Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Program PEGAS Turunkan Stunting 26,79% di Gresik dalam 3 Bulan

Media Indonesia
30/1/2026 08:00
Program PEGAS Turunkan Stunting 26,79% di Gresik dalam 3 Bulan
Ilustrasi(Dok Istimewa)

KABUPATEN Gresik mencatat capaian signifikan dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS). Dalam waktu tiga bulan pelaksanaan, program ini berhasil menurunkan angka stunting sebesar 26,79 persen. Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa intervensi gizi yang terencana, terpantau, dan berbasis kolaborasi mampu memberikan dampak nyata bagi perbaikan kualitas gizi anak.

Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi meski belum sepenuhnya keluar dari kondisi stunting. Sementara itu, 8,93 persen balita lainnya masih mendapatkan pendampingan lanjutan dari Dokter Spesialis Anak (DSA) untuk mencapai status gizi yang optimal.

Program PEGAS dilaksanakan secara bertahap di 18 Puskesmas di Kabupaten Gresik, dengan durasi pelaksanaan masing-masing selama tiga bulan dalam periode Agustus hingga Desember 2025. Sasaran program adalah balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis, serta telah melalui proses skrining di Puskesmas. Dari total 60 balita yang terdaftar pada awal program, sebanyak 56 balita berhasil mengikuti seluruh rangkaian intervensi hingga akhir.

Intervensi utama dalam Program PEGAS dilakukan melalui pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis. Produk PKMK yang digunakan telah memenuhi standar PerBPOM No.24/2020 dan memiliki spesifikasi unggul, seperti densitas energi 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) sebesar 10,4 persen. Produk ini juga telah terbukti secara klinis pada populasi anak Indonesia serta terpublikasi secara internasional mampu meningkatkan berat dan tinggi badan anak malnutrisi setelah tiga bulan pemakaian.

Keberhasilan program tidak hanya ditopang oleh intervensi gizi, tetapi juga oleh sistem pemantauan yang ketat. Pemantauan dilakukan secara rutin setiap dua minggu, disertai pendampingan klinis melalui metode telemedicine oleh tim Dokter Spesialis Anak (DSA). Pendampingan ini memungkinkan terjadinya diskusi dan konsultasi berkelanjutan antara tim DSA dan tenaga kesehatan Puskesmas untuk menyesuaikan intervensi gizi sekaligus memperkuat edukasi kepada orang tua.

Salah satu anggota tim DSA, dr. Wiweka Merbawani, Sp.A, menekankan pentingnya penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil dan orang tua sebagai fondasi pencegahan stunting sejak dini.

“Penguatan KIE oleh kader dan tenaga Puskesmas kepada ibu hamil dan orang tua sangat penting, tidak hanya sebagai upaya pencegahan, tetapi juga untuk mendukung identifikasi dan penanganan stunting sejak dini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Program PEGAS terbukti memberikan dampak yang sangat baik terhadap perbaikan status gizi balita stunting dan perlu dilanjutkan secara berkelanjutan. “Ke depan, program seperti ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan diperluas agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak anak,” lanjut dr. Wiweka.

Keberhasilan tersebut juga tercermin dari efektivitas metode telemedicine yang digunakan. Berdasarkan hasil pelaksanaan Program PEGAS, sebanyak 91,07 persen balita peserta dengan permasalahan gizi kurang dan stunting menunjukkan perbaikan status gizi.

Sebagaimana diketahui, stunting merupakan permasalahan multidimensional dengan faktor risiko yang kompleks. Oleh karena itu, pendekatan dalam Program PEGAS tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mencakup penanganan medis sejak dini, penguatan pola makan keluarga, dukungan pola asuh, kelengkapan status imunisasi, serta penerapan gaya hidup sehat.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., menyampaikan apresiasinya atas capaian Program PEGAS yang dinilai berhasil mempercepat penurunan stunting di wilayahnya.

“Capaian Program PEGAS di Kabupaten Gresik menjadi bukti bahwa intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan dilakukan secara kolaboratif mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi anak stunting,” ujar dr. Anik.

Lebih lanjut, dr. Anik menegaskan pentingnya konsultasi langsung dengan Dokter Spesialis Anak untuk memastikan intervensi gizi sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Ia juga menyampaikan bahwa pada tahun 2026, strategi penanganan stunting di Kabupaten Gresik akan semakin diarahkan pada upaya pencegahan melalui skrining dini.

Data capaian Program PEGAS saat ini, menurutnya, dapat menjadi dasar penting dalam perencanaan kebijakan dan kebutuhan pendukung ke depan, termasuk ketersediaan suplemen gizi seperti sirup zat besi (Fe).

Capaian positif Program PEGAS ini menjadi semakin relevan dalam menyongsong Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari, menjadi momentum refleksi bersama tentang pentingnya pemenuhan gizi seimbang sejak dini. Keberhasilan Gresik menunjukkan bahwa upaya perbaikan gizi tidak cukup hanya sebagai kampanye, tetapi harus diwujudkan melalui program nyata, terukur, dan berkelanjutan di tingkat layanan dasar.

“Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, pemerintah, dan sektor swasta memiliki peran penting dalam percepatan penanganan stunting. Harapannya, model ini tidak hanya berdampak di Kabupaten Gresik, tetapi juga dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya kolektif menurunkan angka stunting di Indonesia,” tutup dr. Anik. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya