Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pangan Nasional (Bapanas) mendukung penuh upaya mempercepat penurunan stunting dan gizi buruk di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui implementasi beras fortifikasi. Dukungan dari Bapanas yakni memastikan ketersediaan pangan bergizi bagi masyarakat, khususnya kelompok rentan di wilayah dengan tingkat prevalensi stunting yang masih tinggi.
“Bagi masyarakat dengan penghasilan terbatas, beras menjadi fokus utama karena mengejar rasa kenyang. Di situlah fortifikasi menjadi penting, agar kenyang tetap didapat dan sehat juga didapat,” ujar Deputi Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto mengatakan dalam keterangan resmi, Sabtu (29/11).
Sebagai informasi, beras fortifikasi adalah beras yang telah diperkaya dengan vitamin dan mineral tambahan melalui proses teknologi pangan untuk meningkatkan kandungan gizinya
Menurut Andrik, beras fortifikasi merupakan solusi realistis karena menjangkau langsung pola konsumsi harian masyarakat, sekaligus memberikan dampak gizi jangka panjang.
Bapanas, lanjutnya, berkomitmen untuk mengarahkan dan mengawal implementasi beras fortifikasi, termasuk dalam skema bantuan pangan pemerintah pusat maupun daerah. Pengawalan tersebut difokuskan pada wilayah dan kelompok sasaran dengan tingkat stunting dan kerentanan gizi mikro, sehingga intervensi pangan benar-benar berdampak dan efisien.
“Jika beras yang disalurkan bernilai gizi lebih tinggi, maka manfaat bantuan pangan akan jauh lebih besar dan berkelanjutan,” tegasnya.
Penguatan intervensi berbasis pangan pokok bergizi seperti menggunakan beras fortifikasi pada pemberian makanan tambahan (PMT) dinilai sangat relevan untuk mempercepat penurunan stunting hingga gizi buruk.
“Terutama di wilayah dengan keterbatasan akses pangan bergizi dan layanan dasar,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTT Iien Adriany.
Secara nasional, prevalensi stunting Indonesia berhasil diturunkan dari 27,7% menjadi 19,8% dalam lima tahun terakhir. Sejalan dengan capaian tersebut, kata Iien, Nusa Tenggara Timur menjadi salah satu wilayah prioritas penguatan intervensi stunting.
Meski prevalensi stunting di NTT masih relatif tinggi, data menunjukkan adanya tren penurunan dari 37,9% menjadi 37% pada 2025. Menurutnya, itu menandakan adanya progres awal yang perlu terus diperkuat melalui intervensi pangan bergizi yang lebih terarah.
Adapun fortifikasi pangan diatur dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan serta Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi. Produk ini juga telah ditetapkan sebagai strategi penting dalam perbaikan status gizi masyarakat.
Bahkan, beras fortifikasi telah menjadi indikator prioritas nasional dalam RPJMN 2025–2029, sebagai bagian dari agenda besar pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Secara substansi gizi, beras fortifikasi mengandung mikronutrien esensial seperti vitamin A, vitamin B kompleks (B1, B2, B3, B6, B12), asam folat, serta mineral zat besi dan zinc.
Kandungan tersebut berperan penting dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, kesehatan ibu hamil, pencegahan anemia, serta penguatan daya tahan tubuh, khususnya bagi kelompok paling rentan terhadap gizi buruk.
Bapanas mendorong kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, dinas teknis serta KFI. Sinergi ini diharapkan mampu memastikan beras fortifikasi diterapkan secara terarah, tepat sasaran, dan berkelanjutan, guna mewujudkan masyarakat NTT yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing. (H-3)
Sejak 2019, Faris terjun ke NTT untuk melakukan misi sosial dalam penanganan masalah kesehatan di daerah itu.
Pemanfaatan kacang hijau untuk mengatasi stunting dinilai sangat relevan karena aksesnya yang mudah, harga terjangkau, serta kandungan gizi yang tinggi.
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
GUBERNUR NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkap potensi dampak serius terhadap sekitar 9 ribu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup Pemprov NTT.
KEMENTERIAN Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) mengawal proses pemulangan 13 korban dugaan TPPO asal Jabar yang ditemukan di Kabupaten Sikka.
Dalam perkara ini, penyidik Polres Belu menerapkan Pasal 473 ayat (4) KUHP sebagaimana disesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana
Sulianto Indria Putra, melalui komunitas TWS, menginisiasi bantuan finansial dan dukungan materi yang dirancang untuk bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup bagi para guru tersebut.
Polres Belu ungkap kronologi kasus dugaan kekerasan seksual terhadap anak di Atambua, NTT.
PEMERINTAH Provinsi Jawa Barat akan mendampingi 12 warga Jabar dalam menghadapi kasus dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved