Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Kesehatan Pencernaan Anak Kunci Kejar Target Penurunan Stunting 2029

Intan Safitri
08/1/2026 20:12
Kesehatan Pencernaan Anak Kunci Kejar Target Penurunan Stunting 2029
Perbaikan nutrisi dan sistem pencernaan anak krusial demi capai target stunting(MI)

PEMENUHAN kesehatan pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dengan fokus pada sistem pencernaan menjadi strategi vital dalam upaya pemerintah mengejar target penurunan angka stunting nasional menjadi 14,2 persen pada 2029. Kesehatan saluran cerna dinilai sebagai pintu gerbang utama penyerapan nutrisi yang menentukan kualitas sumber daya manusia (SDM) menuju Indonesia Emas 2045.

Ahli kesehatan masyarakat yang fokus pada nutrisi dan tumbuh kembang anak, Ray Wagiu Basrowi, mengungkapkan bahwa intervensi gizi tidak akan efektif tanpa sistem pencernaan yang sehat. Hal tersebut ia sampaikan dalam diskusi Aksi Nyata untuk Indonesia Lebih Sehat melalui Inovasi Berbasis Sains dan Kolaborasi di Jakarta, Kamis (8/1).

"Untuk mendapatkan keluarga sehat sebagai pilar terpenting peradaban suatu bangsa, kita perlu ibu dan anak yang sehat. Yang terpenting dari nutrisi itu ada di sistem pencernaan. Jadi, jaga baik-baik sistem pencernaan," tegas Ray.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), satu dari dua anak Indonesia masih mengalami kekurangan asupan serat. Defisiensi ini menghambat pertumbuhan bakteri baik (mikroflora) dalam usus, yang berujung pada gangguan pencernaan kronis dan terhambatnya penyerapan gizi.

Dampak pada Pendidikan dan Ekonomi

Riset Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) memproyeksikan bahwa tanpa penanganan stunting yang serius, proporsi lulusan sarjana di Indonesia sulit meningkat dalam 20 tahun ke depan. Saat ini, mayoritas demografi pendidikan masih didominasi lulusan tingkat dasar.

Data menunjukkan korelasi kuat antara kesehatan fisik dan prestasi akademik. Anak dengan status nutrisi dan imunitas baik memiliki peluang 4,6 kali lebih besar untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Sebaliknya, gangguan pencernaan dapat meningkatkan risiko kegagalan akademik hingga tiga kali lipat akibat penurunan kapasitas kognitif.

Ray menambahkan, investasi pada gizi anak juga berdampak langsung pada kesejahteraan ekonomi jangka panjang. "Anak yang tumbuh sehat memiliki potensi penghasilan 21% lebih tinggi saat dewasa dibandingkan mereka yang mengalami masalah gizi sejak dini," paparnya.

Oleh karena itu, strategi penanganan anemia dan penguatan kesehatan saluran cerna melalui inovasi berbasis sains kini menjadi prioritas nasional. Kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan setiap keluarga mampu menjaga kualitas 1000 HPK demi keberlanjutan pembangunan bangsa. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya