Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Nyepi dan Lebaran 2026 Berdekatan, Permintaan Akomodasi di Bali Diproyeksi Naik Tajam

Putri Anisa Yuliani
31/1/2026 01:55
Nyepi dan Lebaran 2026 Berdekatan, Permintaan Akomodasi di Bali Diproyeksi Naik Tajam
Ilustrasi(Nakula)

Industri pariwisata Bali bersiap menghadapi lonjakan permintaan akomodasi pada Maret 2026 seiring berdekatan­nya Hari Raya Nyepi dan Idul Fitri. Dua momen besar tersebut hanya terpaut dua hari, Nyepi pada 19 Maret dan Idul Fitri pada 21-22 Maret 2026. Kondisi itu berpotensi menciptakan libur panjang hingga sekitar satu pekan bagi banyak masyarakat Indonesia.

Situasi ini mendorong pelaku industri mengingatkan wisatawan agar merencanakan perjalanan lebih dini. Nyepi dikenal sebagai hari hening selama 24 jam di mana seluruh aktivitas di Bali dihentikan, termasuk operasional bandara dan transportasi. Tanpa persiapan matang, wisatawan berisiko menghadapi keterbatasan mobilitas dan pilihan akomodasi.

Dari sisi daya tarik destinasi, posisi Bali dinilai masih sangat kuat. Platform perjalanan TripAdvisor menempatkan Bali sebagai destinasi wisata nomor satu dunia dalam daftar Travelers’ Choice 2026. Popularitas ini selaras dengan kinerja kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 7,1 juta kunjungan. Itu menjadi rekor tertinggi dan melampaui level prapandemi.

Permintaan juga diperkirakan terdorong oleh wisatawan domestik. Pemerintah disebut berencana melanjutkan stimulus seperti diskon tiket pesawat menjelang Lebaran untuk mendorong mobilitas wisata. Di sisi konektivitas internasional, pembukaan rute baru dari Singapura, Newcastle (Australia), dan Mumbai memperluas akses menuju Bali.

Melihat peluang tersebut, pelaku usaha vila mulai menyiapkan strategi. Nakula Villa Management menilai pemesanan lebih awal menjadi kunci menjaga kualitas pengalaman tamu sekaligus mengoptimalkan tingkat hunian. Perusahaan ini mengelola vila berkapasitas besar di kawasan Canggu, Ungasan, dan Kerobokan.

CEO Nakula Villa Management Christian Sunjoto menyebut persaingan akomodasi pada musim puncak semakin ketat seiring konsistensi Bali sebagai destinasi unggulan dunia.

“Dengan permintaan perjalanan yang terus meningkat, perencanaan lebih awal menjadi semakin penting. Vila-vila kami dirancang untuk menghadirkan kenyamanan dan privasi bagi keluarga yang ingin berkumpul dan merayakan momen spesial,” ujarnya.

Selain Nyepi dan Lebaran, pelaku industri juga memperhitungkan efek libur Tahun Baru Imlek pada Februari 2026. Rangkaian hari besar yang berdekatan ini berpotensi menciptakan extended peak season pada kuartal pertama 2026, yang dapat berdampak langsung pada tarif dan tingkat hunian.

Bagi hotel dan pengelola vila, kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus tantangan. Permintaan tinggi membuka ruang peningkatan pendapatan, namun keterbatasan pasokan dan karakteristik Nyepi menuntut perencanaan operasional yang cermat agar pengalaman wisatawan tetap optimal.

Dengan pemulihan pariwisata yang semakin solid dan dukungan konektivitas udara, Bali diperkirakan tetap menjadi magnet utama wisatawan domestik maupun mancanegara pada 2026. Perencanaan dini, baik oleh wisatawan maupun pelaku usaha, dinilai akan menjadi faktor penentu kelancaran musim liburan Maret mendatang. (E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya