Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Bukan Sekadar Pujian, Istilah 'Good Boy' Kini Jadi Tren Perundungan Baru di Sekolah

Thalatie K Yani
25/1/2026 09:29
Bukan Sekadar Pujian, Istilah 'Good Boy' Kini Jadi Tren Perundungan Baru di Sekolah
Ilustrasi(freepik)

BAGI pemilik hewan peliharaan, sebutan "good boy" adalah bentuk kasih sayang dan persetujuan. Namun, di tangan para remaja saat ini, istilah tersebut telah berubah menjadi senjata perundungan yang merendahkan martabat teman sebaya di sekolah.

Tren yang berawal dari platform TikTok ini mulai meresahkan para pengajar dan orangtua. Alih-alih sebagai pujian, istilah "good boy" atau "good girl" digunakan secara sarkastik untuk mengejek siswa yang menuruti instruksi atau melakukan tugas sekolah sehari-hari.

Apa Itu Tren 'Good Boy'?

Inti dari tren ini sebenarnya sederhana. Seorang anak menginstruksikan anak lain untuk menyelesaikan suatu tugas dan saat tugas tersebut selesai, sang pemberi perintah akan menjawab dengan kalimat "good boy".

Agar efeknya terasa merendahkan, kalimat tersebut biasanya diucapkan dengan nada menggurui yang dramatis, sering kali diikuti dengan senyum palsu atau tepuk tangan lambat. Penggunaan istilah ini sengaja dilakukan untuk mengejek kepatuhan seseorang, memperlakukannya seolah-olah ia adalah hewan peliharaan yang sedang dilatih.

Tren ini bermula dari sebuah video viral yang memperlihatkan seseorang meminta nama dan nomor lencana petugas polisi. Setelah petugas tersebut memberikan informasinya, si pembuat video menjawab dengan "good boy". Video ini memberikan kesan kepada remaja bahwa mengucapkan kata tersebut bisa membuat mereka merasa memegang kendali penuh atas orang lain.

Antara Candaan dan Pelecehan

Reaksi di kalangan pendidik pun beragam. Beberapa guru mengaku sulit menahan tawa karena menganggap perilaku tersebut konyol. Salah satu guru di media sosial bahkan menyebut ia harus menahan diri agar tidak tertawa supaya "tidak meningkatkan ego siswanya."

Namun, mayoritas guru melihat tren ini sebagai perilaku yang tidak sopan, mengganggu, dan menyebalkan. Beberapa sekolah dilaporkan telah melarang penggunaan frasa tersebut di kelas dan memberikan edukasi penggunaan istilah tersebut dalam konteks ini dapat dikategorikan sebagai bentuk pelecehan.

Para ahli juga mengingatkan remaja mungkin tidak memahami sepenuhnya konotasi di balik frasa tersebut. Selain asosiasi dengan melatih hewan, frasa ini juga memiliki potensi pesan seksual tersirat yang mungkin tidak disadari oleh anak-anak. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa tren tersebut mengirimkan pesan bahwa mengikuti aturan adalah hal yang memalukan.

Bagaimana Orangtua Harus Bersikap?

Remaja memang memiliki sejarah panjang dalam menemukan cara-cara sinis untuk mengatakan hal-hal sederhana. Sebagian besar waktu, mereka tidak berniat menjadi jahat, melainkan hanya meniru apa yang mereka lihat secara daring dan di sekolah.

Namun, penting bagi orangtua untuk berdiskusi dengan anak dan menjelaskan implikasi dari ucapan tersebut. Anak-anak perlu memahami bahwa membantu orang lain atau mengikuti arahan bukanlah hal yang memalukan untuk dilakukan.

Daripada langsung menghukum, orangtua disarankan untuk membantu anak memahami dampak kata-kata mereka terhadap perasaan orang lain. Tujuannya agar anak-anak memahami gambaran besar dari tindakan mereka, sehingga suasana di ruang kelas tidak lagi terdengar seperti taman bermain anjing. (Parents/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya