Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Kebiasaan Ngopi Bisa Memperparah Kecemasan, Ini kata Dokter Saraf

Nike Amelia Sari
20/12/2025 13:07
Kebiasaan Ngopi Bisa Memperparah Kecemasan, Ini kata Dokter Saraf
Menikmati kopi di kedai(Antara)

KOPI kini tak lagi diasosiasikan sebagai minuman penghilang kantuk, tetapi juga simbol gaya hidup terutama di kalangan generasi muda yang gemar menghabiskan waktu di kedai kopi untuk bersantai atau bersosialisasi. Namun, perlu hati-hati, kebiasaan mengonsumsi kopi secara berlebihan ternyata dapat membawa dampak negatif bagi kesehatan, khususnya pada sistem saraf.

Dokter spesialis saraf, dr. Kevin Mulya S, Sp.N-FMIN, yang saat ini berpraktik di RS EMC Alam Sutera, mengungkapkan asupan kafein berlebih berpotensi memperparah kondisi kecemasan. Tak hanya itu, konsumsi yang tidak terkontrol juga dapat memicu sakit kepala dan menimbulkan ketergantungan.

Kevin menjelaskan, kafein bekerja dengan meningkatkan kesiapan tubuh. Pada individu yang memiliki kecenderungan cemas, efek ini justru bisa memperkuat respons kecemasan tersebut.

“Jadi orang yang dengan bakat kecemasan, minum kafein itu justru hati-hati karena dia membuat responnya lebih fight, dia lebih siap. Kecemasan lebih tinggi, maka mereka harus mengurangi,” katanya seperti dikutip dari situs Antara, Jumat (19/12).

Ia menambahkan, konsumsi kopi yang dianjurkan sebenarnya hanya berkisar satu hingga dua cangkir per hari. Sayangnya, tidak sedikit orang yang tanpa sadar mengonsumsi kopi dalam jumlah jauh lebih banyak, bahkan mencapai lima hingga sepuluh cangkir sehari.

Menurut Kevin, kafein dalam dosis tinggi dapat merangsang sistem saraf simpatis, yang berdampak pada meningkatnya detak jantung serta munculnya rasa gelisah. Kondisi ini membuat individu dengan kerentanan gangguan kecemasan menjadi lebih mudah mengalami perburukan gejala.

Lebih lanjut, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 2014 itu mengingatkan agar penghentian konsumsi kafein, khususnya pada peminum berat, tidak dilakukan secara tiba-tiba. Penghentian mendadak dapat memicu gejala putus kafein seperti sakit kepala, kelelahan, sulit fokus, hingga perubahan suasana hati. Pengurangan konsumsi sebaiknya dilakukan secara bertahap.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya