Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Menjaga Waras di Tengah Derasnya Arus Media Sosial

Basuki Eka Purnama
18/12/2025 12:15
Menjaga Waras di Tengah Derasnya Arus Media Sosial
Ilustrasi(Freepik)

ERA digital tidak hanya membawa kemudahan komunikasi, tetapi juga tantangan nyata bagi kesehatan mental. Paparan konten media sosial yang masif kini dikaitkan erat dengan meningkatnya gangguan psikologis, mulai dari kecanduan hingga penuaan dini akibat stres digital.

Dokter perawatan antipenuaan sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Clarin Hayes, M.Biomed (AAM), mengungkapkan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di jagat maya menjadi pemicu utama kecemasan masyarakat saat ini.

"Studi juga menunjukkan media sosial meningkatkan angka kecemasan, depresi dan rasa kesepian," ujar Clarin dalam acara Temu Nasional Pegiat Literasi Digital 2025 di Jakarta Selatan, Selasa (16/12).

Tantangan Interaksi dan Cognitive Overload

Clarin menyoroti bahwa hubungan daring tidak bisa menjadi substitusi sempurna bagi interaksi tatap muka. Komunikasi digital cenderung bersifat dangkal sehingga gagal membangun ikatan emosional sekuat pertemuan langsung.

Selain masalah emosional, derasnya informasi yang masuk secara terus-menerus dapat memicu cognitive overload. Kondisi ini mengakibatkan seseorang mengalami gangguan fokus, mudah terdistraksi, dan kesulitan dalam menyelesaikan pekerjaan sehari-hari.

Lebih jauh, ia memperingatkan adanya risiko stres digital kronis. Secara ilmiah, stres yang berkepanjangan terbukti mampu mempercepat proses penuaan dan menurunkan kualitas kesehatan fisik secara keseluruhan.

Langkah Praktis Menjaga Kesehatan Mental

Untuk membentengi diri dari dampak negatif tersebut, dr. Clarin membagikan empat kiat praktis yang bisa diterapkan sehari-hari:

  1. Digital Detox: Menyediakan waktu khusus yang benar-benar bersih dari gawai. Gunakan waktu tersebut untuk aktivitas bermakna seperti membaca buku atau berkumpul bersama keluarga.
  2. Evaluasi dan Kurasi Konten: Selektif terhadap informasi yang dikonsumsi. Prioritaskan konten edukatif dan motivatif yang memberikan nilai tambah bagi diri sendiri.
  3. Intentional Connection: Menggunakan perangkat digital dengan tujuan yang spesifik. "Jadi saat kita membuka gawai kita jangan terbawa arus dan mengalir sesuai algoritma. Kita harus tau tujuan kita dan fokus penuh intensi mau melakukan apapun di platform digital," tegas Clarin.
  4. Content Diet: Membatasi asupan konten yang tidak bermanfaat bagi kesehatan kognitif guna menjaga keseimbangan emosional.

Sebagai penutup, dr. Clarin menekankan bahwa kesehatan digital adalah investasi jangka panjang bagi kualitas hidup seseorang.

“Jadi kesehatan digital itu penting karena itu mempengaruhi emosi dan kesehatan mental kita dan kesehatan mental ini mempengaruhi panjang usia kita,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik