Headline

Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.

BI Luncurkan PIDI, Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Digital Nasional

Naufal Zuhdi
23/2/2026 19:13
BI Luncurkan PIDI, Perkuat Ekosistem Ekonomi dan Keuangan Digital Nasional
Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono (tengah).(MI/Naufal Zuhdi)

BANK Indonesia (BI) memperkuat fondasi ekonomi dan keuangan digital nasional melalui peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI). Inisiatif ini dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional untuk menjawab tantangan literasi, keamanan, dan perluasan inklusi di tengah pesatnya pertumbuhan transaksi digital.

Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Dicky Kartikoyono, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi digital Indonesia saat ini berada dalam fase akselerasi yang signifikan.

“Sejak Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025–2030 berjalan, pertumbuhan ekonomi keuangan digital kita sangat kuat. Volume transaksi QRIS hampir mencapai 300 miliar per tahun, dengan nilai lebih dari Rp50 triliun,” ujarnya pada Senin (23/2) di Jakarta.

Tak hanya QRIS, 90% perbankan nasional kini telah memiliki mobile banking. Sementara transaksi melalui BI-FAST telah menembus Rp1,7 kuadriliun. Namun, menurut Dicky, pertumbuhan tersebut harus diimbangi penguatan ekosistem, terutama dari sisi literasi, perlindungan konsumen, serta perluasan akses hingga ke desa.

“Tidak bisa hanya Bank Indonesia. Kita perlu orkestrasi inovasi. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.

PIDI, sambung dia, dibentuk sebagai hub inovasi digital nasional yang mempertemukan talenta muda, industri, asosiasi, dan regulator. Lembaga ini diharapkan menjadi motor pengembangan solusi digital yang aplikatif bagi sektor sistem keuangan.

Dicky menjelaskan, PIDI memiliki dua fokus utama. Pertama, menjawab kebutuhan industri melalui pelatihan, pengembangan proyek percontohan (pilot project), hingga business matching dengan pelaku usaha. Kedua, membangun talent pipeline untuk menciptakan lapangan kerja baru di sektor digital.

Program pelatihan yang dikembangkan bertajuk DIGDAYA (Digital Talent Berdaya dan Berkarya), yang terdiri dari level esensial, practitioner, hingga capstone project. Setelah mengikuti pelatihan, peserta akan berkompetisi dalam hackathon untuk menghasilkan solusi konkret yang dapat diimplementasikan industri.

“PIDI bukan hanya ruang kompetisi, tetapi engine inovasi nasional. Kita ingin talenta digital Indonesia tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu membangun startup dan menciptakan solusi nyata bagi sistem keuangan,” tegasnya.

BI menargetkan sekitar 3.000 peserta pada gelombang awal program ini. Tahun sebelumnya, program serupa berhasil menjaring 2.700 peserta dengan ratusan proposal inovasi.

Dengan kehadiran PIDI, BI berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar ekonomi digital, tetapi juga pusat penciptaan inovasi dan talenta yang mampu bersaing di tingkat global. (Fal/P-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Cahya Mulyana
Berita Lainnya