Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kenali Tuberkulosis Laten, Silent Killer yang Bisa Bertahun-tahun Berdiam di Dalam Tubuh

Iko Amraeny
14/11/2025 11:46
Kenali Tuberkulosis Laten, Silent Killer yang Bisa Bertahun-tahun Berdiam di Dalam Tubuh
Ilustrasi(Freepik)

TUBERKULOSIS (TB) tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Penyakit ini sering disebut sebagai silent killer karena bakteri penyebabnya dapat berdiam dalam tubuh tanpa menimbulkan gejala apa pun selama bertahun-tahun. Kondisi inilah yang dikenal sebagai TB laten, dan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam upaya pengendalian TB.

TB disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Meski terutama menyerang paru-paru, bakteri ini juga dapat menginfeksi organ lain seperti otak, kelenjar getah bening, ginjal, tulang belakang, dan laring. Penularan terjadi melalui udara ketika penderita TB aktif batuk, berbicara, atau bernyanyi.

Menurut para ahli, bakteri TB dapat “bersembunyi di area kecil paru-paru atau kelenjar getah bening dan tetap dalam kondisi tidur selama berminggu-minggu hingga bertahun-tahun sebelum aktif kembali.” Saat aktif, bakteri mulai berkembang biak, menyebabkan gejala, dan dapat menular kepada orang lain.

Dua Bentuk TB: TB Laten dan TB Aktif

TB Laten (Inactive TB)

  • Bakteri TB ada dalam tubuh, tetapi tidak aktif.
  • Tidak menimbulkan gejala.
  • Tidak menular.
  • Risiko menjadi TB aktif sekitar 5–10% dalam 2–5 tahun pertama jika tidak diobati.

Namun, risiko meningkat pada orang dengan sistem kekebalan tubuh lemah.

Meski tidak menular, infeksi laten tetap berbahaya karena dapat berubah menjadi aktif kapan saja jika imun menurun, misalnya saat sakit atau mengalami kondisi medis tertentu.

TB Aktif

Bakteri berkembang biak dan menyebabkan gejala.

  • Dapat menular ke orang lain.
  • Tanpa pengobatan, dapat berakibat fatal.

Gejala TB aktif meliputi:

  • Batuk lebih dari 3 minggu
  • Nyeri dada
  • Terus berkeringat di malam hari
  • Demam
  • Penurunan berat badan
  • Lemas
  • Hilang nafsu makan
  • Batuk berdarah atau berdahak

Jika terjadi di luar paru-paru, dapat menimbulkan gejala spesifik, misalnya pembengkakan merah keunguan pada kelenjar getah bening.

Siapa yang Berisiko Lebih Tinggi Mengalami TB?

Beberapa kelompok lebih rentan terinfeksi TB laten maupun aktif, seperti:

  • Orang dengan sistem imun rendah (HIV, kanker, kondisi inflamasi berat).
  • Anak-anak yang tinggal di area dengan prevalensi TB tinggi.
  • Individu yang tinggal dengan penderita TB aktif.
  • Orang yang menetap atau bekerja lebih dari tiga bulan di wilayah dengan tingkat TB tinggi.
  • Tenaga kesehatan yang sering terpapar pasien atau sampel klinis TB.
  • Individu yang baru memiliki kontak dekat dengan penderita TB aktif.

Metode Pemeriksaan TB Laten

Deteksi TB laten sangat penting agar infeksi tidak berkembang menjadi aktif. Beberapa pemeriksaan yang digunakan antara lain:

1. Tes Mantoux (Uji Tuberkulin)

  • Cairan tuberkulin disuntikkan ke kulit lengan bawah.
  • Area suntikan diperiksa 48–72 jam kemudian.
  • Munculnya benjolan merah yang mengeras menandakan hasil positif.
  • Jika tidak ada perubahan, hasil biasanya negatif.
  • Tes ini sering digunakan tetapi dapat memberi hasil positif palsu pada orang yang pernah mendapatkan vaksin BCG.

2. Tes Cepat Molekuler (TCM)

  • Mendeteksi DNA bakteri TB dan resistensi terhadap rifampisin.
  • Hasil dapat keluar dalam waktu sekitar dua jam.
  • Spesimen dapat berupa dahak, bilasan lambung, feses, atau cairan serebrospinal.
  • Memberikan diagnosis yang lebih cepat dan akurat, termasuk untuk dugaan resistensi obat.

3. IGRA (Interferon Gamma Release Assay)

  • Pemeriksaan darah untuk menilai respons imun terhadap bakteri TB.
  • Tidak terpengaruh oleh vaksinasi BCG.
  • Digunakan terutama pada kelompok berisiko yang memiliki hasil Mantoux negatif atau pernah mendapat vaksin BCG.
  • Belum tersedia di semua fasilitas kesehatan.

Pengobatan TB Laten: Menghentikan Infeksi Sebelum Aktif

Pengobatan TB laten bertujuan mencegah bakteri “tertidur” berubah menjadi aktif. Obat yang umumnya diresepkan meliputi:

  • Isoniasid (INH)
  • Rifapentin (RPT)
  • Rifampisin (RIF)

Di Indonesia, terapi pencegahan TB (TPT) biasanya menggunakan regimen jangka pendek berikut:

  • 3HP: INH + Rifapentin sekali per minggu selama 3 bulan
  • 3HR: INH + Rifampisin setiap hari selama 3 bulan

Regimen dapat disesuaikan jika:

  • Penular berasal dari penderita TB MDR (multi-drug resistant)
  • Pasien memiliki penyakit penyerta
  • Terdapat risiko interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi

Pengobatan TB Aktif: Mengapa Harus Diawasi Secara Ketat

Pengobatan TB aktif memerlukan kombinasi beberapa antibiotik sekaligus. Terapi ini umumnya berlangsung selama 6 bulan, dan dalam beberapa kasus dapat diperpanjang hingga 9 bulan.

Pengawasan ketat diperlukan karena banyak pasien merasa membaik dalam beberapa minggu pertama dan berhenti minum obat, padahal penghentian terapi terlalu cepat dapat membuat bakteri bermutasi dan menjadi resisten sehingga pengobatannya jauh lebih sulit. Ketidakpatuhan inilah yang menjadi salah satu penyebab utama munculnya TB resisten obat.

Program pengobatan TB banyak menerapkan Directly Observed Treatment (DOT), yaitu pemantauan langsung oleh tenaga kesehatan.

Cara Melindungi Diri dari TB

Beberapa langkah pencegahan dapat dilakukan, di antaranya:

  • Menutup mulut saat batuk atau bersin
  • Rutin mencuci tangan
  • Menghindari kontak dekat dengan penderita TB aktif
  • Menjalani pengobatan hingga tuntas jika terdiagnosis TB laten
  • Melakukan skrining apabila bekerja di area berisiko
  • Konsultasi sebelum bepergian ke daerah dengan tingkat TB tinggi

Vaksin BCG juga tersedia dan umumnya diberikan kepada bayi di negara dengan beban TB tinggi. Meski tidak sepenuhnya mencegah TB, vaksin ini mengurangi risiko bentuk TB berat pada anak-anak.

TB tetap menjadi ancaman karena bakteri dapat berdiam tanpa gejala selama bertahun-tahun dan berkembang menjadi TB aktif jika tidak diobati. Karena itu, deteksi dini, skrining bagi kelompok berisiko, serta pengobatan yang tuntas menjadi langkah penting untuk mencegah penularan dan melindungi kesehatan masyarakat. (Alodokter, Public Good News/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik