Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MERAWAT orang lanjut usia (lansia) ternyata memiliki tantangan tersendiri. Pernahkah kamu melihat lansia yang tiba-tiba bersikap kekanak-kanakan? Misalnya mudah ngambek, keras kepala, hingga mudah takut. Apakah ini hanya perasaan kamu atau memang benar lansia menjadi kekanakan?
Menurut Psikiater dr. Irmia Kusumadewi, SpKJ(K), tidak semua lansia memiliki kecenderungan bersikap kekanakan. Hanya lansia yang sudah mengalami penurunan fungsi kognitif yang bisa mendadak jadi kekanakan.
Melansir situs Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, penurunan fungsi kognitif terwujud dalam bentuk berkurangnya kemampuan berpikir dan menempatkan diri, bahkan kesulitan membedakan kenyataan dan bayangan.
Hal ini biasa dialami oleh lansia yang menunjukkan gejala demensia maupun penderita Alzheimer. Semakin banyak penurunan fungsinya kognitifnya, makin sensitif sikapnya pada berbagai perubahan.
Selain itu, sikap kekanakan juga bisa ditunjukkan oleh lansia yang memiliki masalah kesehatan, seperti gangguan berkemih dan sulit tidur. Jika lansia tidak dapat mengomunikasikan rasa sakit tersebut pada anggota keluarga lain (misal karena Alzheimer atau stroke), maka yang muncul adalah uring-uringan atau sebaliknya, menjadi pasif.(M-3)
DPR mendorong adanya keterlibatan ahli dan profesional dalam menanggulangi kasus bullying agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.
Psikiater Samarinda ungkap pola asuh keras picu self-harm remaja. Validasi emosi sejak kecil penting cegah depresi, kecemasan, hingga perilaku menyakiti diri.
Ashanty mengaku alasannya mencari bantuan tenaga profesional bukan karena tidak kuat menghadapi tekanan kerja maupun kuliah.
Psikiater Judith Joseph ungkap kebahagiaan adalah hak asasi manusia. Ini 5 langkah untuk pulihkan rasa joy dari depresi tersembunyi.
Peran seorang psikolog dan psikiater sangat dibutuhkan untuk menakar kesehatan mental. Kedua profesi tersebut dapat membantu orang dengan masalah mental secara profesional.
Faktor yang memengaruhi kesehatan mental antara lain genetik, pengalaman traumatis, stres, tekanan hidup, isolasi sosial, ketidaksetaraan sosial-ekonomi, dan sebagainya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved