Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
KESEHATAN mental merupakan salah satu hal yang penting untuk diperhatikan. Dalam hal ini, peran seorang psikolog dan psikiater sangat dibutuhkan. Kedua profesi tersebut dapat membantu orang dengan masalah mental secara profesional.
Meski bergerak dalam bidang yang sama, kedua profesi tersebut memiliki peran dan wewenang berbeda dalam merawat pasien. Hal ini masih banyak yang belum diketahui orang-orang.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan antara psikolog dan psikiater?
Baca juga : Bunuh Diri Dianggap Sebagai Jalan Keluar dari Masalah Hidup yang Kompleks
Dillansir dari American Psychological Association, seorang psikiater belajar untuk mendapatkan gelar medis di bidang kesehatan mental, baik untuk memperoleh gelar MD (doktor kedokteran) atau DO (doktor kedokteran osteopatik).
Setelah lulus dengan salah satu gelar tersebut, mereka mengikuti ujian untuk memperoleh lisensi untuk menjalankan praktik di bidang mereka di negara bagian yang dipilih.
Mereka kemudian diharuskan untuk melanjutkan praktiknya selama minimal empat tahun di rumah sakit di bawah pengawasan dokter senior. Psikiater juga harus memperbarui sertifikasi praktik mereka setiap 10 tahun.
Baca juga : Hari Kesehatan Mental Sedunia 10 Oktober, Apakah Itu dan Bagaimana Sejarahnya?
Seorang psikolog menempuh program pascasarjana di bidang kedokteran selama empat atau enam tahun untuk meraih gelar PhD (doktor filsafat) atau PsyD (doktor psikologi).
Mereka juga akan diminta untuk menyelesaikan ujian guna memperoleh lisensi di negara bagian yang dipilih untuk menjalankan praktik secara profesional.
Dikutip dari Mitra Keluarga, saat melakukan diagnosis, psikolog mempersilahkan kliennya untuk bercerita mengenai masalah yang dihadapi. Kemudian, psikolog mempersilahkan klien untuk melakukan cognitive behavioural test guna melihat perilaku dan emosional.
Baca juga : Gen Z Rentan Terkena Gangguan Mental, Apa Penyebabnya?
Tes tersebut bergantung pada masalah yang dimiliki klien. Model tes seperti kuesioner, tes IQ, hingga neuropsikologi guna melihat perkembangan kognitif dan memori. Jika gangguan mental semakin parah, psikolog akan merekomendasikan Anda untuk kontrol lebih lanjut dengan psikiater.
Psikiater umumnya melakukan diagnosis gangguan kejiwaan secara lebih medis. Psikiater akan mempelajari semua gejala yang dialami pasien, memeriksa riwayat gangguan kesehatan yang dialami, obat-obatan yang dikonsumsi, dan hasil diskusi dengan pasien.
Karena pemeriksaannya lebih medis, psikiater juga dapat memberikan rekomendasi obat-obatan atau jenis terapi untuk proses penyembuhan.
Baca juga : PR Mendikbud Baru: Kembangkan Kecerdasan Emosional Mahasiswa agar Tidak Gampang Depresi
Psikolog tidak bisa melakukan diagnosis gangguan mental pada seseorang. Namun, psikolog dapat membantu menurunkan intensitas gejala yang dialami oleh pasien, dengan rekomendasi pola hidup lebih sehat.
Sementara psikiater atau dokter spesialis kejiwaan, mereka mampu mengidentifikasi gangguan mental yang lebih kompleks. Misalnya, bipolar, gangguan kecemasan, anorexia nervosa, depresi, dan skizofrenia.
Perbedaan paling mencolok antara psikiater dan psikolog adalah jenis pengobatan yang diberikan.
Psikiater, sebagai dokter spesialis kejiwaan, dapat memberikan rekomendasi terapi dan meresepkan obat-obatan.
Namun, psikolog tidak dapat meresepkan obat-obatan. Psikolog hanya dapat memberikan rekomendasi terapi dan latihan. Untuk terapi yang direkomendasikan juga sebatas kegiatan dan aktivitas, semisal meditasi, menulis jurnal, olahraga, dan melatih sugesti serta pola pikir. (Z-10)
SEORANG siswa bunuh diri di NTT. Anak berinisial YBS yang baru menginjak 10 tahun, Psikiater, menekankan bahwa anak berusia 10 tahun sudah memahami konsep kematian
Dokter mendiagnosis pasien mengalami psikosis nonspesifik, yakni kondisi ketika seseorang kehilangan keterhubungan dengan realitas dan meyakini delusi secara kuat.
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Psikiater Samarinda ungkap pola asuh keras picu self-harm remaja. Validasi emosi sejak kecil penting cegah depresi, kecemasan, hingga perilaku menyakiti diri.
Ashanty mengaku alasannya mencari bantuan tenaga profesional bukan karena tidak kuat menghadapi tekanan kerja maupun kuliah.
Psikiater Judith Joseph ungkap kebahagiaan adalah hak asasi manusia. Ini 5 langkah untuk pulihkan rasa joy dari depresi tersembunyi.
Reisa Broto Asmoro & Ustaz Akri Patrio ingatkan batasan sharing di medsos saat Ramadan agar tidak merusak mental dan pahala. Simak tips bijak bermedsos di sini.
Tidur cukup bukan sekadar istirahat. Ini 7 manfaat tidur berkualitas bagi kesehatan tubuh dan mental.
Identifikasi trauma pada anak memerlukan kepekaan khusus karena mereka belum mampu mengomunikasikan perasaan mereka secara verbal.
Pelajari ciri-ciri stres fisik, psikologis, dan perilaku serta cara efektif menanggulanginya melalui koping proaktif, mindfulness, olahraga, dan intervensi sosial.
Menggabungkan pendekatan neurosains (neuroplastisitas) dengan strategi praktis menghadapi "AI Fatigue" yang menjadi tren kesehatan di tahun 2026.
Banyak orang, baik penyintas maupun relawan, cenderung mengabaikan kondisi mental mereka sendiri karena fokus utama tersita untuk menolong keluarga atau memenuhi kebutuhan dasar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved