Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Psikolog: Perilaku Bullying Terbentuk dari Lingkungan Terdekat

Ficky Ramadhan
17/11/2025 20:28
Psikolog: Perilaku Bullying Terbentuk dari Lingkungan Terdekat
Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo.(Dok. Youtube AMSI)

FENOMENA kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan kembali menjadi perhatian serius. Perilaku perundungan tidak muncul begitu saja, melainkan terbentuk dari proses belajar anak terhadap lingkungan terdekatnya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Psikolog Klinis Anak dan Remaja Vera Itabiliana Hadiwidjojo menegaskan bahwa pola perilaku agresif pada anak merupakan cerminan dari apa yang ia saksikan setiap hari.

"Anak meniru, menyerap, dan memodifikasi apa yang ia lihat dari orangtua, teman, media, maupun lingkungan sekolah. Jika kekerasan ditampilkan sebagai sesuatu yang normal, maka anak belajar bahwa itu adalah cara yang sah untuk menyelesaikan masalah," kata Vera saat dihubungi, Senin (17/11).

Menurut berbagai kajian, terdapat sejumlah faktor yang mendorong anak melakukan bullying. Beberapa di antaranya yakni, Kurangnya empati dan kemampuan regulasi emosi, meniru lingkungan, dorongan untuk diterima kelompok, pola asuh terlalu keras atau permisif, hingga lingkungan sekolah yang tidak responsif.

"Banyak anak belum mampu mengenali, mengekspresikan, maupun mengelola emosinya. Ketika merasa frustrasi atau ingin mendapatkan pengakuan, sebagian memilih cara yang salah, termasuk merendahkan teman," ujarnya.

Vera pun menekankan bahwa pencegahan bullying tidak bisa dibebankan hanya kepada sekolah atau anak yang terlibat. Seluruh ekosistem harus bergerak bersama untuk mencegah bullying tersebut.

Adapun, ia menjelaskan, untuk peran pemerintah bisa dilakukan dengan memastikan regulasi anti-bullying ditegakkan, mewajibkan sekolah memiliki SOP pelaporan hingga pemulihan, menyediakan layanan konseling atau psikolog di sekolah, hingga mengawasi implementasi pendidikan karakter dan safe school policy.

Kemudian untuk peran sekolah dan guru, dapat dilakukan dengan membangun budaya sekolah aman dan inklusif, melatih guru mengenali tanda perundungan fisik, verbal, sosial, dan digital, menyediakan ruang aman bagi siswa untuk bercerita, memberikan penegakan aturan disertai intervensi pemulihan, hingga mengajarkan empati, asertivitas, dan regulasi emosii.

Sementara, peran keluarga dan masyarakat dapat dilakukan dengan membangun koneksi rutin dengan anak, menerapkan batasan dan konsekuensi yang konsisten, mengawasi penggunaan gawai dan media sosial, mengajarkan anak menghadapi tekanan teman, melaporkan tindakan kekerasan offline dan online, hingga menciptakan ruang publik yang ramah anak.

"Jika kita hanya fokus memberi hukuman, kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki pola pikir dan keterampilan sosial anak. Pendekatan pemulihan tetap sangat penting," tuturnya.  (H-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik