Headline

Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.

Strategi Baru Tekan Kematian TB-HIV: UNAIR Rancang Model Kontrol Optimal

Putri Rosmalia Octaviyani
09/2/2026 21:28
Strategi Baru Tekan Kematian TB-HIV: UNAIR Rancang Model Kontrol Optimal
Ilustrasi tuberkulosis (TB).(Dok. Freepik)

KOINFEKSI TB-HIV masih menjadi tantangan besar bagi sektor kesehatan di Indonesia pada tahun 2026. Sebagai negara dengan beban kasus tuberkulosis (TB) terbesar kedua di dunia, inovasi dalam strategi pengobatan menjadi sangat krusial. Menjawab tantangan ini, peneliti dari Universitas Airlangga (UNAIR) mengembangkan model matematika kontrol optimal yang fokus pada pengendalian reinfeksi TB.

Fokus pada Reinfeksi dan Variabel Kontrol

Penelitian terbaru yang dirilis pada Senin (9/2) ini menyoroti kerentanan pengidap HIV/AIDS terhadap infeksi oportunistik, terutama TB. Model ini tidak hanya melihat penularan awal, tetapi juga mempertimbangkan adanya reinfeksi TB aktif pada penderita yang sebelumnya sudah dinyatakan sembuh.

Ada tiga variabel kontrol utama yang diaplikasikan dalam model ini untuk meminimalkan jumlah penderita dengan biaya minimum:

  • Upaya pengobatan untuk individu dengan TB laten.
  • Pengobatan untuk individu yang terinfeksi TB aktif.
  • Pemberian Terapi Antiretroviral (ART) yang konsisten untuk individu dengan HIV.

Model matematika epidemiologi ini menggunakan estimasi parameter berdasarkan data tahunan kasus infeksi HIV di Indonesia periode 2012 hingga 2022 untuk memprediksi hasil di tahun 2026.

Pentingnya Diagnosis Dini

Keterlambatan diagnosis masih menjadi faktor utama kematian penderita TB-HIV. Data menunjukkan satu dari lima kematian TB disebabkan oleh AIDS, sementara satu dari empat kematian TB berkaitan erat dengan infeksi HIV. Penggunaan sel CD4 sebagai target utama HIV menurunkan sistem kekebalan tubuh secara drastis, sehingga infeksi TB mudah menjadi aktif.

Melalui teori kontrol optimal, pemerintah diharapkan dapat memberikan rekomendasi pengobatan yang lebih presisi. Hal ini sangat krusial mengingat target eliminasi TB tahun 2030 memerlukan efisiensi biaya dan akurasi intervensi pada populasi rentan.

(H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya