Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Menuju Target 2030: Menghapus Stigma dan Tantangan Pembiayaan HIV di Indonesia

Basuki Eka Purnama
24/12/2025 13:18
Menuju Target 2030: Menghapus Stigma dan Tantangan Pembiayaan HIV di Indonesia
Diskusi Media bertajuk Menguatkan Respons HIV 2025: Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma.(MI/HO)

INDONESIA menghadapi tantangan besar dalam upaya menanggulangi epidemi HIV/AIDS meski sejumlah capaian telah diraih. 

Hingga akhir 2023, Kementerian Kesehatan RI mencatat peningkatan infeksi baru dengan proyeksi mencapai lebih dari 515 ribu kasus. Namun, tantangan nyata terlihat pada akses pengobatan; baru sekitar 40% Orang dengan HIV (ODHIV) yang telah mengakses pengobatan antiretroviral (ARV).

Kesenjangan data ini menjadi sorotan dalam Diskusi Media bertajuk Menguatkan Respons HIV 2025: Peran Media dalam Mendorong Aksi dan Mengurangi Stigma. Pertemuan ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mengejar target global Triple 95 pada 2030. 

Target tersebut menetapkan bahwa 95% ODHIV harus mengetahui statusnya, 95% di antara mereka mendapatkan terapi ARV, dan 95% dari mereka yang diterapi mencapai supresi virus.

Hambatan Struktural dan Sosial

Pencapaian target tersebut tidaklah mudah. Para narasumber menyoroti sejumlah kendala struktural, mulai dari keterbatasan akses layanan kesehatan di daerah terpencil hingga ancaman krisis pendanaan global yang dapat mengganggu keberlanjutan program HIV nasional.

Selain faktor teknis, hambatan sosial berupa stigma masih menjadi tembok tebal bagi ODHIV. Hartini, seorang ODHIV yang hadir dalam diskusi tersebut, menyampaikan aspirasi komunitas mengenai sulitnya mengakses hak dasar mereka.

“Menjadi orang yang hidup dengan HIV sangat tidak mudah. Kami tidak meminta layanan khusus, cukup layanan publik yang dapat diakses tanpa stigma dan diskriminasi. Jangan lagi bebani kami dengan pemberitaan yang menyakitkan,” tegasnya.

Media sebagai Agen Perubahan

Di tengah situasi tersebut, media massa dan digital dinilai memiliki peran sentral dalam mengubah narasi publik. 

Lely Wahyuniar, Strategic Information Advisor UNAIDS Indonesia, menegaskan bahwa media adalah elemen kunci dalam mempercepat respons HIV nasional.

“Media adalah kunci. Media massa dan digital memiliki peran sentral dalam memperkuat respons HIV menuju target 2030 di Indonesia. Media memiliki kekuatan luar biasa untuk mengubah persepsi publik dan mendorong aksi nyata, baik di tingkat lokal maupun global,” ujar Lely.

Ia menambahkan bahwa setiap orang berhak hidup sehat dan bermartabat. UNAIDS mengajak media untuk menyebarkan informasi yang akurat dan berempati guna melindungi lebih banyak nyawa dari ancaman diskriminasi. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya