Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TUBERKULOSIS (Tb) selama ini kerap dikenal sebagai penyakit yang ditandai dengan batuk berkepanjangan. Padahal, gejala Tb tidak hanya terbatas pada batuk, melainkan dapat bervariasi tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Kondisi inilah yang membuat Tb sering terlambat dikenali, terutama jika gejalanya tidak menyerang paru-paru.
TB merupakan penyakit menular yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penularannya terjadi melalui udara, ketika penderita Tb batuk, bersin, atau meludah. Bakteri tersebut dapat terhirup orang lain di sekitarnya dan menyebabkan infeksi.
Menurut informasi yang dilansir dari laman Alodokter, bakteri Tb umumnya berkembang di paru-paru. Namun, dalam beberapa kasus, bakteri ini juga bisa menyebar ke organ lain melalui aliran darah atau sistem limfatik, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang lemah.
Jika menyerang paru-paru, Tb dapat menimbulkan beberapa gejala berikut:
Gejala-gejala tersebut sering muncul secara perlahan, sehingga tidak jarang dianggap sebagai keluhan biasa dan diabaikan.
Tb tidak hanya menyerang paru-paru. Saat bakteri menyebar ke organ lain atau dikenal sebagai Tb ekstra paru, tanda dan gejalanya dapat berbeda-beda sesuai organ yang terinfeksi, antara lain:
Karena gejalanya beragam dan tidak selalu berkaitan dengan batuk. Tb ekstra paru sering kali baru terdeteksi setelah kondisinya cukup berat.
Bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat menginfeksi siapa saja, terutama di Indonesia yang termasuk wilayah endemis Tb. Namun, tidak semua orang yang terpapar bakteri ini langsung mengalami gejala.
Pada orang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik, bakteri Tb dapat tetap berada di dalam tubuh tanpa menimbulkan keluhan. Kondisi ini disebut sebagai Tb laten. Sebaliknya, pada individu dengan daya tahan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, gangguan ginjal berat, atau malnutrisi, bakteri Tb lebih mudah berkembang menjadi Tb aktif dan menimbulkan berbagai gejala.
Pencegahan Tb dapat dilakukan melalui vaksinasi BCG, terutama bagi mereka yang belum pernah mendapatkannya. Selain itu, penerapan pola hidup sehat, menjaga daya tahan tubuh, serta menghindari rokok dan paparan asap rokok juga berperan penting dalam menurunkan risiko infeksi.
Bagi penderita Tb laten dengan risiko tinggi berkembang menjadi Tb aktif, dokter dapat memberikan antibiotik pencegahan yang harus dikonsumsi secara teratur dalam jangka waktu tertentu.
Sementara itu, penderita Tb aktif wajib menjalani pengobatan dengan obat antituberkulosis (OAT) hingga tuntas sesuai anjuran dokter, meskipun gejala sudah membaik. Sebab, penghentian obat sebelum waktunya dapat membuat bakteri menjadi kebal dan meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk kerusakan paru-paru permanen. (Alodokter/Z-2)
Kementerian Kesehatan menerapkan enam strategi utama, termasuk penguatan promosi dan pencegahan, pemanfaatan teknologi, serta integrasi data dengan rumah sakit dan Puskesmas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved