Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

6 Persen Bayi di Indonesia Lahir dengan Berat Badan Rendah, Kemenkes Waspadai Stunting!

Atalya Puspa    
23/1/2026 18:13
6 Persen Bayi di Indonesia Lahir dengan Berat Badan Rendah, Kemenkes Waspadai Stunting!
Bayi di Indonesia Lahir dengan Berat Badan Rendah.(Freepik)

PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 mengungkap persoalan mendasar kesehatan ibu dan anak di Indonesia. Salah satu temuan paling menonjol adalah masih tingginya angka bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), yang berpotensi memicu masalah stunting di kemudian hari.

Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa dari hasil pemeriksaan bayi baru lahir melalui CKG, sebanyak 6 persen bayi tercatat lahir dengan berat badan di bawah 2,5 kilogram.

“Yang pertama, persentase yang cukup tinggi adalah bayi yang berat lahirnya rendah. Pada saat umur dua hari kita periksa, ternyata 6 persen dari bayi kita berat lahirnya rendah, atau bayi kecil di bawah 2,5 kilogram,” ujar Maria dalam konferensi pers secara daring, Jumat (23/1).

Maria menekankan bahwa bayi dengan BBLR memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting. Sebagai langkah preventif, pemerintah mendorong ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan kehamilan minimal enam kali dan memastikan konsumsi gizi seimbang.

Namun, bagi bayi yang sudah terlanjur lahir dengan berat rendah, Maria memberikan instruksi khusus terkait perawatan intensif. “Kalau sudah lahir bayi kecil, yang harus dilakukan adalah memberikan ASI tiap dua sampai tiga jam dan tetap periksa secara rutin minimal sebulan sekali ke fasilitas kesehatan supaya berat badannya bisa dikejar,” jelasnya.

Selain masalah berat badan, CKG juga mendeteksi sejumlah kelainan bawaan seperti penyakit jantung bawaan kritis dan kekurangan hormon tiroid. Maria memperingatkan bahwa kekurangan hormon tiroid yang tidak ditangani dapat menyebabkan retardasi mental pada anak.

Hingga akhir 2025, Program CKG dilaporkan telah menjangkau 70 juta penduduk di 38 provinsi. Sebanyak 10.225 puskesmas telah aktif menyelenggarakan pemeriksaan ini, dengan cakupan tertinggi berada pada kelompok bayi baru lahir yang mencapai 52 persen.

Kementerian Kesehatan akan menjadikan evaluasi CKG 2025 sebagai dasar perbaikan program di tahun 2026, dengan fokus utama pada peningkatan kesadaran masyarakat dalam menindaklanjuti rekomendasi medis. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya