Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kenapa Perut Terasa Ada ‘Kupu-Kupu’ Saat Gugup? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Thalatie K Yani
21/11/2025 08:03
Kenapa Perut Terasa Ada ‘Kupu-Kupu’ Saat Gugup? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Ilustrasi(gemini AI)

SENSASI perut seakan “berkibar” seperti dipenuhi kupu-kupu kerap muncul menjelang ujian, kencan pertama, atau saat harus berbicara di depan umum. Rasa tidak nyaman di perut ini adalah reaksi tubuh yang umum terjadi ketika seseorang merasa gugup, dan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Mulai dari sensasi mengikat, tegang, hingga gangguan pencernaan yang lebih berat.

Fenomena tersebut berasal dari hubungan dua arah antara sistem pencernaan dan sistem saraf. Melissa Hunt, psikolog klinis dari University of Pennsylvania, menjelaskan keterhubungan ini terbentuk sejak tahap awal perkembangan manusia. “Sejak tahap paling awal perkembangan embrio, otak, sumsum tulang belakang, dan saluran cerna terhubung erat satu sama lain,” ujarnya melalui email. Menurut Hunt, jutaan neuron membawa informasi dari usus ke otak, dan jumlah serupa mengirim sinyal kembali ke usus.

Keterhubungan ini dikenal sebagai gut-brain axis, yang dipengaruhi oleh hormon, neurotransmitter, serta jalur saraf langsung antara otak dan saluran cerna. Bahkan bakteri dalam usus juga ikut mengatur komunikasi tersebut. Karena itu, suasana hati dapat berdampak pada kondisi fisik, begitu pula sebaliknya.

John Cryan, profesor anatomi dan ilmu saraf di University College Cork, mengatakan, “Saat kita merasakan ‘butterflies’ di perut, itu adalah pengingat kuat bahwa emosi kita benar-benar dialami oleh tubuh.” Ia menambahkan bahwa sensasi tersebut menunjukkan bagaimana otak dan usus terus berkomunikasi melalui jalur saraf, hormonal, dan mikroba.

Reaksi “kupu-kupu” muncul saat sistem saraf simpatis, aktif ketika seseorang cemas. Hormon stres seperti kortisol menekan proses pencernaan di lambung dan usus halus, sementara sebagian usus besar justru dirangsang. Perubahan bersamaan ini memicu kontraksi otot yang menghadirkan sensasi berkibar di perut, bahkan bisa berkembang menjadi mual, kembung, sembelit, atau diare.

Cryan menuturkan respons ini punya dasar evolusioner. “Dari sudut pandang evolusi, reaksi ini kemungkinan membantu nenek moyang kita bertahan hidup,” jelasnya. Gangguan pencernaan sementara memungkinkan tubuh mengalihkan energi untuk bersiap menghadapi ancaman.

Peran mikrobioma juga penting dalam respons ini. “Walau mikrobioma usus tidak menyebabkan sensasi berdebar itu secara langsung, ia memengaruhi seberapa kuat kita merasakannya dan seberapa cepat kita pulih,” kata Cryan. Keragaman bakteri usus dapat memperkuat atau melemahkan respons stres tersebut.

Hubungan usus dan otak bersifat dua arah. Gangguan gastrointestinal (GI) yang sering muncul dapat meningkatkan stres, dan stres dapat memperparah gejala gangguan interaksi usus-otak, seperti irritable bowel syndrome (IBS) atau dispepsia fungsional. Hunt menjelaskan bahwa kondisi ini menciptakan lingkaran kecemasan yang membuat tubuh semakin sensitif terhadap sensasi dari dalam usus.

Cryan menutup dengan penegasan, “Jauh dari sekadar ‘ada di kepala Anda’, pengalaman emosional melekat erat pada sistem visceral. Kesehatan mental dan pencernaan tidak bisa dipisahkan.” (Science Daily/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik