Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Tantangan Literasi dan Stigma: Mengapa Pengobatan TB Anak Sering Terhambat?

Basuki Eka Purnama
20/1/2026 16:26
Tantangan Literasi dan Stigma: Mengapa Pengobatan TB Anak Sering Terhambat?
Ilustrasi(Freepik)

MASALAH Tuberkulosis (TB) di Indonesia tidak hanya berkutat pada persoalan medis, tetapi juga terganjal oleh rendahnya literasi kesehatan dan stigma sosial. Dokter spesialis anak subspesialis respirologi, Dr. dr. Nastiti Kaswandani, Sp.A, Subsp.Resp., mengungkapkan bahwa faktor-faktor inilah yang kerap membuat pasien atau orangtua ragu memulai pengobatan.

Menurut Nastiti, banyak orangtua belum sepenuhnya menyadari bahaya fatal yang mengancam buah hati mereka. TB pada anak bukan sekadar batuk biasa, melainkan ancaman terhadap masa depan mereka.

"TB itu bisa menyebabkan kematian, kecacatan, kalau pada anak bisa menyebabkan potensi gangguan tumbuh kembang yang terganggu. Itu mereka biasanya belum paham sehingga seperti seolah-olah meremehkan penyakit TB ini," ujar dokter yang berpraktik di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, dikutip Selasa (20/1).

Miskonsepsi Medis dan Ketakutan Efek Samping

Selain kurangnya pemahaman, penggunaan istilah medis yang tidak tepat turut mengaburkan keseriusan penyakit ini. 

Nastiti menyoroti tren penggunaan istilah flek yang sering dipakai untuk menghindari rasa malu akibat stigma TB. Padahal, dalam kamus medis, istilah tersebut tidak dikenal untuk mendiagnosis TB.

Hambatan lain yang sering ditemui di lapangan adalah kekhawatiran berlebih mengenai efek samping obat terhadap fungsi hati (liver). 

Nastiti menegaskan bahwa ketakutan ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda pengobatan yang memakan waktu minimal enam bulan tersebut.

"Itu sering kali menjadi penghambat, padahal hanya sedikit saja yang mengalami permasalahan dan permasalahan itu sifatnya sementara," jelasnya. 

Ia menambahkan bahwa organ liver dapat kembali normal dengan penyesuaian dosis atau penghentian obat sementara di bawah pengawasan dokter.

Strategi Pencegahan dan Peran Keluarga

Mengingat TB menular melalui droplet saat penderita berbicara, batuk, atau bersin, Nastiti menekankan pentingnya pencegahan sejak dini. 

Langkah utama adalah membatasi kontak erat dengan pasien dewasa yang berada dalam masa infeksius, yakni periode sebelum berobat hingga dua minggu pertama masa pengobatan.

Selain perlindungan fisik seperti penggunaan masker dan pemberian vaksin BCG segera setelah lahir, pemenuhan gizi dan terapi pencegahan menjadi krusial.

"Kemudian kalau dia memang anak balita, kemudian ada pasien TB yang infeksius, anak tersebut direkomendasikan untuk mendapat terapi pencegahan," tutur anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tersebut.

Menghadapi masa pengobatan yang panjang, dukungan psikologis dari keluarga menjadi fondasi utama. Keluarga bertugas menjaga kedisiplinan minum obat guna menghindari kegagalan terapi akibat rasa bosan atau stigma.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Kesehatan telah menunjukkan komitmennya dengan menambah anggaran khusus pada 2026. Fokus anggaran ini adalah untuk perluasan akses layanan skrining dan diagnosis, terutama di wilayah-wilayah dengan prevalensi kasus TBC yang tinggi. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya