Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Food and Agriculture Organization (FAO) merilis publikasi baru terkait dengan deforestasi global, dengan tajuk Keadaan Hutan Dunia 2024. Dalam publikasi itu, FAO menyebut ada tren penurunan deforestasi dunia. Laju kehilangan hutan bakau global bruto menurun sebesar 23% antara tahun 2000-2010 dan 2010-2020.
Menanggapi hal itu, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengapresiasi kinerja semua pihak. Dalam pertemuan Committee on Forestry (COFO) ke 27 di Roma, Italia, ia menekankan bahwa Indonesia terus bekerja untuk menurunkan tingkat deforestasi.
"Kami mengapresiasi kabar baik yang menunjukkan bahwa ada penurunan deforestasi yang signifikan di beberapa negara. Di Indonesia sendiri, deforestasi diperkirakan menurun sebesar 8,4% pada 2021-2022," ujar Siti dalam keterangan resmi, Selasa (23/7).
Baca juga : KLHK dan Norwegia Perkuat Kerja Sama Pengelolaan Hutan Lestari
Kendati demikian, ia meminta semua pihak tidak lantas berpuas diri. "Hal ini merupakan berita yang menggembirakan. Namun, pekerjaan kita bersama masih jauh dari selesai," imbuhnya.
Atas beberapa berita positif tadi, Siti menegaskan kembali target iklim yang dicanangkan Indonesia. Ia menjelaskan bahwa pengurangan emisi Indonesia ialah sebesar 47,3% pada 2020, 43,8% pada tahun 2021, dan 41,6% pada tahun 2022. Angka tersebut rata-rata lebih bagus dari baseline tahunan, di sekitar target NDC 43,2% dengan kerja sama internasional dan jauh melebihi target kapasitas nasional 31,89%.
Lebih lanjut Ia menyebut jika pendekatan Indonesia dalam mengelola sumber daya alam dan mengimplementasikan aksi iklim dilakukan secara sistematis dan terintegrasi, yang mencakup 15 klaster aksi iklim di bawah Rencana Operasional FOLU Net Sink 2030. Rencana ini mengikat secara hukum, bukan hanya komitmen di atas kertas.
Baca juga : Menteri LHK Siti Nurbaya Teken Kerja Sama Dengan Bezos Earth Fund
Meskipun target NDC Indonesia mencakup sekitar 60% dari sektor FOLU, inisiatif FOLU Net Sink 2030 bukan hanya tentang tujuan iklim. Inisiatif ini juga memprioritaskan perlindungan spesies seperti orangutan Sumatra, gajah, harimau, badak, orangutan Tapanuli, orangutan Kalimantan, dan badak Jawa, di antara spesies lainnya, untuk memastikan populasi mereka terus berkembang dan terhindar dari kepunahan.
"Pengarusutamaan konservasi keanekaragaman hayati, termasuk satwa liar, perlindungan habitat, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan, sangat penting dalam mencapai tujuan Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global. Meskipun FOLU Net Sink ditargetkan secara nasional pada tahun 2030, bentang alam utama di Sumatera, Kalimantan, dan Papua telah mencapai tonggak sejarah ini," jelas Siti.
Menurut dia, Indonesia telah mendukung inovasi yang bertanggung jawab dan inklusif untuk mengoptimalkan solusi berbasis hutan. Indonesia telah membawa banyak program dan kegiatan seperti FOLU Net Sink 2030, pengurangan laju deforestasi, peningkatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan, peningkatan program perhutanan sosial dan hutan kemasyarakatan adat, promosi kawasan konservasi dengan menerapkan Resort Based Management (RBM) dan menerapkan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART), meningkatkan tata kelola kehutanan, meningkatkan ekosistem gambut dan bakau, memperkenalkan Sistem Verifikasi dan Legalitas Kayu (SVLK) dan melibatkan kaum muda untuk berinvestasi dalam pengelolaan hutan dan lingkungan yang berkelanjutan.
"Semua inovasi dan program tersebut telah dijelaskan dalam publikasi terbaru kami The State of Indonesia's Forests 2024, yang merupakan versi Indonesia dari SOFO 2024 yang akan diluncurkan Selasa 23 Juli 2024 pukul 8.00 pagi di Syeikh Zayed Conference Room," pungkas Siti. (Z-11)
DALAM satu dekade 2014-2024 luas hutan alam di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Barito di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan telah berkurang (deforestasi) hingga 29 ribu hektare lebih.
DESEMBER 2025 seharusnya menjadi bulan penuh refleksi dan harapan.
Pembangunan ekstraktif banyak menimbulkan dampak sosial-ekologis, misalnya, ruang hidup masyarakat adat dan lokal terampas.
Anggota Komisi IV DPR RI Rokhmin Dahuri menegaskan 80% penyebab banjir berasal dari kerusakan lingkungan, bukan cuaca ekstrem.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
PT Astra Agro Lestari Tbk menegaskan konsistensinya dalam menjalankan kebijakan keberlanjutan, termasuk Nol Deforestasi, yang telah menjadi bagian dari operasional perusahaan sejak 2015.
Informasi iklim memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan masyarakat.
Faktor-faktor ini berdampak pada banyak spesies yang hidup di habitat berpasir, mengurangi kesempatan bagi sektor pariwisata dan perikanan, serta meningkatan ancaman
Kolaborasi dengan Indonesia menjadi bukti nyata bahwa aksi iklim yang ambisius dapat berjalan seiring dengan kemajuan ekonomi.
Bangunan berperan besar dalam isu perubahan iklim, dengan kontribusi hampir 40% terhadap emisi karbon global.
Penelitian terbaru mengungkap gletser sementara mendinginkan udara sekitarnya, namun efek ini akan puncak dalam dua dekade ke depan.
Lagu tersebut bercerita tentang monster besar yang sesungguhnya adalah senjata pemusnah. Ironinya, senjata itu justru dirakit oleh manusia sendiri.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved