Headline

Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.

Temuan Kasus HIV di Tuban Meningkat Seiring Digelarnya Deteksi Dini

Nadhira Izzati A
15/2/2026 23:57
Temuan Kasus HIV di Tuban Meningkat Seiring Digelarnya Deteksi Dini
Ilustrasi(freepik)

PENYEBARAN kasus HIV/AIDS di Kabupaten Tuban menunjukkan kenaikan. Seiring dengan semakin gencar digelarnya deteksi dini dan skrining kesehatan, jumlah temuan Orang dengan HIV (ODHIV) pun terus meningkat. 

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Tuban, tercatat sebanyak 162 kasus pada tahun 2022, sempat turun menjadi 147 kasus pada 2023, namun melonjak menjadi 227 kasus pada 2024, dan mencapai 254 kasus pada tahun 2025.

Selain itu, data dari Dinkes P2KB Tuban menunjukkan bahwa terhitung mulai tahun 2014 hingga November 2024, tercatat 1.363 kasus kumulatif HIV/AIDS di Kabupaten Tuban, dengan 228 kasus baru sepanjang tahun 2024. Namun, stigma di masyarakat hingga kini masih menjadi tantangan utama.

Apa itu HIV dan AIDS?

HIV merupakan virus yang bekerja dengan cara menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel darah putih jenis CD4 yang berfungsi melawan infeksi. Seseorang yang terinfeksi sebenarnya dapat tetap hidup sehat selama bertahun-tahun asalkan mereka disiplin menjalani terapi antiretroviral (ARV). Jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, virus ini secara bertahap akan melumpuhkan pertahanan tubuh sehingga pengidapnya menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit serius.

Sementara itu, AIDS adalah stadium akhir dari infeksi HIV di mana kondisi kekebalan tubuh sudah rusak parah. Pada tahap ini, tubuh tidak lagi mampu melawan infeksi oportunistik seperti tuberkulosis atau jenis kanker tertentu. Penting untuk dipahami bahwa tidak semua pengidap HIV akan berakhir pada tahap AIDS, terutama jika infeksi tersebut terdeteksi lebih awal dan ditangani dengan prosedur medis yang benar sehingga penderita tetap bisa menjalani hidup secara normal.

Penyebab HIV dan AIDS

Salah satu pemicu utama penyebaran penyakit ini adalah kurangnya pemahaman masyarakat mengenai cara penularan dan pencegahannya. Misinformasi serta stigma sosial sering kali membuat orang enggan mencari informasi atau melakukan pengobatan sejak dini. Virus HIV-1, yang merupakan jenis paling umum di dunia, menular melalui cairan tubuh tertentu seperti darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu. 

Di Indonesia sendiri, kasus penularan paling banyak ditemukan akibat perilaku hubungan intim yang tidak aman serta penggunaan jarum suntik yang tidak steril secara bergantian, terutama di kalangan pengguna narkoba.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung antara cairan tubuh yang terinfeksi dengan jaringan mukosa atau luka terbuka. Selain itu, risiko penularan dari ibu ke bayi selama masa kehamilan, persalinan, atau menyusui juga ada, meskipun saat ini sudah dapat dicegah melalui pengobatan ARV yang ketat. 

Walaupun proses skrining darah saat ini sudah sangat ketat, risiko melalui transfusi darah yang terkontaminasi tetap perlu diwaspadai karena pada dasarnya semua orang memiliki risiko yang sama untuk terinfeksi.

Jika Anda memiliki faktor risiko atau gejala yang disebutkan di atas, ada baiknya untuk segera lakukan tes untuk memastikan diagnosis. 

Sumber: Halodoc, Pemerintah Kabupaten Tuban



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya