Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggarisbawahi pentingnya orangtua menyediakan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang tepat bagi sang buah hati di fase 1.000 Hari Kehidupan Pertama (HPK) karena mencegah secara efektif terjadinya malnutrisi pada anak.
Hal itu disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI Meta Herdiana Hanindita yang menyebutkan pemberian MPASI pada anak harus mengutamakan pemenuhan kandungan makronutrien dan mikronutrien sehingga malnutrisi tidak dialami pada anak.
"Pada prinsipnya untuk mencegah malnutrisi di 1000 HPK ya, boleh diberikan ASI eksklusif dan dilanjutkan MPASI yang diberikan tepat waktu, adekuat (semua gizi tercukupi), aman, higienis,dan diberikan dengan cara yang benar atau responsif," kata Meta dalam webinar, Selasa (21/1).
Secara garis besar, Meta menjelaskan malnutrisi didefinisikan sebagai kondisi di mana tubuh mengalami kondisi nutrisi yang tidak seimbang. Itu artinya malnutrisi tidak hanya kondisi kekurangan gizi tapi bisa juga kondisi kelebihan gizi yang tidak tepat.
Saat ini ada tiga kondisi yang termasuk dalam malnutrisi. Pertama ada kelebihan nutrisi (overweight) dan obesitas; lalu kondisi lain yang masuk dalam malnutrisi adalah kekurangan gizi yaitu wasting, gizi buruk (severe wasting), dan stunting.
Terakhir ada kondisi yang disebut defiensi mikronutrien kerap disebut dengan hidden hunger, sebuah kondisi kekurangan zat mikronutrien yang gejalanya tidak terlihat jelas contohnya seperti anemia defisiensi zat besi, defisiensi zat zinc (seng), hingga defisiensi vitamin A.
Maka dari itu, mengingat 1.000 HPK adalah fase paling penting dalam kehidupan manusia maka dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Dokter Soetomo Surabaya itu menyebutkan malnutrisi perlu dicegah di 1.000 HPK yaitu dengan cara pemberian MPASI yang adekuat.
Adapun komposisi MPASI adekuat meliputi pemberian makronutrien dan mikronutrien yang tepat dan seimbang.
Makronutrien dijelaskan Meta sebagai bahan makanan yang memiliki fungsi menghasilkan energi bagi tubuh dan dibutuhkan dalam jumlah banyak. Dapat dipenuhi dengan pemberian karbohidrat, protein, dan lemak.
Sementara untuk mikronutrien, adalah kandungan pada bahan yang dikonsumsi dan dibutuhkan dalam jumlah yang lebih sedikit dari makronutrien. Contohnya kandungan vitamin dan mineral seperti vitamin A, zat besi, zat zinc (seng), zat iodium yang fungsinya dapat membantu proses metabolisme dan menjaga daya tahan tubuh.
Lebih lanjut Meta menjelaskan MPASI adekuat yang bisa diberikan kepada anak di 1.000 HPK setidaknya harus memenuhi komposisi dengan persentase 35%-60% karbohidrat, protein sebesar 10%-15% yang diprioritaskan diisi oleh protein hewan, dan 30%-45% diisi lemak.
Meta turut merekomendasikan orang tua agar rutin melakukan evaluasi pertumbuhan yang standarnya disesuaikan dengan kurva pertumbuhan dari WHO dengan demikian apabila ditemukan gangguan dapat segera ditindaklanjuti sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak dapat terjaga.
"Jangan lupa evaluasi pertumbuhan, timbang berat badan dengan cara benar, ukur panjang badan, dan tinggi badan menggunakan alat terstandar
lalu di plot di kurva. Kalau diplot di kurva ada gangguan, misal kayak ada berat badan seret itu tanda awal gangguan dan harus segera koordinasi kepada dokter untuk tindak lanjut," pungkas Meta. (Ant/Z-1)
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
MEREK makanan pendamping ASI dari PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), SUN menggelar Lomba Kreasi Lahap Makan sebaai upaya untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak Indonesia.
Mengonsumsi beras ketan hitam memberikan banyak manfaat untuk kesehatan anak, apalagi bahan ini mudah diolah menjadi berbagai hidangan.
Cari tahu 10 makanan sehat terbaik untuk bayi usia 9 bulan yang membantu perkembangan otak, kecerdasan, dan tumbuh kembang optimal.
Tidak sedikit orangtua dengan riwayat alergi makanan kerap memiliki ketakutan bahwa anaknya juga memiliki kondisi serupa, sehingga akhirnya memantang bahan makanan anak.
Peran dominan ibu penting diterapkan terutama bagi anak yang diasuh dalam lingkup keluarga lebih besar melibatkan nenek, kakek, atau pengasuh lainnya.
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved