Headline

Semua hasil kejahatan yang rugikan negara harus dirampas.

Ketika Pertumbuhan Finansial Bertemu Empati: Sulianto Indria Putra dan Langkah Nyata untuk Guru NTT

Basuki Eka Purnama
25/2/2026 12:15
Ketika Pertumbuhan Finansial Bertemu Empati: Sulianto Indria Putra dan Langkah Nyata untuk Guru NTT
Sulianto Indria Putra (kedua dari kanan) bersama para guru di NTT(MI/HO)

BAGI banyak orang, pertumbuhan finansial sering kali dipandang sebagai destinasi akhir dari sebuah perjalanan karier. Namun, bagi Sulianto Indria Putra, pendiri komunitas edukasi digital TWS, angka-angka dalam rekening hanyalah alat, bukan tujuan utama. 

Ia memegang teguh prinsip bahwa keberhasilan seorang pengusaha baru bermakna jika mampu menghasilkan dampak sosial yang nyata bagi sekitarnya.

Prinsip tersebut menemukan ujiannya saat Suli, sapaan akrabnya,mendengar realita pilu dari pedalaman Kupang, Nusa Tenggara Timur. 

Di sana, Agustinus, seorang guru honorer yang telah mengabdi selama 23 tahun, harus menerima kenyataan pahit pemotongan gaji dari Rp600.000 menjadi hanya Rp223.000 per bulan. 

Kondisi serupa dialami oleh Wesli, seorang kepala sekolah di institusi yang sama, yang penghasilannya bahkan hanya mencapai Rp100.000 per bulan. 

Bagi mereka, nominal tersebut bukan sekadar angka, melainkan perjuangan berat untuk menafkahi keluarga setiap harinya.

Ketika kabar ini sampai ke telinganya, Suli tidak hanya melihatnya sebagai sebuah berita duka. Ia menempatkan persoalan ini sebagai tanggung jawab moral yang harus diselesaikan. 

"Jika kita berbicara tentang masa depan bangsa, maka kita sedang berbicara tentang guru. Dan jika guru tidak sejahtera, kita sedang membiarkan fondasi itu rapuh," ujar Suli dengan tegas.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Suli, melalui komunitas TWS, menginisiasi bantuan finansial dan dukungan materi yang dirancang untuk bersifat jangka panjang, bahkan seumur hidup bagi para guru tersebut. 

Langkah ini diambil bukan secara spontan atau emosional belaka. Suli memastikan inisiatif ini telah didiskusikan secara mendalam dengan tim internal dan anggota komunitas untuk menjamin keberlanjutan bantuan tersebut.

Langkah sosial ini menjadi bukti nyata bagi para anggota komunitas TWS bahwa trust economy bukan sekadar jargon transaksi digital. Lebih jauh, konsep ini mencakup keyakinan bahwa kesuksesan yang diraih harus mampu membawa perubahan konkret bagi kemanusiaan. 

Bagi Suli, reputasi seseorang tidak hanya dibangun melalui deretan pencapaian, tetapi melalui konsistensi nilai yang dipegang.

Di balik data dan strategi bisnis yang selama ini menjadi fokus komunitas TWS, yang bergerak dalam bidang literasi finansial, investasi, dan pengelolaan aset digital, ada empati yang menjadi fondasi utamanya. 

Melalui inisiatif ini, Suli ingin menunjukkan bahwa generasi muda pengusaha digital di Indonesia mampu menghadirkan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat. Sebab, pada akhirnya, angka bisa berubah sewaktu-waktu, namun kontribusi tulus kepada sesama akan selalu meninggalkan jejak yang lebih panjang. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya