Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PAKAR kesehatan dari Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) DKI Jakarta dr. Ida Gunawan, MS, Sp.GK, Subsp. K.,M, FINEM mengatakan memasuki periode perimenopause dan menopause perlu memperhatikan kadar lemak visceral dalam tubuh.
Pasalnya, kelebihan lemak visceral mampu meningkatkan risiko penyakit jantung.
"Ibu-ibu harus ingat bahwa begitu Anda masuk perimenopause-menopause, Anda sudah harus bersahabat dengan yang namanya kelebihan lemak. Tapi, jangan khawatir meskipun kita mempunyai rentang yang lebih tinggi sampai 35% tetap teman-teman harus babat dia terutama lemah visceral, jadi lemak visceral dibabat jangan disimpan," jelas Ida, Sabtu (18/10).
Ia pun menyarankan untuk mengonsumsi makanan sehat berimbang dan dimasak dengan cara yang tepat dengan porsi makan yang mengandung protein seperti ikan yang dikonsumsi sebanyak 2-3 kali seminggu, sayur dan buah berwarna dengan kandungan antioksidan tinggi.
"Kemudian harus ada lemak pilih lemak yang baik salah satunya adalah berbeda-beda kemudian jangan lupa ada sayuran dan buah-buahan pilih yang warnanya oranye kemerahan, supaya mendapatkan antioksidan," jelasnya.
Perempuan yang memasuki masa menopause diimbau untuk lebih bijak dalam merawat tubuhnya, terutama dalam menyikapi kenaikan berat badan akibat penurunan kadar hormon estrogen.
Manajemen penurunan berat badan perlu memperhatikan komposisi tubuh agar tidak kehilangan terlalu banyak massa otot yang dapat meningkatkan risiko Sarkopenia.
Di sisi lain, tetap penting untuk mencapai fat loss yang sehat. Proses pembakaran lemak sebaiknya dilakukan dengan pendekatan yang tepat, menghindari diet ekstrem maupun pola olahraga yang tidak konsisten, agar hasilnya optimal dan berkelanjutan.
Perubahan hormonal pada masa menopause sering kali menimbulkan berbagai gejala yang dapat memengaruhi keseharian perempuan aktif.
Pada fase ini, perempuan menghadapi perubahan fisik, psikologis, dan metabolik yang berpotensi menurunkan kualitas hidup jika tidak dikelola dengan baik.
Meski kadang dianggap menjadi akhir masa produktif perempuan, namun periode ini justru menjadi masa untuk tubuh mengenali diri lebih baik lagi. (Ant/Z-1)
Perut buncit bukan sekadar masalah penampilan. Penumpukan lemak visceral di perut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan hipertensi.
Penelitian terbaru menemukan massa otot yang lebih tinggi dan lemak visceral yang lebih rendah berhubungan dengan usia biologis otak yang lebih muda.
Banyak orang mengira tubuh gemuk dengan kolesterol normal aman dari penyakit. Faktanya, obesitas tetap menjadi faktor risiko serius.
Tidak semua lemak tubuh sama. Studi terbaru menemukan lemak visceral di sekitar organ berhubungan dengan kesehatan otak.
Sang dokter mengingatkan bahwa lemak visceral atau yang biasa disebut obesitas sentral bersifat lebih jahat dibandingkan lemak di bawah kulit
Peningkatan risiko penyakit jantung koroner pada golongan darah non-O diduga berkaitan dengan kadar faktor pembekuan darah dan penanda inflamasi yang lebih tinggi.
Nyeri leher tak selalu akibat salah tidur. Dalam kondisi tertentu, sakit leher bisa menjadi gejala serangan jantung. Kenali tanda dan risikonya.
Tes darah baru mampu mendeteksi risiko komplikasi mematikan pada pasien hypertrophic cardiomyopathy (HCM). Terobosan besar bagi jutaan pengidap jantung genetik.
Peradangan kronis pada gigi dan gusi bukan sekadar rasa nyeri, melainkan proses biologis yang memengaruhi pembuluh darah.
Para pelari disarankan agar rutin mendeteksi masalah jantung, seperti keberadaan plak, sedini mungkin.
LDL, yang dikenal sebagai kolesterol jahat, merupakan faktor utama penyakit kardiovaskular.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved