai sistem bergantian. Strategi ini dinilai efektif di daerah terbuka yang panas, di mana kemampuan pendinginan tubuh manusia memberikan keuntungan dibanding hewan mangsa.
Seleksi alam cenderung mempertahankan sifat yang meningkatkan peluang hidup. Jika strategi mengejar mangsa dengan lari jarak jauh sering berhasil, tubuh yang mendukung ketahanan tersebut akan lebih diuntungkan.
Ciri khas manusia seperti kaki panjang, tendon Achilles yang kuat, ligamen leher yang menstabilkan kepala saat berlari. Serta sistem keringat yang efisien dianggap sebagai hasil adaptasi dari pola perburuan itu.
Hingga kini, sebagian masyarakat tradisional masih mempraktikkan teknik berburu dengan pola lari terkendali. Terutama di daerah yang medannya mendukung.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature ini menunjukkan bahwa kemampuan manusia untuk berlari jarak jauh bukan sekadar hasil kebetulan. Melainkan bagian dari strategi bertahan hidup yang terbukti menguntungkan selama ribuan tahun evolusi.
Sumber: earth.com
Tiga rahang, termasuk satu milik anak-anak, gigi, tulang belakang, dan tulang paha ditemukan di sebuah gua yang dikenal sebagai Grotte à Hominidés di Thomas Quarry di Casablanca, Maroko
Selama bertahun-tahun, para ahli evolusi menghadapi celah besar dalam bukti fosil, khususnya antara satu juta hingga 600.000 tahun lalu.
Sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa perilaku berciuman atau kontak bibir sudah muncul sejak 21 juta tahun lalu pada leluhur bersama manusia dan kera besar.
Penelitian genetika menunjukkan bahwa Homo sapiens puluhan ribu tahun lalu melakukan kawin silang berulang dengan Neanderthal, Denisovan, dan hominin lain.
Penelitian terbaru menunjukkan Neanderthal bukan manusia gua bodoh seperti anggapan umum. Ini fakta tentang Neanderthal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved