Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

100 Hektare Padi di Tuban Puso Diterjang Banjir, Petani Rugi Besar

M Ahmad Yakub
26/1/2026 21:07
100 Hektare Padi di Tuban Puso Diterjang Banjir, Petani Rugi Besar
Sedikitnya 100 hektare lahan pembibitan dan tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, puso.(MI/M Yakub )

SEDIKITNYA 100 hektare lahan pembibitan dan tanaman padi di sejumlah desa di Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, puso setelah berhari-hari terendam banjir. Bencana ini dipicu curah hujan tinggi yang diperparah luapan Avour Kuwu akibat saluran tersumbat dan belum berfungsinya pintu air.

Genangan air terus meninggi karena aliran Avour Kuwu tidak lancar, menyusul mangkraknya pembangunan pintu air. Akibatnya, tanaman padi berusia 45-60 hari setelah tanam (HST) mati dan membusuk di sawah.

“Sejak awal tanam sampai umur 30 hari, padi sudah sering terendam,” ujar Sunardi (50), petani Desa Kedungrojo, Kecamatan Plumpang, Senin (26/1).

Awalnya, banjir hanya menggenangi sawah di wilayah timur Desa Cangkring dengan ketinggian sekitar setengah tanaman. Namun hujan berintensitas tinggi yang turun terus-menerus membuat genangan naik hingga menutup seluruh tanaman.

“Sekarang padi di timur kampung sudah puso dan gagal panen. Kami pasrah, Mas,” keluh Sunardi.

Total lahan terdampak tersebar di Desa Cangkring, Plumpang, Kedungrojo, Kunir, dan Bandungrejo, dengan kerusakan terparah di Desa Cangkring yang mencapai hampir 40 hektare.

Kondisi ini membuat petani mengalami kerugian besar dan terancam tidak bisa melanjutkan musim tanam berikutnya karena kehabisan modal. Mereka berharap adanya bantuan dari pemerintah.

“Padi kami mati membusuk karena terendam banjir,” kata Wardi (43), petani Desa Cangkring, terpisah.

Menurut Wardi, banjir telah terjadi sejak awal musim hujan. Meski menyadari risiko gagal panen cukup tinggi, sebagian petani tetap menanam karena desakan kebutuhan ekonomi.

Ia menambahkan, wilayah timur desanya merupakan dataran terendah yang menjadi titik kumpul aliran air dari berbagai kawasan, termasuk dari wilayah utara dan barat.

“Kalau semua petani menanam di musim hujan seperti ini, bisa lebih dari 100 hektare padi yang puso,” ujarnya.

Luapan Avour Kuwu yang tidak berfungsi optimal disebut telah menjadi persoalan hampir tujuh tahun terakhir. Petani pun mempertanyakan lambannya penyelesaian proyek Pintu Air Rawa Jabung yang hingga kini belum juga rampung.

Akibatnya, banjir tahunan terus berulang dan mengancam ratusan hektare lahan produktif. Petani mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret dengan menuntaskan pembangunan Pintu Air Rawa Jabung di hilir Avour Kuwu, tepatnya di Desa Simorejo, Kecamatan Widang,  agar dampak banjir dapat diminimalisir. (Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya