Headline

Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.

Animasi, Gizi, dan Satu Persen Kebaikan: Kiprah Faris Budiman Annas Melawan Stunting

Media Indonesia
12/2/2026 14:10
Animasi, Gizi, dan Satu Persen Kebaikan: Kiprah Faris Budiman Annas Melawan Stunting
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina Faris Budiman Annas(Dok Tanoto Foundation)

DARI yang semula kurus kering, tubuh pelaut itu tiba-tiba bertambah besar dan berisi. Kedua tangannya seketika penuh otot dan kuat. Orang-orang jahat langsung kena sikat. Kekuatan itu datang dari sekaleng sayur bayam yang langsung dilahap saat situasi darurat. Itulah cerita Popeye Si Pelaut yang dikenal generasi 1970-1990-an, termasuk di Indonesia, melalui tayangan animasi di televisi.

Siapa sangka, karya visual yang berlebih-lebihan itu punya dampak besar. Di negeri asalnya, Amerika Serikat, pola makan anak-anak pada dekade 1930-an berubah. Konsumsi bayam langsung melonjak 33 persen. Meski tak langsung membuat badan berotot seperti Popeye, makan sayur bayam jelas menyehatkan. Apalagi kala itu "sayuran super" ini tak hanya berkontribusi bagi kesehatan, melainkan juga mengungkit ekonomi AS di tengah resesi "Great Depression".

Dalam literatur, fenomena ini dikenal sebagai "The Popeye Principle" di mana norma sosial mengenai kesehatan dapat dibentuk melalui media populer. Melalui karya visual atau animasi, isu-isu kesehatan dapat lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Mereka tak merasa sedang diajari, namun mengikuti kampanye kesehatan yang disampaikan lewat berbagai ilustrasi menarik.

Saat ini, penggunaan karya visual dan animasi sebagai strategi komunikasi untuk menyampaikan isu-isu kesehatan kepada anak-anak makin lazim diterapkan. Misalnya saja langkah-langkah pencegahan penularan Covid-19 di serial animasi "Upin dan Ipin" dan pengenalan tema kesehatan mental di film animasi "Inside Out 2". 

Faris Budiman Annas, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menjelaskan, karya-karya visual memang efektif dalam menyampaikan kampanye kesehatan untuk anak-anak. 

"Kita berikan literasi kesehatan dan gizi dalam format-format yang menarik seperti video animasi. Jadi anak-anak tidak mereasa membosankan karena kita kemas dan desain programnya sesuai usia mereka," ujarnya.  

Menurutnya, seiring perkembangan strategi komunikasi dan pesatnya teknologi informasi, cara-cara kampanye tentang isu kesehatan juga terus berkembang. Karya visual dan animasi kini disebarkan melalui media digital, bahkan dikombinasikan sebagai permainan interaktif.  "Kita implementasikan teknologi dalam literasi gizi dan kesehatan. Jadi tidak pakai cara-cara konvensional," imbuhnya. 

Metode ini bukan hanya menarik minat anak-anak. Orang tua pun dapat lebih memahami isu-isu kesehatan melalui penyampaian yang atraktif dan tak membosankan. Pada gilirannya, strategi komunikasi ini diharapkan mampu meningkatkan literasi kesehatan, seperti perbaikan gizi dan pencegahan stunting.  

Sebagai pengajar, Faris tak sekadar mengacu teori di literatur ilmu komunikasi dalam menyampaikan perkembangan tersebut. Hal itu ia buktikan sendiri berkat keterlibatannya sebagai relawan di  Foundation for Mother and Child Health (FMCH) Indonesia yang dikenal juga sebagai Yayasan Balita Sehat, sebuah lembaga nirlaba yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup dan kesehatan ibu dan anak.

"Kita punya beberapa project di daerah-daerah tertinggal seperti di Nusa Tenggara Timur (NTT). Supaya anak-anak di sana melek terkait kesehatan dan gizi, pertumbuhan mereka bagus, dan mencegah  stunting," paparnya. 

Hingga kini, NTT memang tergolong daerah dengan angka stunting tinggi di Indonesia, yakni mencapai 37 persen pada 2023-2025. Kondisi tersebut tak lepas dari gizi buruk, kemiskinan, dan sulitnya akses air bersih di sana. 

Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu. Memanfaatkan skill-nya di bidang komunikasi, ia bertugas sebagai fotografer dan videografer yang merekam dokumentasi dan menyiapkan materi kampanye. 

Pada perkembangannya, sebagai akademisi dan Sekretaris FMCH Indonesia, Faris turut memberikan arahan, menggelar brainstorming, hingga melakukan monitoring terhadap kampanye-kampanye kesehatan yang dikembangkan FMCH Indonesia. Bukan hanya di NTT, dukungan lembaga tersebut juga mencakup sejumlah wilayah di Jakarta dan Bogor. 

Faris turut mengembangkan perpustakaan keliling, pertunjukan boneka, permainan interaktif, hingga seri animasi ‘Aku Bisa Hadapi Ini’ yang disebarkan di media sosial. Berbagai strategi ini dikembangkan dengan satu tujuan, yakni perbaikan gizi dan kualitas hidup anak-anak di daerah rentan tersebut.
"Kalau anak-anak ini dan orang tua mereka literasi gizinya bagus, ujung-ujungnya adalah tingkat stuntingnya menurun," tandasnya.

Mengasah Kepekaan Sosial

Tak banyak akademisi muda yang mau bersusah payah untuk terjun langsung ke lapangan menerapkan ilmunya, apalagi di bidang kerelawanan. Keterlibatan Faris untuk bergabung dengan lembaga nirlaba di ranah kesehatan ini tak lepas dari keaktifannya di berbagai kegiatan, baik akademik, bisnis, hingga sociopreneurship.

Pada 2009, Faris menempuh studi S1 Ilmu Komunkasi di Institut Pertanian Bogor (IPB). Setelah menjadi sarjana, pemuda asal Gorontalo, Sulawesi Utara ini sempat terjun sebagai praktisi dengan menjadi jurnalis. Faris juga mengembangkan sejumlah usaha dan startup, termasuk kafe Secangkir Kopi dan agensi media Qonten Indonesia. Tahun 2015, Faris memutuskan untuk melanjutkan studi S2 di Universitas Indonesia (UI), di sinilah ia mengetahui adanya dukungan pendidikan lewat beasiswa yang diberikan lembaga filantropi Tanoto Foundation. 

Tertarik, Faris pun mendaftar, mengikuti serangkaian seleksi, dan dinyatakan lolos. Tak hanya menjadi penerima beasiswa, sosoknya yang aktif membuatnya terlibat di berbagai program Tanoto Foundation yang bertujuan untuk mengasah kepemimpinan para Tanoto Scholar (penerima beasiswa). “Kita bikin beberapa kali kegiatan, seperti menjadikan taman sebagai ruang dan program sosial di Museum Batik, Jakarta, dengan memberikan edukasi soal batik," paparnya. 

Menurut Faris, Tanoto Foundation bukan hanya memberikan dukungan pendanaan pendidikan kepada mahasiswa. Beasiswa ini juga memperluas wawasan dan jejaring para penerima beasiswa dengan banyak pihak, terutama dari para alumni peraih beasiswa yang telah menyebar di berbagai bidang profesional. 

"Alumni gatheringnya ini keren. Jadi kita tidak hanya dapat benefit secara ekonomi, tapi dari sisi networking dan pengalaman kita bisa dapatkan dari beasiswa Tanoto Foundation ini. Gara-gara pertemuan-pertemuan ini kita juga bisa berkolaborasi," imbuhnya.

Namun yang paling berkesan, menurut Faris, berbagai program dan pelatihan di Tanoto Foundation memberikan dampak besar baginya secara personal. 

"Kepekaan terhadap isu-isu sosial itu terpantik gara-gara aktif waktu dulu dapat beasiswa. Makanya sampai sekarang, saat sudah jadi alumni pun, saya masih aktif di kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan. Kalau saya flashback, salah satu momentum yang membangkitkan insting saya untuk punya kepekaan sosial ya di program Tanoto Scholar," ujarnya.

Dengan dukungan beasiswa Tanoto Foundation, gelar master diraih Faris pada 2017. Setahun kemudian, ia mulai mengajar ilmu komunikasi di Universitas Paramadina. Ia mengaku memiliki darah sebagai seorang pendidik dari kakek yang seorang dosen dan neneknya yang menjadi guru, sementara sang ayah adalah peneliti di bidang pertanian.

"Seru aja gitu melihat orang meneliti kayaknya belajar terus. Waktu saya kecil yang saya lihat ilmuwan-ilmuwan Albert Einstein dan Thomas Alva Edison kayaknya menarik," katanya seraya tertawa.

Komitmen untuk menjadi pengajar dilandasi keyakinan Faris bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas hidup manusia. Apalagi dari sejumlah pengalamannya, ia menyaksikan sendiri perjuangan seseorang untuk mengangkat harkat hidup lewat pendidikan. Salah satunya dari mahasiswa saat ia sempat mengajar di Gorontalo. 

Mahasiswa tersebut menjadi sopir becak motor (bentor) sepulang kuliah. Kini, setelah lulus, mahasiswa itu mengembangkan usaha video pernikahan di kampung halamannya berkat ilmu videografi yang diajarkan di bangku kuliah.

"Masuk kampus jadi salah satu medium saya buat berbagi ilmu dengan banyak orang, baik itu mahasiswa maupun kolega lainnya. Ilmu yang bermanfaat bisa dipakai buat kerja, dapat penghasilan, terus improve-lah kehidupannya. Pendidikan salah satu bentuk katalis untuk menaikkan level kehidupan seseorang," katanya. 

Tak hanya di kelas, kiprah Faris juga menjangkau kalangan akar rumput yang lebih luas. Seperti yang dikatakannya, hal itu tak lepas dari relasi dan silaturahmi dengan komunitas alumni penerima beasiswa Tanoto Foundation yang tak pernah putus hingga membuka jejaring lebih luas. Dari komunitas ini, Faris menerima informasi adanya  kebutuhan peneliti untuk sebuah riset tentang pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Faris pun tertarik untuk bergabung, kendati pihak perekrut melihat kualifikasi sang dosen terlalu tinggi. 

"Waktu itu saya sudah kelar S2 dan mengajar, mereka kaget kenapa mau bantu. Takutnya enggak sesuai ekspektasi benefitnya. Saya pun bilang, memang saya pengin bantu, enggak ngincer timbal balik. Memang pengin cari pengalaman," ujarnya. 

Kinerja Faris dalam riset tersebut menuai apresiasi. Sejumlah pihak yang terlibat di penelitian itu  kemudian mengajaknya untuk bergabung di Yayasan Balita Sehat (Foundation for Mother and Child Health Indonesia) untuk menangai program-program komunikasi di bidang kesehatan. Ia pun langsung mengangguk setuju. "Sifatnya ini probono. Sukarela," tegas Faris yang baru saja meraih gelar doktor dari Universitas Paramadina. 

Satu Persen Kebaikan per Hari

Terjun ke ranah kampanye sosial membuat Faris sadar bahwa Indonesia masih punya banyak pekerjaan rumah dalam menghadapi tantangan kesehatan ibu dan anak. "Perlu banyak kerja keras," tandasnya.

Ia menggarisbawahi bahwa pihak yang perlu diedukasi lebih intens adalah orang tua. Hal ini berkaitan dengan kemampuan parenting orang tua yang memprihatinkan. 

"Banyak orang tua yang tidak paham terkait stunting. Nutrisi anak juga mereka anggap fine-fine aja, tapi impact-nya ketika mereka melihat pertumbuhan anak terhambat dan terjadi stunting," ujarnya. 

Apalagi muncul sejumlah kasus terkait kesehatan anak yang membuat banyak pihak mengelus dada, seperti kematian seorang bocah dengan temuan cacing pita di tubuhnya. "Kita bisa melihat bahwa itu sebenarnya sampel-sampel bahwa ternyata banyak anak-anak yang enggak diperhatikan kebersihannya," ujar Faris. 

Menurutnya, sering kali kita salah paham bahwa kondisi-kondisi abainya masalah kesehatan anak hanya terjadi di daerah terpencil. Padahal problem kesehatan anak juga ditemukan di perkotaan bahkan di kota-kota besar. Mulai dari aspek kebersihan hingga asupan makanan yang tak terjaga, seperti konsumsi  ultra processed food.

"Banyak juga orang yang tinggal di kawasan urban yang memang literasi mereka terkait gizi dan kesehatan itu perlu ditingkatkan," katanya. 

Untuk itu, Faris berharap semua pihak dapat berpartisipasi untuk mengatasi masalah kesehatan anak ini dan mencegahnya supaya tidak bertambah parah. Kontribusi dapat dilakukan lewat berbagai macam cara. Seperti dirinya, Faris mengajak para praktisi komunikasi untuk menghasilkan konten-konten kampanye kesehatan dan pencegahan stunting.

Apalagi ia melihat perkembangan teknologi digital dan kecerdaan buatan (AI) dapat membantu langkah ini. Para kreator konten bisa menghasilkan karya-karya visual yang makin atraktif dan kreatif sebagai media sosialisasi kesehatan. 

Upaya ini sekaligus menepis anggapan dan membuktikan bahwa teknologi digital AI lebih banyak mudaratnya dalam ranah komunikasi. "Kita enggak bisa melihat itu sebagai suatu ancaman, tapi justru kita beradaptasi dan menjadi alat bantu supaya kita lebih produktif dan lebih efisien," katanya.  

Melalui langkah ini pula, Faris hendak menunjukkan bahwa semua pihak dapat berperan dan punya andil dalam mengatasi berbagai masalah bangsa. Sekecil apapun sumbangsih itu. Ini sesuai dengan prinsip hidupnya: satu persen kebaikan setiap hari. 

"Tujuannya adalah bisa berkembang setiap hari meskipun hanya sedikit, satu persen. Itu kecil banget, tapi kalau setiap hari dalam satu tahun, 365 hari, improve-nya sudah dua kali lipat lebih. Dari small step, tiap hari kita bikin improvement - improvement kecil yang lama-lama akumulasinya akan jadi besar," ujar Faris optimistis. 

Memang strategi satu persen kebaikan per hari ini tak seinstan efek bayam yang dilahap Popeye, namun optimisme Faris dalam kontribusinya di bidang kesehatan ibu dan anak jelas tak kalah kuat dibanding otot si pelaut di film animasi itu. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya