Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Prevalensi Obesitas Indonesia Naik, Berikut Cara Cermat Pilih Pangan Olahan

 Gana Buana
04/3/2026 18:13
Prevalensi Obesitas Indonesia Naik, Berikut Cara Cermat Pilih Pangan Olahan
Prevalensi obesitas di Indonesia naik menjadi 23,4%.(Freepik)

PREVELENSI obesitas pada penduduk usia 18 tahun ke atas di Indonesia menunjukkan tren mengkhawatirkan. Berdasarkan data terbaru, angka obesitas meningkat dari 21,8% pada 2018 menjadi 23,4% pada 2023. Kenaikan ini memicu alarm bagi sektor kesehatan publik karena dampaknya terhadap risiko penyakit tidak menular.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menyatakan bahwa obesitas harus dipandang sebagai kondisi medis yang serius.

"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan atau gaya hidup. Ini penyakit kronis yang risikonya besar terhadap kesehatan," ujar Nadia dalam acara Nutrifood Media Briefing di Jakarta Pusat, Selasa (3/3).

Penyebab Utama dan Risiko Penyakit Kronis

Obesitas terjadi akibat akumulasi konsumsi kalori berlebihan dalam jangka panjang. Di tengah gaya hidup modern, ketergantungan pada pangan olahan dan makanan siap saji menjadi faktor risiko utama.

Nadia menjelaskan bahwa masyarakat perlu menyadari kaitan erat antara pola makan dengan risiko diabetes, hipertensi, hingga penyakit jantung.

Sebagai langkah preventif, Kemenkes secara konsisten mengampanyekan pembatasan konsumsi Gula, Garam, dan Lemak (GGL). Program edukasi ini telah berjalan sejak 2013 melalui kolaborasi lintas sektor antara Kemenkes, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta pihak swasta seperti Nutrifood.

Pentingnya Literasi Label Kemasan

Kunci dalam mengendalikan obesitas di era modern bukan dengan menghindari total pangan olahan, melainkan dengan meningkatkan literasi membaca label kemasan.

"Yang terpenting adalah mengenali informasi nilai gizi dan komposisi pada kemasan, sehingga pangan olahan yang dikonsumsi justru dapat membantu mengurangi risiko obesitas," tambah Nadia.

Masyarakat juga diimbau memanfaatkan momentum Ramadan untuk melakukan detoksifikasi pola makan dengan mengurangi takaran konsumsi gula, garam, dan lemak secara bertahap saat berbuka maupun sahur.

Tips Membaca Label Gizi:

  • Cek jumlah sajian per kemasan.
  • Perhatikan total kalori per sajian, bukan per kemasan.
  • Batasi produk dengan kandungan Natrium dan Gula yang tinggi di urutan awal komposisi.

Peran Teknologi Pangan dalam Keamanan Produk

Senada dengan Kemenkes, Direktur Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center IPB University, Puspo Edi Giriwono,  menekankan bahwa pangan olahan sebenarnya diproduksi berbasis sains untuk menjamin mutu dan keamanan.

Menurut Puspo, bahan tambahan pangan yang tercantum pada kemasan telah melalui kajian keamanan yang ketat dan memiliki batas aman konsumsi (ADl).

"Tantangan utama bukan pada keberadaan pangan olahan, melainkan pada pemahaman masyarakat terhadap proses pengolahan dan informasi label," jelasnya.

Edukasi publik yang masif menjadi solusi jangka panjang agar masyarakat dapat memilih pangan secara lebih bijaksana dan tetap menjaga pola makan seimbang guna menekan angka prevalensi obesitas di masa depan. (Ant/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya