Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak lulusan Universitas Padjadjaran, Ackni Hartati, menyampaikan tips yang bisa dilakukan orangtua seandainya anak sakit saat perjalanan mudik.
"Menjaga kesehatan anak saat mudik ini kita harus melihat risiko kesehatan apa sih yang paling sering gitu selama mudik pada anak-anak yang orangtua harus tahu," kata Ackni dalam webinar, Sabtu (29/3).
Dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Permata Bekasi itu menjelaskan salah satu risiko kesehatan yang kerap dialami anak saat mudik adalah demam, yang merupakan gejala panas badan.
Penting orangtua untuk membawa obat panas, salah satunya adalah paracetamol dengan dosis yang disesuaikan. Namun, jika sudah meminum obat panasnya tidak kunjung turun disarankan dibawa ke rumah sakit.
"Obat panas harus punya ya, paracetamol itu biasanya dia lebih aman karena dia tidak terlalu merangsang lambung. Kalau panasnya di atas 38,5 dikasih obat panas sudah 4 sampai 6 jam tidak turun-turun, itu boleh segera dibawa ke rumah sakit," jelasnya.
Jika mengalami panas tinggi dan sang anak memiliki riwayat kejang demam ataupun kejang tidak turun juga disarankan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Kemudian, menurut dia gangguan pencernaan seperti diare juga bisa terjadi pada anak saat mudik. Hal ini kerap disebabkan karena mengonsumsi makanan yang dibeli di sepanjang perjalanan tidak bersih atau tidak fresh.
Dampak diare yang ditakutkan apabila anak mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan, bahkan bisa mengalami gangguan elektrolit.
"Mengalami diare, buang air besarnya (BAB) terus-terusan sampai anaknya ada tanda dehidrasi, seperti kencingnya sedikit atau ketika pipis warnanya agak pekat, itu berarti tanda dehidrasi atau anaknya jadi lebih lemas. Maka itu bawa ke dokter atau rumah sakit terdekat selama perjalanan," ujarnya.
Menurut dia, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) atau seperti batuk pilek juga bisa terjadi pada anak saat mudik, terutama biasanya yang menggunakan kendaraan bermotor roda dua.
Ia menyarankan dengan menggunakan masker untuk melakukan pencegahan selama perjalanan dan membawa obat-obatan yang bisa dikonsultasi ke dokter.
Namun, jika anak sudah mulai mengalami sesak atau pernafasan cepat harus dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
"Kalau dia sesak atau nafas cepat, itu biasanya kegawatan pada saluran pernafasan. Napasnya itu berdasarkan usia kalau misalnya di atas 1
tahun biasanya lebih dari 40 kali dalam 1 menit," ucapnya.
"Jadi dilihat napasnya jadi ada kayak bantuan nafas atau kayak ada usaha nafas, agak berat atau bunyi ngik..ngik. Itu takutnya dia memang membutuhkan fasilitas khusus, jadi harus dibawa ke rumah sakit," tambahnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan apabila mudik dengan bayi atau anak di bawah 3 tahun yang masih menggunakan diapers atau popok harus diperhatikan dengan sering diganti sekitar 3 sampai dengan 4 jam sekali untuk mencegah mengalami ruam popok.
"Kalau misalnya hanya batuk-batuk biasa, anaknya masih lari-lari, masih mau makan minum, kencingnya juga masih banyak, udah itu aman-aman
saja sih," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Inisiatif ini mempertegas komitmen platform dalam melibatkan orangtua secara langsung untuk menyusun kebijakan dan pengembangan Roblox di masa depan.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved