Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Waspada Ancaman Penyakit Kulit di Pengungsian, Pakar IPB University Bagikan Tips Pencegahan

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 10:58
Waspada Ancaman Penyakit Kulit di Pengungsian, Pakar IPB University Bagikan Tips Pencegahan
Ilustrasi--Warga yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor berada di Posko pengungsian di Nagari Batu Taba, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, Senin (1/12/2025).(ANTARA/Wawan Kurniawan)

BENCANA banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan Aceh tidak hanya menyisakan kerusakan infrastruktur, tetapi juga ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. 

Para pengungsi kini dihantui risiko penyakit kulit akibat kondisi lingkungan yang lembap, kurang higienis, dan hunian yang padat.

Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc, menjelaskan bahwa air banjir yang tercemar menjadi pemicu utama maraknya keluhan kulit. 

Menurutnya, air tersebut telah bercampur dengan berbagai polutan yang berbahaya bagi jaringan kulit manusia.

MI/HO--Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr. Widya Khairunnisa Sarkowi, MSc

"Air banjir biasanya bercampur lumpur, sampah rumah tangga, kotoran, hingga bangkai. Kombinasi ini sangat ideal untuk menimbulkan penyakit kulit, terutama ketika warga terpapar dalam waktu lama," ujar dr. Widya.

Pola Penyakit Pascabencana

Berdasarkan pengamatan medis di berbagai wilayah bencana, kasus penyakit kulit selalu menunjukkan peningkatan signifikan pada fase tanggap darurat. dr. Widya memaparkan tiga jenis gangguan kulit yang paling sering muncul:

  • Dermatitis Kontak: Ditandai dengan kulit merah, gatal, dan perih akibat paparan air banjir atau reaksi terhadap bahan pembersih kimia yang keras.
  • Infeksi Jamur: Seperti kurap pada badan, selangkangan (*tinea cruris*), dan sela jari kaki (*tinea pedis*) yang dipicu oleh kelembapan tinggi.
  • Infeksi Bakteri: Seperti impetigo, folikulitis, hingga selulitis. Kondisi ini rentan menyerang warga yang memiliki luka terbuka akibat evakuasi namun terpapar lingkungan tidak higienis.

Kelompok Rentan dan Tanda Bahaya

Dr. Widya menekankan bahwa kelompok masyarakat dengan akses sanitasi terbatas adalah yang paling berisiko. Ini mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis seperti diabetes, kanker, dan HIV.

Ia memperingatkan warga agar tidak meremehkan gejala yang muncul. 

"Kulit yang memerah luas, bengkak, hangat, atau terasa sangat nyeri dapat menandakan infeksi yang semakin dalam. Jika luka tampak memburuk, mengeluarkan nanah, berbau, atau disertai demam, warga harus segera mencari pertolongan medis," tegas dosen ilmu biomedik farmakologi tersebut.

Langkah Praktis Pencegahan

Meski berada dalam keterbatasan di pengungsian, menjaga kebersihan diri tetap menjadi kunci utama. 

Masyarakat diimbau untuk mandi menggunakan air bersih dan sabun setiap kali ada kesempatan. Selain itu, penting untuk tidak berbagi barang pribadi seperti handuk atau pakaian guna memutus rantai penularan.

Sebagai langkah pertolongan pertama bagi mereka yang mulai merasakan gejala ringan, dr. Widya menyarankan prinsip sederhana: Bersihkan, Keringkan, dan Lindungi.

"Prinsipnya adalah bersihkan, keringkan, dan lindungi. Setelah terpapar air banjir, segera cuci bagian kulit yang terasa gatal atau muncul ruam dengan air bersih dan sabun, lalu keringkan dengan handuk bersih," pungkasnya. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik