Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Lokasi Pengungsian Banjir Aceh Tamiang Diserang Nyamuk

Amiruddin Abdullah Reubee
18/1/2026 19:39
Lokasi Pengungsian Banjir Aceh Tamiang Diserang Nyamuk
Foto udara kawasan pengisian korban banjir besar Sumatra di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.( MI/Amiruddin Abdullah Reubee)

PENANGANAN korban banjir Sumatra terkesan sangat lamban dan mengecewakan. Klaim pemerintah yang mengatakan sudah tertangani dengan baik ternyata masih terseok-seok laksana siput berlari. 

Akibat masalah kebersihan lingkungan dan sanitasi tidak segera dipulihkan, sekarang timbul lagi persoalan baru dan bisa berujung masalah berikutnya ke depan. Sayangnya korban banjir terus menuai penderitaan yang tidak berujung. 

Mengapa tidak, sekarang semua lokasi pengungsi banjir dan permukiman sementara terjadi serangan nyamuk sangat luar biasa. Bukan saja saat malam tiba, tapi pada siang hari pun nyamuk memenuhi sudut-sudut ruangan tenda pengungsian dan kamar rumah yang tersisa hingga gubuk darurat di lokasi puing rumah. 

Penyuluh Agama Islam Kantor Kemenag Aceh Tamiang, Sahal Muhammad, kepada Media Indonesia, Minggu (18/1) mengatakan, serangan nyamuk setelah banjir 26 November 2025 lalu tergolong cukup parah. Bukan saja ketika malam tiba, tapi pada siang juga berkerumun menyerang lokasi pengungsi dan rumah warga. 

"Di mana saja kita duduk, nyamuk langsung berkerumun. Kalau malam, dalam suasana terang cahaya saja diserang, apa lagi mati lampu saat tidur. Padahal sebelum banjir tidak sebanyak demikian," tutur Sahal. 

Dikatakan Sahal, ini sangat mengkhawatirkan bila nyamuk menyerang anak dan bayi yang tinggal seharian di tenda-tenda pengunsian. Apalagi saat malam hari tidur berhimpitan beratap terpal plastik. 

Ironisnya, ketersediaan kelambu pada pengungsi juga terbatas. Bahkan banyak dari mereka yang harus tidur tanpa menggunakan jaringan penghalang nyamuk itu. 

Selain serangan nyamuk, mereka juga mengalami kedinginan yang amat ketika saat turun hujan. Apalagi sebagian besar tenda pengungsian itu terbuat sendiri dari tenda plastik dan seng atau papan bekas dinding rumah banjir. Tidak sedikit yang berharap ada tenda oranye BNPB dengan jaring lubang angin di lokasi pengungsian. 

"Saat bangun pagi, orang dewasa saja bertaburan bintik-bintik bekas gigitan nyamuk. Apalagi anak kecil masih rawan alergi gigitan. Sungguh sedih pengungsi nasib pengungsi banjir, " tambah Sahal Muhammad. 

Sahal berharap, yang juga relawan penyintas kepada siapa saja yang ingin berdonasi untuk korban banjir Aceh, supaya dapat menyisihkan sedikit sedikit untuk bantuan kelambu. Karena tanpa perhatian para donatur untuk korban penyintas banjir, sulit bertahan dan susah menyelamatkan mereka agar mendapat kehidupan layak dan manusiawi. 

SERANGAN PARAH
Relawan Komunitas Weekdays Adventure Indoonesia (Indonesia Offroad Federation-IOF, Jakarta), Asep Sujana, juga membenarkan parahnya serangan nyamuk di lokasi bekas banjir  Aceh Tamiang. Asep Sujana bersama temannya yang menyalurkan bantuan dari NGO Pondok Sedekah Indonesia, Jawa Barat, hampir setiap hari tidur di lokasi dan bahkan sering tidur di masjid kawasan Kecamatan Bandar Pusaka. Saat tidur di masjid juga diganggu nyamuk saat tidur malam. 

Sebelum memulai membangun sumur bor untuk lokasi itu, pihaknya juga menyalurkan kelambu tidur keluarga. Setelah melihat sumber air bersih dan Sanitasi banyak yang hancur, kini pihaknya memulai membangun sumur bor untuk warga. 

"Di awal, kami menyalurkan bantuan kami juga sempat menyumbang kelambu untuk keluarga penyintas. Tapi setelah melihat sumber air bersih cukup langka, kami pun mulai memikirkan ketersediaan air konsumsi, " tambah Asep. 

LINGKUNGAN JOROK
Mahasiswa Kedokteran Universitas Syiah Kuala (USK) Aceh yang juga Dokter Muda Koas di Rumah Sakit Zainoel Abidin Banda Aceh, Ghina Zuhaira mengatakan, tingginya populasi nyamuk paska banjir bersumber dari kondisi lingkungan jorok dan kotor. Ditambah lagi banyak genangan air di selokan, wadah bekas dan butol pasti sekali pakai berserakan di mana-mana. 

Itu merupakan habitat paling banyak berkembang biak jentik nyamuk. Lalu siklus kehidupannya tidak terputus dan terus meningkatkan populasi. "Dalam satu wadah botol saja bisa menetas ratusan jentik, bagaimana lagi dalam genangan selokan dan bersarang di tumpukan sampah banjir, " tutur Ghina Zuhaira, yang juga alumni SMA Sukma Bangsa Pidie itu. 

Menurut Ghina, kebersihan lingkungan harus ditingkatkan dulu, tidak bisa abai. Supaya laju perkembang biakan jentik nyamuk bisa ditekan. Lalu memusnahkan kaleng atau botol plastik, bebas sampah yang menjadi media penetas jentik. "Itu harus menjadi perhatian bersama demi kesehatan semua. Biasakan memakai kelambu saat tidur, terutama untuk bayi dan balita," tambah aktivis Pelajar Islam Indonesia itu. 

Ghina mengingatkan, bila kebersihan terus memburuk dan serangan nyamuk semakin parah, dikhawatirkan akan bermuara kepada persoalan baru yang lebih parah. Misalnya terjadi serangan penyakit malaria, demam berdarah deungu (DBD) dan beberapa penyakit berbahaya lainnya. 

"Jangan sampai karena menyepelekan persoalan sederhana, nanti bermuara ke masalah baru dan berbahaya. Hingga rumit dan membutuhkan waktu lama diatasi, " demikian harap Dokter Muda remaja putri asal Pidie itu. (H-1) 

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Denny parsaulian
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik