Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Prof. Dr. dr. Em Yunir, SpPD-KEMD menyatakan bahwa kesehatan tubuh selama Lebaran bisa tetap dijaga apabila dilakukan dengan tepat dan tidak berlebihan.
"Selain mengatur pola makan, kita dapat melakukan latihan fisik yang teratur. Jadi usahakan atau manfaatkan saran dan perasaan yang ada di sekitar rumah, tidak usah terlalu membeli khusus alat-alat yang kita rasa mungkin masih terlalu mahal," kata Em dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa.
Em menjelaskan hal pertama yang dapat masyarakat lakukan adalah mengatur pola makan. Masyarakat dianjurkan untuk menjaga asupan kalorinya dengan makan tiga kali sehari, dan dapat diselingi dengan buah-buahan dan sayur yang kaya akan vitamin dan mineral, beserta makanan lainnya.
Jika ingin mengonsumsi makanan yang biasa dihidangkan seperti opor, rendang atau ketupat, dianjurkan untuk tetap membatasi konsumsi makanan berlemak, kolestrol dan perhatikan porsinya. Tujuannya yakni menghindari terjadinya penumpukan lemak yang dapat berakibat fatal pada organ vital serta kenaikan berat badan yang berujung pada obesitas.
"Sangat penting untuk mengetahui rasio dari komposisi makanan yang dikonsumsi," katanya.
Selanjutnya yakni melakukan latihan fisik dengan teratur yakni dengan durasi 30-45 menit dengan total durasi minimal 150 menit per minggu. Jeda antar latihan juga tidak boleh lebih dari dua hari berturut-turut.
Bagi masyarakat yang ingin melakukan olahraga di rumah memiliki beberapa pilihan latihan, bisa mulai dari jalan cepat di sekitar rumah atau di dalam rumah selama kurang lebih 30-45 menit per hari.
Naik turun tangga juga bisa dijadikan salah satu latihan fisik di rumah. Latihan itu bisa dilakukan selama 10-15 menit dengan porsi dua sampai tiga kali per hari.
Latihan lain yang memiliki gerakan sederhana dan bisa dicoba adalah jumping jacks atau gerakan melompat sambil membuka tangan dan kaki lalu mengatupkannya kembali.
"Masyarakat juga bisa memilih squat atau sit-t stand, wall push up atau olahraga dengan menggunakan hula hoop," ujar Manajer Pendidikan dan Kemahasiswaan Program Dokter Spesialis dan Subspesialis FK-UI itu.
Em menekankan olahraga yang dijalankan harus disesuaikan dengan umur dan anjuran dokter, terlebih bagi yang sudah lanjut usia maupun penderita komorbid.
Ia melanjutkan sebagai bentuk antisipasi, masyarakat juga dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan gula darah guna mengontrol kadar gula dalam darah tetap dalam rentang yang aman serta mendiagnosis adanya penyakit seperti diabetes.
"Sebenarnya puasa selama satu bulan dapat memperbaiki kondisi metabolisme tubuh, namun usai Ramadhan, saat Lebaran dapat terjadi peningkatan gangguan metabolisme tubuh seperti gula darah tinggi, kolestrol, berat badan naik dan tekanan darah naik, sehingga perlu kita jaga betul," katanya. (Ant/I-3)
Satgas Saber bertujuan menjamin pelaksanaan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP), Harga Eceran Tertinggi (HET), serta Harga Acuan Pembelian dan Penjualan (HAP)
Isu yang diangkat film Tunggu Aku Sukses Nanti merupakan refleksi dari apa yang sering dirasakan orang banyak ketika momen mudik atau silaturahmi berlangsung.
Musim puncak (peak season) pengiriman Ramadan dan Lebaran tahun 2026 jadi momen optimisme perusahaan jasa logistik.
Industri pariwisata Bali bersiap menghadapi lonjakan permintaan akomodasi pada Maret 2026 seiring berdekatannya Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri.
Masyarakat yang melakukan pemesanan tiket kereta api pada 25 Januari 2026 sudah dapat merencanakan perjalanan untuk keberangkatan mulai 11 Maret 2026.
Pertemuan momen libur Lebaran dan musim sakura berisiko memicu keterbatasan kursi pesawat.
Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved