Headline

Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa. 

Pertanian Regeneratif: Strategi Memperkuat Rantai Pasok Kopi di Tengah Krisis Iklim

Basuki Eka Purnama
13/2/2026 22:57
Pertanian Regeneratif: Strategi Memperkuat Rantai Pasok Kopi di Tengah Krisis Iklim
Terarium yang menggambarkan perbaikan kondisi tanah dengan penerapan pertanian regeneratif.(MI/HO)

INDUSTRI kopi nasional kini menghadapi tantangan serius berupa perubahan iklim dan degradasi lahan yang mengancam produktivitas. Menanggapi situasi tersebut, Louis Dreyfus Company (LDC) mulai memosisikan pendekatan pertanian regeneratif sebagai strategi bisnis jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok mereka.

Dalam diskusi media yang digelar di Jakarta, Rabu (12/2), LDC menekankan bahwa pendekatan ini relevan untuk menjawab tantangan di sektor hulu. 

Sebagai perusahaan global yang telah berdiri selama 175 tahun, LDC mengelola sekitar 95 juta ton komoditas per tahun dan menjangkau hampir 500 juta konsumen di seluruh dunia.

“Louis Dreyfus Company adalah perusahaan global yang telah berdiri selama 175 tahun, sebagai pemroses terkemuka, originator, sekaligus pemasok ke pasar tujuan dalam sektor komoditas pertanian. Kami mengirimkan komoditas pertanian kepada hampir 500 juta orang di seluruh dunia, dengan volume sekitar 95 juta ton per tahun, sekaligus menghubungkan pasar asal dan pasar tujuan,” ujar Country Head of Indonesia LDC, Rajat Dutt.

Di Indonesia, LDC telah beroperasi lebih dari 25 tahun. Rajat menjelaskan bahwa pihaknya bekerja erat dengan petani untuk menjaga kualitas tanah melalui Louis Dreyfus Foundation yang menjalankan berbagai proyek pertanian regeneratif.

Fokus pada Kesehatan Tanah

Regional Program Manager Stronger Coffee Initiative LDC, Chintara Diva Tanzil, menjelaskan bahwa pertanian regeneratif adalah pengelolaan holistik yang berbeda dengan konsep keberlanjutan (sustainable) biasa. 

Jika konsep keberlanjutan berfokus menjaga kondisi jangka panjang, maka regeneratif bersifat aktif memperbaiki lahan yang terdegradasi.

“Regenerative agriculture bagi LDC adalah pendekatan pengelolaan pertanian yang tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis, tetapi juga lingkungan dan sosial. Fokus utamanya adalah memulihkan kesehatan tanah, meningkatkan biodiversitas, dan memperkuat ketahanan petani terhadap perubahan iklim,” jelas Chintara.

Melalui Stronger Coffee Initiative, LDC memberikan pendampingan teknis seperti penggunaan tanaman penutup tanah, penerapan pupuk organik, hingga efisiensi irigasi. Chintara menambahkan bahwa tanah yang sehat dengan biodiversitas tinggi adalah fondasi utama budidaya kopi.

Kolaborasi Teknologi dan Mitigasi Risiko

Untuk implementasi lapangan, LDC menggandeng Pandawa Agri Indonesia. CEO Pandawa Agri Indonesia, Kukuh Roxa, menyatakan bahwa inovasi mereka fokus mengurangi ketergantungan pada input kimia tanpa menurunkan hasil panen. Hingga kini, teknologi mereka telah membantu mengurangi lebih dari 5 juta liter pestisida dan sekitar 17.500 ton emisi CO2 di Indonesia dan Malaysia.

Selain intervensi agronomis, LDC juga bekerja sama dengan Blue Marble untuk mengembangkan asuransi berbasis indeks cuaca guna memitigasi risiko iklim. Teknologi ini memanfaatkan data satelit sehingga klaim dapat cair otomatis tanpa verifikasi lapangan yang rumit.

Manfaat ini dirasakan langsung oleh Solihin, petani kopi di Lampung Utara. Ia mengaku penggunaan pestisida kimianya berkurang hingga 50% dan telah menerima klaim asuransi saat cuaca ekstrem merusak hasil panennya. 

Bagi LDC, integrasi praktik regeneratif dan perlindungan risiko ini bukan sekadar inisiatif lingkungan, melainkan investasi bisnis strategis untuk meningkatkan daya saing kopi Indonesia di pasar global. (Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya