Headline

Pesan Presiden ialah efisiensi dimulai dari level atas.

Ruang Damai Angkat Nilai Nyepi dan Idulfitri sebagai Fondasi Perdamaian Global

Khoerun Nadif Rahmat
17/3/2026 21:56
Ruang Damai Angkat Nilai Nyepi dan Idulfitri sebagai Fondasi Perdamaian Global
Yayasan Ruang Damai sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Spirit Nyepi dan Idulfitri untuk Perdamaian Global” pada Senin (16/3/2026).(Dok istimewa)

WEBINAR Bincang Damai yang digelar Yayasan Ruang Damai menegaskan bahwa nilai spiritual dalam Nyepi dan Idulfitri dapat menjadi fondasi penting untuk membangun perdamaian global di tengah meningkatnya tensi geopolitik dunia.

Yayasan Ruang Damai sukses menyelenggarakan webinar bertajuk “Spirit Nyepi dan Idulfitri untuk Perdamaian Global” pada Senin (16/3). Forum ini menjadi ruang strategis untuk merespons dinamika geopolitik sekaligus memperkuat ideologi Pancasila dan keutuhan NKRI sebagai perekat bangsa.

Direktur Eksekutif Ruang Damai, Zainal Abidin, menekankan pentingnya dialog sebagai jembatan perdamaian yang membawa nilai-nilai agama ke tingkat global.

"Kegiatan ini diharapkan memberi pelajaran penting dalam mendukung perdamaian dunia, terutama di tengah polemik global yang terjadi saat ini, seperti yang melanda wilayah Iran. Ruang Damai percaya nilai agama adalah pondasi perdamaian," ujarnya.

Pegiat dialog lintas iman, Wawan Gunawan, mengingatkan ancaman existential vacuum atau kekosongan eksistensial yang membuat masyarakat kehilangan akar budaya. Ia juga menyoroti bahaya puritanisme yang berpotensi memicu superioritas kelompok dan benturan identitas.

Sebagai solusi, Wawan mendorong revitalisasi kearifan lokal seperti tradisi menyekar yang sarat makna refleksi dan penghormatan.

"Indonesia tidak perlu diislamkan, melainkan harus mencerminkan konsep 'Indonesia Islam'—sebuah bentuk keberislaman yang tumbuh dan berakar kuat dalam konteks sosial masyarakat lokal," tegasnya.

Pakar hubungan internasional Robi Sugara menyoroti tantangan Revolusi 6.0 yang dinilai dapat mengganggu stabilitas sosial jika tidak diimbangi kesiapan mental. Ia juga mengingatkan bahwa sentimen keagamaan kerap dipolitisasi dalam konflik global.

"Kita harus mendorong nilai lokal, seperti konsep keheningan dalam Nyepi dan tradisi Halalbihalal, untuk diangkat menjadi instrumen penting dalam kebijakan nasional hingga diplomasi global," katanya.

Sementara itu, Ketua Persadha Nusantara Bali, I Ketut Sae Tanju, menegaskan bahwa Nyepi bukan ruang negosiasi bagi perayaan agama lain, melainkan identitas religius dan budaya masyarakat Bali yang harus dihormati.

Ia menawarkan filosofi "cukup" sebagai dasar menciptakan harmoni dalam keberagaman.

"Konsep Nyepi dapat menjadi teladan global bagi manusia untuk memberi waktu istirahat bagi alam dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup," jelasnya.

Webinar itu menyimpulkan pentingnya penguatan literasi digital dan dialog antarbudaya sebagai filter menghadapi tantangan global, sekaligus menegaskan urgensi diskusi berkelanjutan guna membangun pemahaman tanpa saling menghakimi. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya