Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Mengenal TB Ginjal: Ancaman Tersembunyi di Balik Infeksi Ekstra Paru

Basuki Eka Purnama
13/2/2026 22:16
Mengenal TB Ginjal: Ancaman Tersembunyi di Balik Infeksi Ekstra Paru
Ilustrasi(Freepik)

Kabar duka yang menimpa salah satu vokalis band ternama Indonesia akibat komplikasi Tuberkulosis (TB) yang menyerang ginjal hingga harus menjalani cuci darah rutin, memicu keprihatinan publik. 

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa TB bukan hanya penyakit yang menyerang paru-paru, melainkan bakteri yang mampu merusak organ vital lainnya.

Indonesia sendiri masih mencatat angka kejadian dan tingkat mortalitas TB yang cukup tinggi. Selama ini, pemahaman masyarakat umum masih terbatas pada gejala batuk kronis, sementara keterlibatan organ seperti ginjal masih jarang disadari hingga kondisinya mencapai tahap kronis.

Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Christy Efiyanti, SpPD, menjelaskan bahwa TB ginjal merupakan salah satu bentuk TB ekstra paru. Kondisi ini terjadi akibat infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis pada jaringan ginjal.

MI/HO--Dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dosen Fakultas Kedokteran IPB University, dr. Christy Efiyanti, SpPD

Mekanisme Infeksi dan Kerusakan Organ

Menurut Christy, perbedaan mendasar antara TB ginjal dan TB paru terletak pada fokus infeksinya. 

Jika pada TB paru bakteri menyerang langsung melalui udara, pada TB ginjal, bakteri menyebar dari fokus infeksi primer (biasanya paru-paru) melalui aliran darah.

"Rute infeksi utamanya melalui inhalasi aerosol yang mengandung Mycobacterium tuberculosis. Ginjal memiliki banyak pembuluh darah dan dapat terinfeksi secara hematogen, melalui pembuluh darah limfatik, atau penyebaran langsung setelah infeksi primer dari paru atau usus," jelas Christy.

Proses infeksi ini tidak boleh dianggap remeh karena dapat memicu peradangan kronis yang merusak struktur ginjal. Christy memaparkan bahwa kondisi ini dapat berkembang menjadi nefritis tubulointerstisial (peradangan ginjal) kronis, nekrosis papiler, hingga fibrosis atau pembentukan jaringan parut yang luas.

"Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius, termasuk uropati obstruktif, hidronefrosis, dan gagal ginjal," ujarnya memperingatkan dampak jangka panjang dari infeksi tersebut.

Waspada Gejala yang Menipu

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani TB ginjal adalah gejalanya yang tidak khas. Banyak pasien terlambat terdiagnosis karena keluhan yang muncul sering kali menyerupai infeksi saluran kemih (ISK) biasa, seperti nyeri saat berkemih, peningkatan frekuensi buang air kecil, atau adanya darah dalam urine (hematuria).

"Kadang hanya dikira sebagai infeksi saluran kemih biasa," kata  Christy. 

Selain gejala lokal pada saluran kemih, penderita mungkin juga mengalami gejala umum TBC seperti demam, penurunan berat badan secara drastis, dan keringat malam hari, meski tanda-tanda ini tidak selalu muncul pada setiap pasien.

Sebagai langkah preventif, Christy menekankan pentingnya kewaspadaan dini. Jika seseorang mengalami keluhan pada saluran kemih yang tidak kunjung sembuh, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi medis.

"Bila ada keluhan berkemih sebaiknya jangan ditunda, segera konsultasikan ke dokter. Dokter akan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologis untuk menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan yang sesuai," pungkasnya. (Z-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya