Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
SUASANA haru menyelimuti sebuah acara apresiasi yang digelar Grab Indonesia. Di hadapan jajaran manajemen dan awak media, lima mitra pengemudi dari berbagai daerah membagikan perjalanan hidup mereka. Kisah tentang penolakan, ketekunan, hingga keberkahan yang mengantarkan mereka berangkat umroh.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Fika Chasasmeta, mitra pengemudi asal Jakarta Timur. Perempuan berusia 44 tahun itu memulai perjalanan kariernya sejak lulus sekolah pada 1999. Ia bekerja di sektor ritel pada 2000 hingga 2011, sebelum memutuskan resign dan mencoba usaha event organizer untuk SPG. Pada Mei 2019, Fika resmi bergabung sebagai mitra Grab.
Perjalanannya bukan sekadar soal mencari nafkah. Fika aktif mengajak teman-teman disabilitas untuk berani mandiri melalui profesi pengemudi daring. Ia menyoroti belum optimalnya implementasi kebijakan kuota tenaga kerja disabilitas di sejumlah instansi.
“Saya menyarankan teman-teman, yuk datang aja. Walaupun cuma jadi ojol, walaupun cuma nge-Grab, saya yakin teman-teman bisa mandiri, bisa mencari uang sendiri,” ujar Fika dalam sesi berbagi.
Semangat pemberdayaan itu juga tercermin dari kisah Jonathan, mitra asal Manado yang bergabung sejak 2018 dan dipercaya menjadi Ketua Komunitas pada 2019. Sebelum menjadi pengemudi daring, Jonathan pernah bekerja di bengkel dan membuka warung kecil.
Ia mengakui, fase awal kehadiran transportasi online di Kota Bitung tidak mudah. “Awal-awal masuk Grab di Kota Bitung itu banyak penolakan dari ojek pangkalan,” katanya. Namun Jonathan memilih pendekatan persuasif. “Daripada kita menolak, ayolah gabung di Grab bersama kami supaya kita bisa sama-sama jalan.”
Seiring waktu, pendekatan dialog tersebut membuahkan hasil. Banyak pengemudi pangkalan akhirnya ikut bergabung dan merasakan manfaat ekonomi yang sama.
Dari Surabaya, Yussa menghadirkan cerita yang lebih personal dan menyentuh. Ia mengisahkan pengalaman mengantar seorang perempuan muda yang kendaraannya mogok. Sang penumpang menangis karena tidak mampu membayar ongkos perjalanan.
“Saya bilang, nggak usah mikirin bayar, ayo cuma sampai pulang,” tutur Yussa. Ia memilih membantu tanpa memikirkan imbalan. “Nggak usah bayar, nanti Gusti Allah yang bayar saya lebih besar.”
Bagi Yussa, menjadi mitra Grab bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga ladang kebaikan. Ia aktif dalam kegiatan relawan kemanusiaan dan percaya bahwa membantu orang lain akan membuka pintu rezeki yang tak terduga. “Dengan relawan ini, insyaAllah saya bisa ke mana-mana,” ujarnya.
Kisah perjuangan juga datang dari Makassar. Syamsuddin, mitra GrabCar sejak 2017, sebelumnya berprofesi sebagai sopir angkot. Ia merasakan kerasnya penolakan di masa awal transportasi online hadir.
“Awal-awal di Makassar sama, ditolak juga. Sampai-sampai kalau demo di depan kantor gubernur, HP saya diambil,” kenangnya. Namun seiring waktu, resistensi mereda. Banyak sopir pangkalan akhirnya ikut bergabung.
Perubahan itu berdampak nyata bagi keluarganya. “Anak pertama sudah kelas 2 SMP. Itu semua dari Grab,” kata Syamsuddin. Delapan tahun perjalanan menjadi bukti konsistensi dan adaptasi terhadap perubahan zaman mampu meningkatkan taraf hidup keluarga.
Sementara itu, Muhammad Yunus dari Jabodetabek menunjukkan mobilitas vertikal di dalam ekosistem Grab. Bergabung sejak Agustus 2015, awalnya ia masih bekerja kantoran sambil menjadi pengemudi paruh waktu.
“Setelah nyaman, saya resign, saya full di GrabBike,” ujarnya. Perjalanannya berlanjut ke GrabCar hingga akhirnya menjadi driver premium. “Ternyata lebih baik pendapatannya daripada GrabCar biasa,” katanya.
Dampaknya terasa langsung dalam pendidikan anak-anaknya. “Alhamdulillah, anak-anak saya tiga, dua sudah kuliah, satu juga sudah kuliah,” ucap Yunus dengan bangga.
Para mitra Grab Indonesia mendapatkan apresiasi berupa pemberangkatan umroh. Pengumuman itu disambut haru. Beberapa mitra tampak berkaca-kaca. Program ini menjadi simbol pengakuan atas dedikasi dan kontribusi mereka di lapangan.
Kisah kelima mitra ini menunjukkan profesi pengemudi daring bukan sekadar pekerjaan informal berbasis aplikasi. Ia telah menjadi ruang mobilitas sosial, medium pemberdayaan, sekaligus jembatan menuju kehidupan yang lebih stabil.
Di balik kemudi, mereka menghadapi risiko jalanan, tekanan sosial, dan ketidakpastian pendapatan. Namun konsistensi, adaptasi, dan semangat membantu sesama membentuk narasi berbeda: dari sekadar bertahan menjadi bangkit.
Bagi Fika Chasasmeta, Jonathan, Yussa, Syamsuddin, serta Muhammad Yunus, perjalanan mereka membuktikan satu hal, yaitu kerja keras di jalanan bisa mengantarkan pada keberkahan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. (Z-2)
Kisah inspiratif Rangga, siswa SD di Gowa yang bersekolah dengan bekal singkong, menggugah Gubernur Sulsel hingga turun tangan menyalurkan bantuan.
Nur Agis Aulia menginspirasi sebagai Wakil Wali Kota Serang berkat prinsip pantang menyerah.
Teladani Abu Bakar As-Siddiq: Sahabat setia Nabi, khalifah pertama, dan tokoh inspiratif dalam sejarah Islam. Pelajari kisah hidupnya!
Alam bercerita! Temukan kisah inspiratif tentang lingkungan, pelajari harmoni alam, dan temukan kekuatan perubahan di sekitarmu.
Apa Arti Don't Give Up, Motivasi Hidup. Jangan menyerah! Temukan arti Don't Give Up, motivasi hidup, tips bangkit, dan raih tujuanmu. Inspirasi & semangat ada di sini!
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menghadiri sidang perdana dugaan korupsi pengadaan laptop chromebook.
KASUS tewasnya pengemudi ojek online (driver ojol), Affan Kurniawan, akibat dilindas barracuda Brimob dilimpahkan ke Bareskrim Polri.
INDRIVE Indonesia memastikan dua orang yang menjadi perwakilan pengemudi ojek online saat bertemu Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Minggu (31/8), merupakan mitranya
RIBUAN pengemudi ojek online (driver ojol) dari Gojek melakukan doa bersama untuk mengenang almarhum Affan Kurniawan di Masjid ALatief pada Senin (1/9) malam.
Ekonom mendesak agar kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN), dan pajak bumi dan bangunan (PBB) pada 2025, maupun pungutan daerah harus segera direvisi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved