Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KANKER merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti di dunia. Kanker adalah salah satu penyakit yang paling banyak merenggut nyawa manusia. Namun, deteksi dini melalui screening dapat meningkatkan peluang kesembuhan dan kelangsungan hidup pasien. Meskipun demikian, masih banyak orang yang enggan melakukan screening untuk deteksi dini kanker.
Menariknya, hampir semua orang yang tidak menjalani screening tahu bahwa seharusnya menjalani skrining untuk potensi dini penyakit kanker.
Dilansir dari Survei American Cancer Society (ACS) terhadap lebih dari 2.000 orang dewasa yang tidak menjalani skrining mengidentifikasi beberapa gagasan yang cukup jelas tentang apa yang menghalangi orang untuk mengambil langkah tersebut.
Baca juga : Indonesia International Cancer Conference Digelar untuk Kali Pertama
Screening kanker adalah proses pemeriksaan untuk menemukan kanker sebelum seseorang memiliki gejala. Ini dapat membantu menemukan kanker pada tahap awal ketika lebih mudah diobati. Namun, meskipun manfaatnya jelas, banyak orang masih menghindari screening kanker.
Mengapa hal ini terjadi? Apa yang membuat orang enggan melakukan screening kanker padahal prosedur ini bisa saja menyelamatkan nyawa?
Mari telusuri tiga alasan yang dikemukakan American Cancer Society, yang sering menjadi penghalang bagi masyarakat untuk melakukan screening kanker.
Baca juga : Kemenkes Targetkan Tambah Alat Deteksi Kanker di 16 Rumah Sakit Pemerintah hingga 2027
Salah satu alasan utama orang menghindari screening kanker adalah ketakutan dan kecemasan.
Banyak orang merasa takut akan kemungkinan hasil positif. Lebih memilih untuk tidak mengetahui apakah didiagnosa kanker daripada harus menghadapi kenyataan bahwa mereka mungkin menderita kanker.
Ketakutan ini sering kali diperparah oleh stigma yang masih melekat pada penyakit kanker.
Baca juga : Ini Gejala Kanker Paru yang Perlu Anda Waspadai
Beberapa orang mungkin khawatir akan diskriminasi atau perubahan dalam hubungan sosial mereka jika terdiagnosis kanker. Ketakutan ini bisa sangat kuat sehingga mengalahkan logika tentang pentingnya deteksi dini.
Selain itu diperparah dengan stigma kecemasan, bahwa tes screening kanker terkenal sulit atau menyakitkan, dan mungkin malu untuk mendiskusikan pemeriksaan kanker dengan seseorang yang ahli di bidang ini. Padahal, Beberapa tes dapat dilakukan di rumah tanpa rasa sakit atau ketidaknyamanan.
Faktor kedua adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang pentingnya screening kanker.
Baca juga : Rasa Takut Sebabkan Perempuan tidak Jalani Pemeriksaan Kanker Serviks
Banyak orang tidak menyadari bahwa screening dapat mendeteksi kanker sebelum gejala muncul, ketika pengobatan cenderung lebih efektif.
Selain itu, ada juga kesalahpahaman tentang jika tidak memiliki riwayat keluarga, berkesimpulan bahwa tidak berisiko dan tidak perlu menjalani prosedur screening ini.
Kesalahpahaman lain yaitu mengira screening hanya dilakukan bagi seseorang yang memiliki gejala- gejala kanker.
Alasan ketiga berkaitan dengan hambatan praktis yang dihadapi masyarakat. Hal itu bisa mencakup masalah akses ke layanan kesehatan, biaya, atau kendala waktu. Bagi beberapa orang, mengambil cuti kerja untuk melakukan screening bisa menjadi masalah besar.
Di beberapa daerah, fasilitas screening mungkin tidak tersedia atau sulit dijangkau. Bahkan ketika fasilitas tersedia, waktu tunggu yang lama bisa menjadi penghalang.
Selain itu, biaya screening juga bisa menjadi masalah, terutama bagi mereka yang tidak memiliki asuransi kesehatan yang memadai.
Hambatan-hambatan ini membutuhkan upaya dari berbagai pihak. Pemerintah dan penyedia layanan kesehatan perlu bekerja sama untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan screening kanker.
Edukasi masyarakat juga penting untuk menghapus stigma dan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya deteksi dini.
Memang pada akhirnya, keputusan untuk melakukan screening kanker adalah pilihan pribadi.
Namun, dengan pemahaman yang lebih baik tentang manfaat screening dan dukungan yang tepat, diharapkan lebih banyak orang akan memilih untuk melakukan langkah proaktif ini demi kesehatan mereka. (Z-1)
“Cakupannya yang tahun lalu dilakukan di puskesmas dan sekolah, tahun ini kita mau lakukan di tempat kerja. Termasuk DPR RI,”
Indonesia masih menghadapi ribuan kasus kusta tiap tahun. Empat strategi kunci dari deteksi dini hingga anti-stigma dinilai penting menuju target Zero Leprosy.
Prioritaskan kunjungan antenatal sejak trimester pertama, meskipun ibu hamil merasa sehat.
Tenaga kesehatan dibekali keterampilan VIA–DoVIA dan penggunaan AI HerLens dengan materi mencakup materi klinis, praktik lapangan, serta quality assurance.
Di sisi lain, lebih dari 20% kasus rawat jalan dan biaya klaim rawat jalan di Indonesia disebabkan infeksi saluran pernapasan atas akut.
Kota Bogor menargetkan 2.500 orang/ peserta pemeriksaan HPV-DNA yang akan diselesaikan pada periode 8–15 Desember 2025.
Ketidakmampuan untuk melakukan diagnosis secara dini atau melakukan deteksi dini, membuat jumlah kasus cukup tinggi.
Kota Bogor menargetkan 2.500 orang/ peserta pemeriksaan HPV-DNA yang akan diselesaikan pada periode 8–15 Desember 2025.
Studi 11 tahun di tujuh pusat layanan kesehatan New York menunjukkan seperempat kasus kanker payudara terjadi pada perempuan usia 18-49 tahun.
Layanan skrining ini meliputi SPOT-MAS 10 yang merupakan tes non-invasif untuk mendeteksi dini 10 jenis kanker, HPV DNA urine untuk skrining kanker serviks.
Studi Cleveland Clinic menemukan 5% orang Amerika atau sekitar 17 juta orang memiliki mutasi genetik berisiko kanker, termasuk gen BRCA1 dan BRCA2.
Tes darah Galleri yang dikembangkan perusahaan AS, Grail, berhasil mendeteksi lebih dari 50 jenis kanker dalam uji klinis di Amerika Utara.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved