Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PSIKOLOG Klinis Anak dan Remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia (UI) Vera Itabiliana Hadiwidjojo mengatakan bahwa orangtua perlu membangun komunikasi dengan anak untuk menanamkan pemahaman mengenai rokok termasuk bahaya yang ditimbulkan.
"Orangtua perlu membangun komunikasi dalam diskusi yang terbuka, tidak menghakimi, dan tidak langsung marah saat mengetahui anak mencoba merokok," ujar Vera, dikutip Senin 94/8).
Pendekatannya, menurut dia, perlu empati dan edukatif, tanyakan dengan tenang apa yang membuatnya tertarik mencoba atau sampaikan dampak dari merokok buat tubuh.
Ia juga menyarankan agar orangtua menggunakan pendekatan yang sesuai usia dan bahasa remaja. Menurutnya, membangun komunikasi dua arah yang terbuka mampu membuat anak merasa nyaman berdiskusi dan bertanya.
"Jangan hanya mengulang pesan klasik seperti 'merokok itu tidak sehat', tetapi beri contoh konkret: seperti gangguan pernapasan, kecanduan nikotin, dan dampak sosial jangka panjang," jelasnya.
Orangtua juga berperan memberikan dukungan sehingga kepercayaan diri dan identitas positif anak agar tidak mudah terpengaruh teman.
Orangtua juga, tambah dia, bisa menunjukkan riset atau testimoni nyata dari mantan perokok agar masuk dalam pemikiran logis dan kritis anak.
Edukasi sejak dini mengenai bahaya merokok juga dapat dilakukan orangtua, tanpa menunggu anak remaja.
Selain itu, memberikan contoh hidup sehat bebas rokok juga sebaiknya dipraktikkan serta mampu menghadirkan lingkungan sehat bebas asap rokok di rumah.
Orangtua juga dapat memberikan alternatif sehat untuk menyalurkan stres seperti olahraga, seni, atau kegiatan komunitas bagi anak, serta tetap memantau pergaulan anak.
"Pantau pergaulan dan beri ruang eksplorasi sehat, agar anak tidak mencari petualangan melalui rokok," katanya.
Vera menjelaskan bahwa remaja mulai mencoba merokok karena beberapa faktor meliputi rasa ingin tahu dan dorongan eksplorasi yang tinggi saat remaja.
Kemudian pengaruh teman sebaya (peer pressure) yakni ingin diterima dalam kelompok atau ingin terlihat dewasa.
Anak juga mencontoh dari lingkungan, melihat anggota keluarga atau orangtua atau tokoh idola merokok.
"Menjajal merokok pada usia remaja juga sebagai bentuk ekspresi diri atau pemberontakan terhadap aturan serta regulasi emosi yakni ada remaja mencoba rokok untuk mengurangi stres atau kecemasan," katanya. (Ant/Z-1)
Merokok di dekat anak dapat memicu kerusakan organ tubuh secara menyeluruh, bahkan hingga menyerang sistem saraf pusat.
Sejumlah kebiasaan sederhana yang dilakukan tanpa disadari dapat merusak otak dan mengganggu kinerjanya
Asap rokok yang mengandung zat-zat seperti karbon monoksida dapat mengganggu fungsi oksigen dalam darah, sehingga tekanan darah ibu atau plasenta dapat meningkat.
Merokok meningkatkan risiko stroke hingga enam kali lipat. Ketahui bagaimana rokok memengaruhi pembuluh darah, otak, dan cara menurunkan risikonya dengan berhenti merokok.
KPAI berpandangan bahwa penguatan akan kesadaran terkait keseimbangan hak dan kewajiban perlu dilakukan dalam lingkungan satuan pendidikan.
Untuk lebih baiknya, perbanyak buah dan sayur untuk membantu membersihkan racun. Serta fokus pada manfaat jangka panjang seperti, paru-paru lebih sehat, risiko penyakit menurun
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved