Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Budaya Asal Kenyang Saat Lebaran: Akar Masalah Timbulan Sampah Makanan

Basuki Eka Purnama
18/3/2026 11:58
Budaya Asal Kenyang Saat Lebaran: Akar Masalah Timbulan Sampah Makanan
Ilustrasi(Freepik)

TRADISI menjamu tamu selama Idul Fitri sering kali dianggap sebagai bentuk kemuliaan. Namun, di balik kedermawanan tersebut, terselip masalah lingkungan yang serius: melonjaknya timbulan sampah makanan (food waste). 

Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University, Meti Ekayani, menilai fenomena ini sebagai cerminan budaya konsumsi masyarakat yang mendesak untuk dibenahi.

Menurut Meti, akar permasalahan ini terletak pada dua aspek utama, yakni perilaku konsumsi dan sistem tata kelola sampah yang belum mumpuni. 

“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya ada dua hal, budaya konsumsi masyarakat dan sistem pengelolaan sampah yang belum efektif,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (18/3).

Perangkap "Lapar Mata" dan Gengsi Sosial

Kebiasaan menyajikan hidangan dalam jumlah berlebih kerap kali dipicu oleh rasa sungkan. 

Masyarakat cenderung merasa tidak enak hati jika makanan yang disajikan untuk tamu habis di tengah acara. Akibatnya, porsi makanan sengaja dilebihkan secara masif meski akhirnya berakhir di tempat sampah.

“Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik dilebihkan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis,” jelas Meti.

Selain faktor gengsi, buruknya perencanaan konsumsi rumah tangga memperparah kondisi ini. 

Fenomena "lapar mata" selama Ramadan sering membuat orang membeli beragam jenis takjil dan lauk secara impulsif. Padahal, kapasitas perut saat berbuka terbatas. 

Masalah komunikasi antaranggota keluarga pun turut menyumbang surplus makanan, misalnya ketika hidangan sudah dimasak namun anggota keluarga justru memilih berbuka di luar rumah.

Tantangan Pengelolaan dan Kurangnya Insentif

Masalah perilaku ini diperburuk dengan sistem pengelolaan sampah di Indonesia yang masih menggunakan pola konvensional: kumpul, angkut, dan buang. 

Meti menyoroti tidak adanya perbedaan tarif retribusi antara rumah tangga yang memproduksi banyak sampah dengan yang sedikit. 

“Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah,” tegasnya.

Kondisi ini diperparah dengan rendahnya kesadaran memilah sampah. Ketika sampah organik (sisa makanan) tercampur dengan sampah kering (plastik atau kertas), nilai ekonomi sampah anorganik tersebut hilang karena terkontaminasi.

Solusi: Perencanaan dan Pengolahan Mandiri

Sebagai langkah konkret, Meti mendorong masyarakat untuk lebih matang dalam merencanakan belanja dan konsumsi. Jika timbulan sampah makanan tetap tidak terhindarkan, ia menyarankan pengolahan di hulu daripada membuangnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Limbah organik sebenarnya memiliki potensi manfaat jika dikelola dengan benar, seperti diolah menjadi kompos atau digunakan sebagai pakan dalam budidaya maggot. 

“Kalau food waste tidak bisa sepenuhnya dicegah, setidaknya bisa diolah. Dengan begitu, kita tidak hanya mengurangi sampah tetapi juga menciptakan manfaat baru dari limbah makanan,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik