Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENANGANAN korban banjir Sumatra terkesan sangat lamban dan mengecewakan. Klaim pemerintah yang mengatakan sudah tertangani dengan baik ternyata masih terseok-seok laksana siput berlari.
Akibat masalah kebersihan lingkungan dan sanitasi tidak segera dipulihkan, sekarang timbul lagi persoalan baru dan bisa berujung masalah berikutnya ke depan. Sayangnya korban banjir terus menuai penderitaan yang tidak berujung.
Mengapa tidak, sekarang semua lokasi pengungsi banjir dan permukiman sementara terjadi serangan nyamuk sangat luar biasa. Bukan saja saat malam tiba, tapi pada siang hari pun nyamuk memenuhi sudut-sudut ruangan tenda pengungsian dan kamar rumah yang tersisa hingga gubuk darurat di lokasi puing rumah.
Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Aceh Tamiang, Sahal Muhammad, kepada Media Indonesia, Minggu (18/1) mengatakan, serangan nyamuk setelah banjir 26 November 2025 lalu tergolong cukup parah. Bukan saja ketika malam tiba, tapi pada siang juga berkerumun menyerang lokasi pengungsi dan rumah warga.
"Di mana saja kita duduk, nyamuk langsung berkerumun. Kalau malam, dalam suasana terang cahaya saja diserang, apa lagi mati lampu saat tidur. Padahal sebelum banjir tidak sebanyak demikian," tutur Sahal.
Dikatakan Sahal, ini sangat mengkhawatirkan bila nyamuk menyerang anak dan bayi yang tinggal seharian di tenda-tenda pengunsian. Apalagi saat malam hari tidur berhimpitan beratap terpal plastik.
Ironisnya, ketersediaan kelambu pada pengungsi juga terbatas. Bahkan banyak dari mereka yang harus tidur tanpa menggunakan jaringan penghalang nyamuk itu.
Selain serangan nyamuk, mereka juga mengalami kedinginan yang amat ketika saat turun hujan. Apalagi sebagian besar tenda pengungsian itu terbuat sendiri dari tenda plastik dan seng atau papan bekas dinding rumah banjir. Tidak sedikit yang berharap ada tenda oranye BNPB dengan jaring lubang angin di lokasi pengungsian.
"Saat bangun pagi, orang dewasa saja bertaburan bintik-bintik bekas gigitan nyamuk. Apalagi anak kecil masih rawan alergi gigitan. Sungguh sedih pengungsi nasib pengungsi banjir, " tambah Sahal Muhammad.
Sahal berharap, yang juga relawan penyintas kepada siapa saja yang ingin berdonasi untuk korban banjir Aceh, supaya dapat menyisihkan sedikit sedikit untuk bantuan kelambu. Karena tanpa perhatian para donatur untuk korban penyintas banjir, sulit bertahan dan susah menyelamatkan mereka agar mendapat kehidupan layak dan manusiawi.
SERANGAN PARAH
Relawan Komunitas Weekdays Adventure Indoonesia (Indonesia Offroad Federation-IOF, Jakarta), Asep Sujana, juga membenarkan parahnya serangan nyamuk di lokasi bekas banjir Aceh Tamiang. Asep Sujana bersama temannya yang menyalurkan bantuan dari NGO Pondok Sedekah Indonesia, Jawa Barat, hampir setiap hari tidur di lokasi dan bahkan sering tidur di masjid kawasan Kecamatan Bandar Pusaka. Saat tidur di masjid juga diganggu nyamuk saat tidur malam.
Sebelum memulai membangun sumur bor untuk lokasi itu, pihaknya juga menyalurkan kelambu tidur keluarga. Setelah melihat sumber air bersih dan Sanitasi banyak yang hancur, kini pihaknya memulai membangun sumur bor untuk warga.
"Di awal, kami menyalurkan bantuan kami juga sempat menyumbang kelambu untuk keluarga penyintas. Tapi setelah melihat sumber air bersih cukup langka, kami pun mulai memikirkan ketersediaan air konsumsi, " tambah Asep.
LINGKUNGAN JOROK
Mahasiswa Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh yang juga Dokter Muda Koas di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, Ghina Zuhaira mengatakan, tingginya populasi nyamuk paska banjir bersumber dari kondisi lingkungan jorok dan kotor. Ditambah lagi banyak genangan air di selokan, wadah bekas dan butol pasti sekali pakai berserakan di mana-mana.
Itu merupakan habitat paling banyak berkembang biak jentik nyamuk. Lalu siklus kehidupannya tidak terputus dan terus meningkatkan populasi. "Dalam satu wadah botol saja bisa menetas ratusan jentik, bagaimana lagi dalam genangan selokan dan bersarang di tumpukan sampah banjir, " tutur Ghina Zuhaira, yang juga alumni SMA Sukma Bangsa Pidie itu.
Menurut Ghina, kebersihan lingkungan harus ditingkatkan dulu, tidak bisa abai. Supaya laju perkembang biakan jentik nyamuk bisa ditekan. Lalu memusnahkan kaleng atau botol plastik, bebas sampah yang menjadi media penetas jentik. "Itu harus menjadi perhatian bersama demi kesehatan semua. Biasakan memakai kelambu saat tidur, terutama untuk bayi dan balita," tambah aktivis Pelajar Islam Indonesia itu.
Ghina mengingatkan, bila kebersihan terus memburuk dan serangan nyamuk semakin parah, dikhawatirkan akan bermuara kepada persoalan baru yang lebih parah. Misalnya terjadi serangan penyakit malaria, demam berdarah deungu (DBD) dan beberapa penyakit berbahaya lainnya.
"Jangan sampai karena menyepelekan persoalan sederhana, nanti bermuara ke masalah baru dan berbahaya. Hingga rumit dan membutuhkan waktu lama diatasi, " demikian harap Dokter Muda remaja putri asal Pidie itu. (H-1)
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Musim hujan membawa udara segar dan tanah yang kembali hijau, tapi juga satu “tamu” yang tak diundang: nyamuk! Begini cara efektif mrncegahnya.
Perubahan iklim diduga buka jalan bagi nyamuk untuk hidup di Islandia.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
BMKG memberi peringatan dini cuaca ekstrem dan. peningkatan curah hujan yang diprakirakan mencapai lebih dari 400mm hingga Februari mendatang.
Selain penyakit umum, Kemenkes juga memberikan perhatian khusus terhadap penyakit menular dengan tingkat penularan tinggi.
Para pengungsi kini dihantui risiko penyakit kulit akibat kondisi lingkungan yang lembap, kurang higienis, dan hunian yang padat.
PARA korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memerlukan berbagai bentuk dukungan sosial agar dapat pulih secara emosional maupun fisik.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved