Headline

Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.

Waspada! Lonjakan Gula Darah Setelah Makan Tingkatkan Risiko Alzheimer Hingga 69 Persen

Thalatie K Yani
16/1/2026 14:00
Waspada! Lonjakan Gula Darah Setelah Makan Tingkatkan Risiko Alzheimer Hingga 69 Persen
Ilustrasi(freepik)

LONJAKAN kadar gula darah setelah makan ternyata jauh lebih berbahaya bagi kesehatan otak daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebuah studi genetik berskala besar mengungkapkan orang dengan kadar gula darah pasca-makan yang tinggi memiliki risiko jauh lebih besar terkena penyakit Alzheimer.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari University of Liverpool ini memberikan bukti baru bahwa kadar glukosa setelah makan merupakan faktor potensial yang memengaruhi kesehatan otak jangka panjang. Selama bertahun-tahun, kondisi seperti hiperglikemia, diabetes tipe 2, dan resistensi insulin memang telah dikaitkan dengan penurunan kognitif. Namun, bagaimana gangguan gula darah tersebut berkontribusi langsung pada perubahan otak masih menjadi misteri.

Studi Genetik pada 350.000 Partisipan

Untuk mendalami hubungan ini, para peneliti menganalisis informasi genetik dan kesehatan dari lebih dari 350.000 partisipan UK Biobank berusia 40 - 69 tahun. Fokus utama mereka adalah memantau bagaimana tubuh mengelola gula, termasuk kadar glukosa saat puasa, kadar insulin, dan kadar gula darah dua jam setelah makan.

Tim peneliti menggunakan metode Mendelian randomization, sebuah pendekatan genetik yang membantu menilai apakah sifat biologis tertentu berperan langsung dalam risiko penyakit.

Hasilnya sangat mengejutkan. Individu dengan kadar gula darah setelah makan yang lebih tinggi memiliki risiko 69% lebih besar terkena Alzheimer. Pola peningkatan glukosa spesifik ini, yang dikenal sebagai hiperglikemia postprandial, menonjol sebagai faktor kunci.

Kerusakan Biologis yang Tersembunyi

Hal yang paling menarik dari temuan ini adalah peningkatan risiko tersebut tidak dapat dijelaskan melalui kerusakan fisik otak yang terlihat, seperti penyusutan otak secara keseluruhan atau kerusakan materi putih (white matter). Ini menunjukkan lonjakan gula darah setelah makan memengaruhi otak melalui proses biologis yang jauh lebih halus dan belum sepenuhnya dipahami.

Dr. Andrew Mason, penulis utama studi ini, menekankan pentingnya temuan tersebut bagi langkah preventif di masa depan. "Temuan ini dapat membantu membentuk strategi pencegahan di masa depan, menyoroti pentingnya mengelola gula darah tidak hanya secara keseluruhan, tetapi secara khusus setelah makan," ujar Dr. Mason.

Strategi Pencegahan Baru

Senada dengan hal tersebut, penulis senior Dr. Vicky Garfield mencatat langkah selanjutnya adalah mereplikasi hasil ini pada populasi dan etnis lain untuk mengonfirmasi kaitan tersebut. "Jika tervalidasi, studi ini dapat membuka jalan bagi pendekatan baru untuk mengurangi risiko demensia pada penderita diabetes," komentar Dr. Garfield.

Temuan ini memberikan pesan kuat bagi masyarakat bahwa menjaga kestabilan gula darah pasca-makan bukan sekadar masalah metabolisme tubuh, melainkan strategi krusial untuk menjaga kesehatan otak dari ancaman demensia di masa tua. (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya