Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Deforestasi Terjadi di Semua Pulau, Kalimantan Timur dan Sumatra Jadi Episentrum

Atalya Puspa    
10/2/2026 16:22
Deforestasi Terjadi di Semua Pulau, Kalimantan Timur dan Sumatra Jadi Episentrum
Deforestasi di hutan pegunungan Meratus.(Dok. Antara)

AURIGA Nusantara mencatat deforestasi masih terjadi secara menyeluruh di Indonesia. Sepanjang 2024, kehilangan tutupan hutan alam teridentifikasi di seluruh pulau besar, dengan Kalimantan Timur dan wilayah Sumatra menjadi episentrum deforestasi tertinggi.

Auriga menegaskan deforestasi yang mereka hitung merujuk pada hilangnya tutupan hutan alam, baik hutan primer maupun sekunder, dan tidak memasukkan hutan tanaman industri atau kebun kayu.

“Deforestasi itu kami letakkan pada hilangnya tutupan hutan alam. Jadi, kami tidak menghitung kehilangan pada kebun kayu atau hutan tanaman,” ujar Direktur Penegakan Hukum Auriga Nusantara Roni Saputra dalam diskusi Lapor Iklim, Selasa (10/2). 

Berdasarkan analisis Auriga, deforestasi pada 2024 mencapai lebih dari 261 ribu hektare, meningkat dibandingkan 2023. Lonjakan signifikan terjadi di Sumatra, dari sekitar 33 ribu hektare menjadi sekitar 91 ribu hektare. “Deforestasi ini hampir terjadi di seluruh pulau-pulau besar di Indonesia,” kata Roni. 

Ia membeberkan, di Kalimantan deforestasi meningkat dari sekitar 124 ribu hektare menjadi 129 ribu hektare. Kalimantan Timur mencatat kenaikan tertinggi, dari sekitar 28 ribu hektare pada 2023 menjadi sekitar 44 ribu hektare pada 2024.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat sekitar 33 ribu hektare deforestasi pada 2024. Di Papua, deforestasi tercatat sekitar 17 ribu hektare, menurun dibandingkan 2023, namun Roni menilai prosesnya masih berlangsung. “Prosesnya masih tetap terjadi. Artinya deforestasi di kepulauan Indonesia itu terjadi secara menyeluruh,” kata dia. 

Ia pun menulai,  deforestasi menjadi penyebab meningkatnya bencana ekologis di berbagai wilayah Indonesia. “Kami tidak menyebut bencana alam, karena ada peran manusia yang cukup besar di dalam bencana yang timbul,” ujarnya. 

Dari sisi tata kelola, ia menyoroti bahwa sebagian besar deforestasi justru terjadi di wilayah berizin. Sekitar 49 persen deforestasi berada di hutan produksi dan 43 persen di area penggunaan lain.

“Kalau terjadi di hutan produksi, 85 sampai 90 persen deforestasi itu adalah deforestasi legal, karena pemerintah memberikan perizinan kepada badan usaha,” ujarnya. 

Ia pun memperkirakan tren deforestasi pada 2025 jauh lebih tinggi dibandingkan 2024, bahkan tanpa memasukkan deforestasi pascabencana ekologis pada November.

“Di akhir Februari ini kami akan merilis status deforestasi 2025, dan luasannya jauh lebih besar dibandingkan 2024,” tutup dia. (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya