Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Inovasi Padi Biosalin Jadi Terobosan Ketahanan Pangan di Lahan Pesisir

Naufal Zuhdi
17/12/2025 21:46
Inovasi Padi Biosalin Jadi Terobosan Ketahanan Pangan di Lahan Pesisir
Pengembangan budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara.(PGN)

Perubahan iklim dan intrusi air laut kian menekan produktivitas pertanian di wilayah pesisir utara Jawa. Meningkatnya kadar salinitas tanah akibat banjir rob dan perembesan air laut membuat lahan pertanian tak lagi ramah bagi padi konvensional, memicu gagal panen berulang, alih fungsi lahan, serta penurunan kesejahteraan petani. Kondisi ini menuntut solusi inovatif yang mampu memulihkan fungsi lahan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Salah satu terobosan yang mulai menunjukkan hasil adalah pemanfaatan varietas padi biosalin, yang dirancang untuk beradaptasi di lahan berkadar garam tinggi. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga menjadi bagian dari strategi mitigasi bencana lingkungan dan pemulihan ekonomi masyarakat pesisir yang terdampak perubahan iklim.

Dalam konteks tersebut, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta pemerintah daerah mengembangkan budidaya padi biosalin di wilayah pesisir Kabupaten Jepara. Inisiatif ini diperkenalkan dalam kegiatan Farm Field Day (FFD) Hilirisasi Inovasi Teknologi Energi Mendukung Ketahanan Pangan yang digelar pada 17 Desember, sebagai bagian dari upaya mendorong pemanfaatan hasil riset ke dalam praktik nyata di lapangan.

Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PGN memberikan dukungan menyeluruh mulai dari penyediaan benih dan pupuk, pendampingan budidaya hingga pascapanen, serta penguatan kapasitas petani. Program ini dijalankan secara kolaboratif dengan BRIN, pemerintah daerah, kelompok tani, serta dukungan TNI–Polri dalam penyiapan lahan, sehingga membentuk ekosistem pertanian yang terintegrasi.

Wakil Bupati Jepara, Muhammad Ibnu Hajar, menilai inisiatif ini sejalan dengan kebijakan nasional dalam memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. Ia berharap pengembangan padi biosalin mampu meningkatkan produktivitas lahan pesisir sekaligus mendorong pemulihan ekonomi petani dan masyarakat sekitar.

Direktur Keuangan PGN, Catur Dermawan, menegaskan bahwa dukungan terhadap padi biosalin merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung program prioritas pemerintah. Menurutnya, ketahanan pangan merupakan fondasi ketahanan nasional, sehingga pemulihan lahan pesisir yang terdampak intrusi air laut menjadi agenda penting yang harus ditangani secara kolaboratif dan berkelanjutan.

Di Jepara, program ini diawali dengan penanaman 400 kilogram benih padi biosalin di lahan seluas 5 hektare dan kini dikembangkan hingga 20 hektare. Pengembangan tersebut melanjutkan keberhasilan implementasi di pesisir utara Semarang yang telah mencapai 100 hektare dengan hasil panen 116,95 ton Gabah Kering Panen dan produktivitas rata-rata 5,85 ton per hektare. Capaian ini menunjukkan bahwa lahan pesisir yang sebelumnya tidak produktif masih memiliki potensi besar jika didukung teknologi yang tepat.

Dari sisi riset, BRIN menempatkan pengembangan padi biosalin sebagai bagian dari strategi mitigasi dan pemulihan pascabencana lingkungan. Direktur Fasilitasi dan Pemantauan Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Wiwiek Joelijani, menjelaskan bahwa hasil produksi tidak hanya diarahkan untuk konsumsi, tetapi juga untuk pengembangan benih guna mendorong kemandirian benih lokal dan memperkuat ekosistem pertanian berbasis inovasi.

Selain sektor pertanian, PGN juga memperkenalkan inovasi Petasol, teknologi pengolahan limbah plastik bernilai rendah menjadi bahan bakar minyak. Teknologi ini menjadi bagian dari pendekatan terpadu yang mengaitkan ketahanan pangan, pengelolaan lingkungan, dan transisi energi berkelanjutan, sekaligus memperluas manfaat program bagi masyarakat pesisir.

Ke depan, model kolaborasi antara PGN, BRIN, dan pemerintah daerah ini direncanakan untuk direplikasi di wilayah pesisir lain di Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Batang pada 2026. Replikasi tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional, meningkatkan kesiapsiagaan terhadap bencana lingkungan, serta mendorong ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik