Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Ini 4 Dukungan Penting untuk Korban Bencana dari Sisi Psikologis

Nike Amelia Sari
08/12/2025 19:45
Ini 4 Dukungan Penting untuk Korban Bencana dari Sisi Psikologis
Anak-anak pengungsi bencana hidrometeorologi membawa makanan dari dapur umum di Desa Raya Dagang, Peusangan, Bireuen, Aceh(ANTARA FOTO/Irwansyah Putra)

PARA korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat memerlukan berbagai bentuk dukungan sosial agar dapat pulih secara emosional maupun fisik. Hal tersebut disampaikan oleh Psikolog Klinis RSUD Wangaya Kota Denpasar, Bali, Nena Mawar Sari.

Lalu, dukungan penting apa saja yang diperlukan oleh para korban bencana? Berikut empat dukungan penting untuk para korban bencana, seperti dikutip dari Antara, baru-baru ini.

  • Dukungan Emosional

Nena menjelaskan bahwa dukungan emosional menjadi kebutuhan pertama para korban, terutama layanan psikologis yang dapat memberi ruang aman untuk mengungkapkan pengalaman mereka. Melalui dukungan tersebut, kata Nena, perasaan korban dapat tervalidasi dan membantu proses pemulihan trauma.

  • Dukungan Praktis

Yang berikutnya adalah dukungan praktis, seperti pemenuhan kebutuhan dasar seperti bahan makanan, pakaian, obat-obatan, serta logistik lain. 

  • Dukungan Informasi 

Kemudian diperlukan pula dukungan informasi, misalnya keberadaan posko bantuan atau kontak yang bisa dihubungi jika muncul situasi genting.

  • Dukungan Komunitas

Nena menambahkan bahwa dukungan komunitas juga memegang peran penting untuk mengembalikan rasa kebersamaan di antara para penyintas. Aktivitas sederhana seperti memasak bersama atau membersihkan lingkungan dapat membantu mereka merasa terhubung dan tidak menghadapi situasi tersebut seorang diri.

Gejala pascatrauma

Nena menerangkan, gejala pascatrauma setelah bencana bisa muncul dalam bentuk kilas balik, mimpi buruk, penurunan konsentrasi, hingga kecenderungan menghindari percakapan atau gambar yang berkaitan dengan bencana. 

Selain itu, gejala fisik seperti gemetar, sensasi ingin pingsan ketika mendengar informasi serupa, serta hambatan menjalani rutinitas sehari-hari juga dapat terjadi, termasuk munculnya fobia atau depresi.

Untuk penanganan awal, para ahli biasanya memberikan teknik sederhana guna mengurangi gejala psikologis tersebut. Support group therapy juga dapat diterapkan, yakni mempertemukan para penyintas agar mereka dapat saling mendukung dan tidak merasa menjalani masa sulit itu sendirian.

Terapi untuk anak-anak

Pada anak-anak, pendekatan yang digunakan berbeda, yakni melalui terapi berbasis bermain, bernyanyi, atau metode ekspresif lainnya. Selain itu, cognitive behaviour therapy dapat dipakai untuk membantu anak menghadapi inti dari rasa takut atau trauma, namun harus dilakukan oleh profesional yang terlatih.

Menurut Nena, korban yang mengalami kondisi seperti tidak bisa tidur dalam waktu lama, menangis berlebihan, perubahan perilaku maupun pola makan, hingga halusinasi akibat kehilangan anggota keluarga memerlukan penanganan segera oleh tenaga kesehatan mental. (Ant/Nas/M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya