Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYAKIT cacingan hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan serius bagi anak-anak di Indonesia. Sebagai negara beriklim tropis, Indonesia merupakan wilayah endemis tempat parasit cacing dapat berkembang biak dengan cepat dan menginfeksi masyarakat, terutama kelompok usia anak.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr. Yenny Rachmawati, MBiomed, mengungkapkan bahwa kebiasaan yang sering dianggap sepele menjadi pintu utama penularan.
Bermain di tanah tanpa alas kaki atau lupa mencuci tangan sebelum makan adalah dua faktor risiko terbesar.
"Cacingan adalah infeksi parasit cacing yang paling sering menyerang saluran pencernaan atau usus manusia," ujar Yenny, dikutip Selasa (20/1).
MI/HO--Dosen Fakultas Kedokteran (FK) IPB University, dr. Yenny Rachmawati, MBiomedAnak-anak menjadi kelompok paling rentan karena belum memiliki kesadaran higienitas yang baik.
Meski orang dewasa juga berisiko, daya tahan tubuh dan kesadaran akan kebersihan yang lebih tinggi membuat tingkat kejadian pada orang dewasa cenderung lebih rendah.
Data menunjukkan bahwa 20%–30% anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan secara global.
Namun, Yenny menyoroti kondisi di wilayah terpencil yang jauh lebih memprihatinkan. Di beberapa daerah, prevalensi infeksi ini bahkan dapat mencapai angka 60%–90%.
Jenis cacing yang paling umum menginfeksi manusia antara lain cacing gelang (Ascaris lumbricoides), cacing tambang, cacing cambuk, dan cacing kremi.
Salah satu tantangan dalam menangani cacingan adalah gejalanya yang sering tidak terlihat pada tahap awal.
"Jika jumlah cacing masih sedikit, sering kali tidak ada gejala sama sekali," jelas Yenny.
Namun, ketika infeksi semakin berat, parasit tersebut mulai "mencuri" nutrisi dari tubuh inangnya. Dampaknya bisa fatal, mulai dari kekurangan gizi, anemia, nyeri perut, hingga penyumbatan usus yang memerlukan tindakan operasi.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Yenny mengungkapkan bahwa kecacingan berkontribusi langsung terhadap risiko stunting. Nutrisi yang hilang akibat parasit menghambat pertumbuhan fisik dan menurunkan daya tahan tubuh anak.
Sebagai langkah antisipasi, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menjadi harga mati. Hal ini mencakup kebiasaan mencuci tangan, menggunakan alas kaki, serta memastikan makanan yang dikonsumsi bersih dan matang.
Selain itu, masyarakat diimbau memanfaatkan program pemerintah yang menyediakan obat cacing gratis setiap enam bulan sekali.
"Jangan menganggap remeh cacingan. Pencegahannya jauh lebih mudah dibandingkan pengobatannya," tegas Yenny di akhir penjelasannya. (Z-1)
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Pemilihan alas kaki seharusnya mengutamakan kenyamanan anak di atas fungsi korektif yang belum tentu diperlukan.
PERSAINGAN industri alas kaki nasional yang selama ini didominasi pemain berskala besar dan merek global menjadi semakin ketat.
Indonesia dan AS masih bernegosiasi tarif untuk beberapa komoditas yang tidak bisa diproduksi AS untuk dikenakan tarif 0%.
Alas kaki mencakup berbagai jenis seperti sepatu, sandal, sepatu boots, hingga sepatu olahraga.
Pada kuartal pertama 2025, nilai ekspor produk alas kaki Indonesia mencapai 1,89 miliar dolar AS, meningkat 13,80% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved