Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Gig Economy Jadi Bantalan Sosial Baru, Grab Ungkap Peran Mitra di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

N Apuan Iskandar
27/2/2026 10:16
Gig Economy Jadi Bantalan Sosial Baru, Grab Ungkap Peran Mitra di Tengah Ketidakpastian Ekonomi
Neneng Goenadi selaku CEO Grab Indonesia (Kiri)(MI/Apuan)

MODEL kerja fleksibel berbasis platform digital atau gig economy semakin mengukuhkan perannya dalam lanskap ketenagakerjaan Indonesia. Di tengah perubahan struktur pasar kerja dan ketidakpastian ekonomi, skema kemitraan dinilai menjadi bantalan sosial modern yang mampu menjaga produktivitas masyarakat lintas usia dan latar belakang.

Hal tersebut disampaikan CEO Grab Indonesia, Neneng Goenadi, dalam pemaparan mengenai ekosistem mitra pengemudi Grab di Indonesia. Menurutnya, teknologi telah membuka akses kerja yang sebelumnya tidak mungkin hadir sebelum era digital matang.

“Model ini seperti yang sering kita bahas adalah model praktik semacam bantalan sosial yang responsif, terutama bagi masyarakat yang sedang mencari alternatif penghasilan atau belum terserap di sektor formal,” ujar Neneng.

Ia menegaskan skema kemitraan memungkinkan individu bergabung dengan cepat tanpa proses rekrutmen panjang. Dalam situasi ekonomi yang dinamis, fleksibilitas tersebut memberi ruang bagi siapa pun untuk tetap produktif.

“Di tengah dinamika ekonomi dan perubahan struktur pasar kerja ini, skema kemitraan itu memberikan ruang bagi setiap individu untuk tetap produktif dan memperoleh potensi pendapatan secara mandiri. Ini yang mungkin pada zaman sebelum era digitalisasi tidak mungkin terjadi,” jelasnya.

Didominasi Usia Matang dan Eks Korban PHK

Data internal menunjukkan lebih dari 50% mitra pengemudi berusia di atas 36 tahun, bahkan sebagian besar di atas 45 tahun. Dari sisi pendidikan, 69% merupakan lulusan SMA, sementara 31% memiliki pendidikan di atas SMA.

Menariknya, sekitar 50% mitra ojek online sebelumnya merupakan korban pemutusan hubungan kerja (PHK). Fakta ini memperkuat posisi gig economy sebagai jaring pengaman nonformal di tengah ketidakpastian sektor formal.

“Kalau dilihat, 50% atau satu dari dua mitra pengemudi ojol sebelumnya adalah korban PHK. Ini yang kami sebut bahwa Grab menjadi bantalan sosial buat mereka,” kata Neneng.

Hingga kini, total mitra terdaftar sejak 2015 mencapai 3,7 juta orang. Namun yang aktif menarik setidaknya satu kali dalam sebulan berkisar 700–800 ribu orang. Angka tersebut fluktuatif karena fleksibilitas menjadi karakter utama sistem ini.

“Dia bisa tarik satu kali bulan ini, bulan lalu tidak narik sama sekali. Jadi kita hitungnya yang aktif di bulan berjalan,” ujarnya.

Strategi Multi-Source Income

Mayoritas mitra ternyata tidak menjadikan platform sebagai sumber penghasilan utama. Lebih dari 80% mitra roda dua memanfaatkannya sebagai tambahan pendapatan. Pada roda empat, sekitar 67% juga bersifat sampingan.

“Misalnya habis sore pulang kantor, sekalian pulang ke rumah ikut narik. Lumayan buat bayar bensin,” tutur Neneng menggambarkan pola kerja fleksibel tersebut.

Namun di sisi lain, terdapat mitra yang menjadikan platform sebagai sumber nafkah utama dengan pendapatan signifikan. Pada kategori roda dua, pengemudi yang konsisten dapat meraih penghasilan di atas Rp10 juta per bulan dengan rata-rata 28 order per hari.

Salah satu contohnya adalah Pak Suyanto yang bergabung sejak 2015 dan mampu membiayai sekolah anak, mencicil rumah di Cirebon, hingga membuka usaha laundry untuk istrinya. Ada pula Pak Martin Budi yang sempat terkena PHK, namun tetap aktif sebagai mitra dan memperoleh pendapatan Rp4 juta -Rp10 juta per bulan meski kini kembali bekerja sebagai security.

Di segmen roda empat, Ibu Yusmi Hasfa menjadi ilustrasi mobilitas ekonomi. Awalnya mitra roda dua sejak 2016, ia beralih ke roda empat pada 2023 dan kini meraih pendapatan di atas Rp10 juta per bulan untuk menghidupi enam anaknya.

Kisah lain datang dari Mbak Rosya Bonalisa yang bergabung setelah suaminya meninggal untuk membiayai tiga anak, serta Dr. Rosalia Doris yang tetap aktif sebagai pengemudi di sela studi spesialis penyakit dalam. Semua menunjukkan bahwa gig economy kini menjadi bagian dari strategi finansial berlapis.

Komitmen Keberlanjutan dan Naik Kelas

Untuk memperkuat peran tersebut, Grab Indonesia meluncurkan program “Grab Untuk Indonesia” dengan komitmen lebih dari Rp100 miliar. Program ini mencakup tiga fokus utama: perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan gratis bagi mitra berprestasi, pemberian bonus hari raya, serta program “Mitra Naik Kelas”.

“Pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan hanya dapat terwujud jika mitra pengemudi merasa aman, berdaya, dan memiliki masa depan,” tegas Neneng.

Program naik kelas memungkinkan mitra bertransisi dari roda dua ke roda empat, menjadi mitra merchant, hingga mengembangkan usaha baru. Tercatat lebih dari 1.700 mitra roda dua telah naik menjadi roda empat, dan lebih dari 3.400 mitra berkembang menjadi mitra merchant.

Dalam konteks gaya hidup modern, gig economy tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan sementara. Ia telah berevolusi menjadi strategi adaptif menghadapi ekonomi yang cair, yang memungkinkan masyarakat memiliki lebih dari satu sumber pendapatan, mengatur waktu kerja sesuai kebutuhan, dan membuka peluang mobilitas sosial.

Di tengah ketidakpastian global, fleksibilitas bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kebutuhan. Dan melalui ekosistem digital, bantalan sosial itu kini hadir di genggaman jutaan mitra di seluruh Indonesia (Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya