Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan kembali menjadi perhatian serius. Perilaku perundungan tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari proses belajar anak terhadap lingkungan terdekatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menegaskan bahwa pola perilaku agresif pada anak merupakan cerminan dari apa yang ia saksikan setiap hari.
"Anak meniru, menyerap, dan memodifikasi apa yang ia lihat dari orangtua, teman, media, maupun lingkungan sekolah. Jika kekerasan ditampilkan sebagai sesuatu yang normal, maka anak belajar bahwa itu adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah," kata Vera saat dihubungi, Senin (17/11).
Menurut berbagai kajian, terdapat sejumlah faktor yang mendorong anak melakukan bullying. Beberapa di antaranya yakni, Kurangnya empati dan kemampuan regulasi emosi, meniru lingkungan, dorongan untuk diterima kelompok, pola asuh terlalu keras atau permisif, hingga lingkungan sekolah yang tidak responsif.
"Banyak anak belum mampu mengenali, mengekspresikan, maupun mengelola emosinya. Ketika merasa frustrasi atau ingin mendapatkan pengakuan, sebagian memilih cara yang salah, termasuk merendahkan teman," ujarnya.
Vera pun menekankan bahwa pencegahan bullying tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah atau anak yang terlibat. Seluruh ekosistem harus bergerak bersama untuk mencegah bullying tersebut.
Adapun, ia menjelaskan, untuk peran pemerintah bisa dilakukan dengan memastikan regulasi anti-bullying ditegakkan, mewajibkan sekolah memiliki SOP pelaporan hingga pemulihan, menyediakan layanan konseling atau psikolog di sekolah, hingga mengawasi implementasi pendidikan karakter dan safe school policy.
Kemudian untuk peran sekolah dan guru, dapat dilakukan dengan membangun budaya sekolah aman dan inklusif, melatih guru mengenali tanda perundungan fisik, verbal, sosial, dan digital, menyediakan ruang aman bagi siswa untuk bercerita, memberikan penegakan aturan disertai intervensi pemulihan, hingga mengajarkan empati, asertivitas, dan regulasi emosii.
Sementara, peran keluarga dan masyarakat dapat dilakukan dengan membangun koneksi rutin dengan anak, menerapkan batasan dan konsekuensi yang konsisten, mengawasi penggunaan gawai dan media sosial, mengajarkan anak menghadapi tekanan teman, melaporkan tindakan kekerasan offline dan online, hingga menciptakan ruang publik yang ramah anak.
"Jika kita hanya fokus memberi hukuman, kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki pola pikir dan keterampilan sosial anak. Pendekatan pemulihan tetap sangat penting," tuturnya. (H-3)
Kemenkes mengungkapkan temuan senior yang merupakan peserta PPDS Unsri melakukan perundungan atau bullying pada juniornya dengan memeras Rp15 juta per bulan
Merespons bullying, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN menggelar 'Gen Z Fest: The Next Wave of Digital Natives' di Jakarta (18/12)
Data UPT PPA DKI Jakarta menunjukkan, hingga 19 Desember 2025 terdapat 2.182 pengaduan. Kekerasan psikis menempati urutan tertinggi dengan 1.059 kasus.
ALIANSI Peduli Anak Indonesia mendesak diwujudkannya sekolah yang aman bagi anak dan bebas dari bullying atau perundungan. Hal itu disuarakan melalui aksi damai dan teatrikal.
Kesehatan mental pelajar semakin memprihatinkan. Data CDC dan WHO menunjukkan tingginya depresi, pikiran bunuh diri, dan kasus bullying pada remaja di sekolah.
Rano Karno mengungkap pengalaman bullying dan hidup susah di masa kecil yang justru memacunya hingga menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta
RESOLUSI tahun baru sebaiknya dimulai dari target yang masuk akal agar proses menjalaninya terasa lebih ringan dan tidak berubah menjadi tekanan atau hukuman atas kekurangan pribadi.
Remaja saat ini lebih membutuhkan dukungan emosional dan pendampingan untuk menavigasi kompleksitas ruang siber.
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Semakin remaja mengenali emosi dan nilai-nilainya, semakin mudah ia menentukan langkah dan pilihan hidup yang sesuai.
Psikolog sekaligus Founder dan Direktur Personal Growth Counseling & Development Center, Ratih Ibrahim menanggapi peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved